Bagi para wisatawan dan siapa pun yang membaca tulisan ini, mari kita luruskan satu hal. Berhentilah menyebut Lembang sebagai bagian dari Kota Bandung. Selain salah alamat secara administratif, menganggap daerah ini bebas banjir hanya karena berada di ketinggian adalah sebuah kenaifan. Mari kita bicara jujur soal realita Lembang yang selama ini kerap tertutup indahnya brosur wisata dan polesan filter Instagram wisatawan.
#1 Salah alamat Lembang sering dikira dari Kota Bandung, padahal aslinya berada di Kabupaten Bandung Barat (KBB)
Banyak wisatawan terutama dari Jabodetabek, yang jika ditanya mau liburan ke mana, jawaban mereka kompak, “Mau ke Bandung, mau ke Lembang.” Bahkan saudara saya dari Tangerang pun masih sering salah kaprah seperti ini.
Ingat, perlu dicatat baik-baik, ya. Secara administratif, Lembang sama sekali bukan bagian Kota Bandung dan tidak ada urusannya dengan Pemerintah Kota Bandung. Daerah ini adalah bagian dari Kabupaten Bandung Barat (KBB), titik. Hanya karena berbatasan langsung melalui Jalan Setiabudi dengan Kota Bandung, bukan berarti Lembang milik Kota Bandung.
Baca juga: Orang Bandung Lebih Senang Berwisata ke Ciater, Subang daripada Lembang.
Jika Anda sedang liburan dan ingin komplain jalanan macet di sini kepada Wali Kota Bandung, itu jelas salah alamat atuh. Mengaku Lembang sebagai Bandung itu ibarat tinggal di Bekasi tapi mengaku orang Jakarta hanya demi terlihat keren saja.
#2 Branding salah menimbulkan kebingungan warlok dan wisatawan
Inilah yang sering membuat wisatawan tersesat dalam persepsi. Begitu kuatnya daya tarik/branding nama Lembang, banyak tempat wisata di daerah tetangga yang meminjam nama besarnya demi kepentingan promosi. Saya sebelumnya pernah menulis 8 Tempat Wisata yang Sering Dikira Berada di Lembang, padahal Bukan.
Mulai dari destinasi di Jalan Setiabudi ke atas (yang sebenarnya masuk ke Kota Bandung), wilayah Cimenyan (yang masuk Kabupaten Bandung), hingga Kecamatan Parongpong dan Cisarua (Kabupaten Bandung Barat), semuanya sering kali di-branding sebagai wisata dari Lembang.
Padahal jika kita buka Google Maps dengan teliti, lokasi yang disebutkan tadi sudah masuk wilayah yang berbeda. Saking kuatnya branding ini, tempat yang berjarak dua jam dari pusat Lembang pun tetap akan dipanggil Lembang demi menarik minat pengunjung para wisatawan.
Baca juga: Bandung Terbuat dari Tumpukan Kebohongan, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini.
#3 Mitos berada di dataran tinggi pasti bebas bencana banjir
Dua kata yang terdengar lucu dan sangat ironis, “Lembang Banjir”.
Para wisatawan sering berasumsi bahwa daerah yang berada di ketinggian 1.200 hingga 1.400 mdpl ini mustahil terendam banjir. Padahal di musim penghujan seperti sekarang daerah ini sering dilanda banjir Cileuncang yang parah.
Tersangka utamanya jelas alih fungsi lahan besar-besaran yang tak terkendali. Hutan, kebun, dan sawah kini berubah wujud menjadi deretan vila, hotel, resto, dan tempat wisata. Betonisasi massal telah menghilangkan daya serap tanah, diperparah dengan sistem drainase yang buruk.
Jangan kaget jika saat Anda sedang asyik menikmati hawa dingin, tiba-tiba kaki Anda terendam air cokelat yang numpang lewat
Itulah kebohongan tentang Lembang yang perlu diluruskan. Branding wisata tentang daerah ini boleh kuat, tapi fakta administratif dan realita lingkungan jangan sampai dilupakan.
Menghargai Lembang berarti mengenalinya seluk beluknya dengan benar, bukan sekadar menjadikannya bahan pamer untuk tren di media sosial saja. Sekali lagi, Lembang adalah Kabupaten Bandung Barat, bukan Kota Bandung dan daerah ini tidak bebas bencana banjir.
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Alasan Orang Bandung Menghindari Plesir ke Lembang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
