Selama tiga tahun tinggal di Jakarta, saya hampir tidak pernah menemukan rumah yang memiliki teras depan yang luas seperti di Madura. Jangankan teras depan, bahkan serambi atau teras dalamnya pun rata-rata berukuran kecil. Maklum, harga tanah di Jakarta memang bukan main mahalnya.
Berbeda dengan rumah-rumah di Madura. Rata-rata rumah di sana memiliki teras depan yang luas dan memanjang. Bahkan, banyak yang didesain berbentuk huruf L sehingga area depan rumah terasa lebih lega. Kalau dipikir-pikir, rumah-rumah di daerah lain di Jawa Timur juga tidak banyak yang punya teras seluas itu.
Kalau orang luar melihatnya, mungkin akan bertanya-tanya, “Buat apa bikin teras selebar itu?”. Padahal, orang Madura membangun rumah dengan teras yang luas bukan tanpa alasan. Inilah alasan kenapa rumah-rumah di Madura memiliki teras depan yang luas dan panjang.
#1 Tempat arisan atau hajatan
Orang Madura memiliki budaya kompolan (arisan) yang sangat kuat. Arisan di Madura bukan sekadar kegiatan mengumpulkan uang lalu mengundinya, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi, bersalawat, tahlilan, pengajian, hingga ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga.
Jenis kompolan pun bermacam-macam. Ada kompolan ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek, pemuda, hingga kompolan organisasi kemasyarakatan (ormas). Kegiatan seperti ini biasanya bergiliran dari rumah ke rumah dan rutin setiap minggu. Pesertanya pun tidak sedikit, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan orang.
Begitu pula dengan hajatan. Orang Madura gemar sekali mengadakan acara yang mengundang banyak kerabat dan tetangga. Dalam sehari, kita bahkan bisa datang ke dua atau tiga hajatan yang berbeda.
Kalau teras depan dan serambi rumah sempit, tentu akan kesulitan menampung banyak tamu. Jadi, punya teras yang luas bisa dibilang sudah menjadi kebutuhan.
#2 Tempat menjemur jagung dan hasil panen orang Madura
Jagung merupakan makanan pokok di Madura. Setiap harinya, kami lebih sering makan nasi jagung bukan nasi putih.
Saat musim panen tiba, jagung dan berbagai hasil bumi lainnya perlu dikeringkan sebelum disimpan atau dijual. Selain di halaman rumah, banyak warga yang memanfaatkan teras depan untuk menjemur hasil panen tersebut.
Menariknya, teras rumah di Madura umumnya tetap mendapat sinar matahari meskipun beratap. Jadi, ketika hujan turun tiba-tiba, pemilik rumah tidak perlu repot-repot memindahkan jagung ke tempat yang lebih aman karena hasil panen tetap terlindungi.
#3 Tempat moy tamoyan orang Madura
Kami gemar sekali moy tamoyan. Kalau dalam bahasa orang kota, mungkin lebih mirip nongkrong sambil ngopi. Bedanya, kalau orang kota sering ngopi di coffee shop atau warung kopi, kami justru lebih sering melakukannya di teras depan rumah.
Misalnya, malam ini si A datang ke rumah si B. Besok malam, gantian si B yang datang ke rumah si A. Tujuannya sebenarnya bukan sekadar minum kopi, melainkan berbagi cerita tentang banyak hal.
Moy tamoyan juga jarang di ruang tamu. Orang Madura lebih suka duduk di teras depan karena suasananya lebih santai dan terbuka. Sambil menyeruput kopi, menikmati angin malam, dan sesekali menyalakan rokok. Obrolan bisa berlangsung berjam-jam.
BACA JUGA: 4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan
#4 Tempat anak-anak bermain
Dulu, sebelum ada gadget dan media sosial, teras depan adalah tempat anak-anak bermain. Main congklak, bekel, kartu, lompat tali atau sekadar lari-larian. Orang tua pun bisa mengawasi mereka sambil duduk santai di teras.
Bahkan, tidak jarang teras sebuah rumah menjadi tempat berkumpul anak-anak satu kampung. Hari ini mereka bermain di rumah si A, besok pindah ke rumah si B. Yang punya rumah pun biasanya tidak keberatan. Malah, rumah yang sepi suara anak-anak bermain kadang terasa ada yang kurang.
Teras depan rumah orang Madura bukan sekadar pelengkap bangunan, melainkan ruang sosial. Di sanalah orang berkumpul, bercanda, bekerja, bermain, hingga menjaga silaturahmi.
Urusan menerima tamu secara lebih formal bisa dilakukan di serambi atau teras dalam. Itulah sebabnya rumah-rumah di Madura identik dengan teras depan yang luas dan panjang.
Penulis: Elyatul Muawanah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Suka Duka Tinggal di Rumah Adat Madura Taneyan Lanjhang yang Masih Lestari Sampai Saat Ini
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
