3 Buku Jurnalistik untuk Kamu yang sedang Belajar – Terminal Mojok

3 Buku Jurnalistik untuk Kamu yang sedang Belajar

Artikel

Saya pertama kali belajar jurnalisme di pers mahasiswa kampus saya, LPM Sketsa, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bagi saya, belajar jurnalisme sangat penting. Bukan cuma untuk praktisi atau akademisi saja, tapi juga bagi masyarakat yang selalu mengonsumsi informasi dari media massa. Belajar jurnalisme membantu kita memilah mana informasi yang valid dan yang tidak, serta membantu kita mengawasi kerja pers.

Di kalangan insan pers, pelajaran tentang prinsip jurnalisme umumnya dimulai dari buku klasik Elemen-elemen Jurnalisme karangan jurnalis Amerika Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Namun, ada juga buku referensi lain yang ditulis pengarang Indonesia yang relatif lebih mudah dicerna. Buat kamu yang sedang belajar jurnalisme, berikut tiga buku jurnalistik rekomendasi saya.

Buku jurnalistik #1 Jurnalisme Dasar, Luwi Ishwara

Ketika dulu saya masih bergiat di persma saya, buku ini malah jadi bacaan wajib calon anggota Sketsa. Bisa dibilang buku ini secara lengkap membahas hal-hal mendasar tentang jurnalisme.

Bagian pendahuluan buku ini mendedah bagaimana ciri jurnalisme dan ulasan ringkas tentang intisari dari sembilan elemen jurnalisme Kovach- Rosenstiel. Sejarah perkembangan jurnalisme di berbagai belahan dunia pun secara runut diulas dalam buku ini.

Bagi Luwi Ishwara, salah satu ciri khas jurnalisme yang utama adalah skeptis. Sikap skeptis (bukan sikap sinis) wajib dimiliki oleh wartawan sebagai praktisi jurnalistik. Skeptis yang dimaksud Luwi adalah sikap selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Intinya, sikap skeptis adalah keraguan yang bikin orang bertanya, mencari, sampai memperoleh kebenaran.

Nah, dari sikap skeptis itulah sebagai titik mula agar wartawan senantiasa mengecek kebenaran dari informasi yang ia terima, atau dalam bahasa lain, melakukan verifikasi. Apalagi disiplin verifikasi ini, sebagai salah satu elemen jurnalisme, merupakan esensi jurnalisme. Skeptis inilah yang menjadi tagline buku ini: hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat hidup.

Selain itu, buku ini juga mengulik bagaimana cara kerja wartawan. Juga mengupas secara detail apa itu berita dan nilai berita, apa saja sumber berita, sampai soal bagaimana cara menulis berita.

Tapi buku ini lebih memfokuskan pada penulisan berita jenis straight news/hard news atau berita lempang (dengan struktur piramida terbalik). Sementara untuk penulisan berita jenis lain seperti feature, hanya sedikit disinggung. Meski begitu, secara keseluruhan, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk belajar hal-hal mendasar seputar kaidah jurnalistik.

Buku jurnalistik #2 ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme, Andreas Harsono

Merupakan antologi tulisan jurnalis senior Andreas Harsono yang sudah pernah terbit di blog-nya. Tulisan-tulisan dalam buku ini, bagi saya, secara keseluruhan membahas kaidah jurnalistik baik pada tataran teoretis maupun praktis. Buku ini bisa dibilang versi lebih padat namun ringkas—sekaligus melengkapi apa yang tak ada—buku Jurnalisme Dasar Luwi.

Banyak tulisan Andreas di dalamnya yang merupakan kritik terhadap praktik jurnalisme media-media di Indonesia. Contohnya, topik tentang penulisan byline dan tagline, atau topik pagar api dalam produk jurnalistik, yang masih amat jarang diterapkan media-media Indonesia.

Lalu juga kritik atas luputnya media mainstream meliput isu-isu daerah (dalam “Bagaimana Meliput Pontianak?”). Dalam “‘Asingdi Tanah Acheh, ia membicarakan bagaimana media mempolitisasi isu kemanusiaan sebatas menjadi isu nasionalisme yang sempit.

Yang menarik dari buku ini adalah beragam topik tulisan dikelompokkan ke beberapa tema besar, yakni laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan. Pembaca jadi lebih mudah menentukan dia ingin memperhatikan tema yang mana dulu. Dan karena ini buku antologi, kita bisa bebas membaca tulisan mana dulu, tanpa khawatir jadi bingung. Semua tulisannya pun bernas, ringkas namun padat.

Oh ya, ada pernyataan Andreas yang penting dalam bukunya. Pada intinya Andreas percaya, jika jurnalisme di suatu masyarakat bermutu, kehidupan masyarakatnya akan bermutu pula.

Buku jurnalistik #3 Seandainya Saya Wartawan Tempo, Goenawan Mohamad

Kalau cara penulisan berita berstruktur piramida terbalik (straight news) dikulik dalam bukunya Luwi tadi, fokus buku Seandainya Saya Wartawan Tempo adalah karya jurnalistik jenis feature. Buku ini bagi saya betulan mencerahkan buat mengerti cara menulis feature berkisah.

Dulu, gaya penulisan feature ini memang jarang dipakai wartawan dalam pemberitaan media. Bisa dibilang, Majalah Tempo-lah yang memelopori berita bergaya feature di Indonesia.

Secara ringkas, ada poin plus dari berita feature ketimbang berita lempang, yakni dari segi keawetan dan keragaman angle yang diangkat. Jika isu yang disajikan dengan bentuk straight news bisa cepat basi, karakter feature adalah timeless. Feature mendalam juga bisa dipakai untuk memotret masalah yang sulit atau jadi bisa diwadahi berita lempang.

Pada dasarnya, struktur feature terdiri dari tiga bagian: lead (pembuka), tubuh, dan ekor. Dalam buku ini, Goenawan membagikan resep di Majalah Tempo ketika meracik sebuah feature. Contohnya, bagaimana mengail pembaca dengan sebuah lead yang memancing. Menulis lead pun banyak macamnya seperti: summary lead, descriptive lead, quotation lead, bahkan freak lead. Juga bagaimana menutup tulisan dengan ekor yang mengesankan. Goenawan mengingatkan betapa pentingnya transisi sebagai perekat antarbagian tulisan agar feature yang ditulis menjadi sebuah “bangunan cerita” yang utuh.

Buku ini pun menyajikan beragam tips soal teknis penulisan (misalnya tips agar feature ditulis dengan alinea pendek), apa saja hal yang perlu disiapkan sebelum menulis feature, sampai bagaimana cara mencari ide liputan feature.

Atau juga tips untuk tulisan feature yang panjang, yakni dengan membuat outline sebelum menulis. Resep outline ini kemudian dipakai Sketsa ketika melaporkan berita panjang. Outline sangat berguna agar dalam penulisan berita menjadi tersistematis dan bahasannya tidak melebar.

Secara keseluruhan, buku ini sangat praktis seolah sedang menunjukkan langsung bagaimana praktik menulis feature. Apalagi Goenawan menyajikan buku ini dengan bahasa yang mengalir, sangat mudah dicerna serta tak ada rasa capek membacanya.

BACA JUGA Mojok Adalah Media yang Sangat Tidak Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan tulisan Emerald Magma Audha lainnya.

Baca Juga:  3 Buku yang Harusnya Disita karena Berbahaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.