Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson Melawan Orde Bau

Gde Dwitya oleh Gde Dwitya
29 April 2020
A A
maksud politik jahat ben anderson joss wibisono review resensi gde dwitya arief metera mojok

maksud politik jahat ben anderson joss wibisono review resensi gde dwitya arief metera mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson Tentang Bahasa dan Kuasa
Joss Wibisono
Tanda Baca, 2020
xiv+142 halaman

Ben Anderson, sang sarjana ahli Indonesia dan Asia Tenggara itu, biasanya dikenal di Indonesia karena tiga karya penting. Pertama tentu saja karena Cornell Paper, yang membahas soal konflik internal di dalam Angkatan Darat dan kaitannya dengan gerakan 30 September 1965. Kedua, karena disertasinya yang menulis peran pemuda dan pemudaisme dalam revolusi Indonesia. Dan ketiga, karena buku teoretisnya soal asal-usul rasa kebangsaan: Imagined Communities. Ketiga karya besar ini secara garis besar adalah karya ilmu politik yang membahas topik lumrah dalam disiplin tersebut: konflik, ideologi, dan nasionalisme.

ADVERTISEMENT

Buku Joss Wibisono yang berjudul Maksud Politik Jahat ini, sebaliknya, ingin mengajak anda pembaca untuk melihat Ben Anderson sebagai pemerhati bahasa dan politik kebahasaan. Pokok ini tampaknya kurang mendapat perhatian para pembaca karya-karya Anderson. Bahkan seorang murid Ben sendiri dalam reviewnya soal karya kesarjanaan sang guru pernah luput menekankan karya-karya Ben yang membahas bahasa dan politik bahasa (lihat diskusi Joss Wibisono di halaman 21-22).

Perhatian Ben Anderson pada bahasa ini serius betul dan tidak main-main. Tidak hanya memperhatikan penggunaan bahasa suatu negara sebagai fokus analisis politik, Ben juga memahami tindakan berbahasa itu sendiri sebagai suatu tindakan politik.

Ben, sebagai misal, dalam berbahasa Indonesia menolak menggunakan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang diberlakukan semenjak 1972 dan menggunakan ejaan Suwandi sebagai gantinya. Ben tampaknya ingin melawan politik bahasa Orde Baru—atau ‘orde bau’ merunut Joss—yang menginginkan generasi muda untuk melupakan sejarah bangsa sendiri lewat ketidakmampuan membaca karya pra-1972.

Joss mengulas dengan memikat ihwal-muasal sikap Ben yang berkeras menggunakan ejaan Suwandi tersebut. Bahkan Joss dengan jeli memperhatikan bahwa penggunaan ejaan Suwandi oleh Ben sangat tergantung pada dekat-jauhnya doi dengan Indonesia. Ben lebih intens menggunakan ejaan Suwandi ketika sedang berada dekat dengan Indonesia di mana ia bisa melihat dengan mata kepala sendiri hasil kelancungan Orde Baru memanipulasi bahasa (lihat Joss hal. 26).

Kejelian Joss adalah alasan anda harus membaca Maksud Politik Jahat. Joss di buku ini tidak hanya jeli dalam mengulas Ben Anderson dan karyanya tentang politik bahasa. Namun Joss juga adalah seorang virtuoso dalam menuliskan ulasan tersebut.

Lihatlah bagaimana Joss menuliskan Orde Baru dengan frasa ‘harto orde bau’ lewat huruf kecil. Sementara ‘Bung Karno’ ia tulis tetap bersetia dengan kapitalisasi. Ia juga sempat-sempatnya mengejek kemiskinan tata bahasa Soeharto dengan memparodikan penggunaan kata ‘daripada’ yang sering Soeharto gunakan dalam pidatonya (lihat Joss hal.37).

Baca Juga:

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

Lewat guratan pena Joss, ‘harto dan orde bau’ nya habis dikuliti. Dalam ejaan Suwandi lagi. Nikmat betul.

Tak berhenti sampai di situ. Buku ini juga berpotensi berdampak sistemik, massif, dan terstruktur bagi pembacanya. Pembaca mungkin sekali jadi ujug-ujug tersadar akan bahasa yang mereka gunakan dan mampu berpikir kritis tentangnya.

Dengan mengulas Ben sang pemerhati bahasa, Joss dengan tidak langsung juga menggugah imajinasi kritis para calon pembaca.

Joss, misalnya, dengan memikat bercerita soal Ben yang menganalisis politik kesusasteraan Nobel dan bagaimana kualitas terjemahan karya sastra mempengaruhi keputusan para juri. Khusus untuk karya sastra Indonesia, Ben merasa kualitas terjemahan dari karya-karya Pram membuat sejumlah karya tersebut tidak muncul maksimal dalam bahasa Inggris (lihat Joss hal.54-58).

Saya bayangkan nanti anak muda jadi bisa menggugat—sebagaimana Ben dan Joss lakukan—terjemahan surat-surat Kartini yang terlanjur jadi ‘habis gelap terbitlah terang’ padahal ada makna yang selip dari frasa aslinya dalam bahasa Belanda ‘door duisternis tot licht’ (lihat Joss hal.98-99).

Anak muda juga nanti malah kepingin berbahasa asing lain selain bahasa Inggris-Amerika, dan tidak bangga lagi keminggris. Keminggris menurut Joss adalah tanda-tanda pengetahuan yang cethek akibat hanya baca khasanah intelektual Anglo-Saxon (lihat Joss hal. 36-37).

Ingat, para bung pendiri bangsa ini dari Sjahrir, Malaka, Hatta, sampai Kusno semua bisa berbahasa asing lain selain bahasa Inggris.

Singkatnya, kita anak muda diajak mengingat Ben Anderson yang mencintai bahasa—Ben menguasai hampir selusin bahasa asing—dan memperhatikan politik kebahasaan.

Ben mungkin sudah swargi, tapi kita semua masih punya Joss Wibisono. Anak muda harus baca buku ini agar sadar berbahasa dan tak terpedaya kelancungan politik bahasa orde bau.

Cingcai, meneer!

BACA JUGA Jokowi dan Memori Orde Baru yang Masih Membekas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2022 oleh

Tags: ben andersonBukujoss wibisonomaksud politik jahatorde baruresensi
Gde Dwitya

Gde Dwitya

ArtikelTerkait

Mengenalkan Anak Pada Buku Sebagai Kesenangan Ala Eka Kurniawan

Mengenalkan Anak pada Buku Sebagai Kesenangan ala Eka Kurniawan

10 Desember 2019
Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya Mojok.co

Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya

17 Juli 2024
statistik indonesia

Statistik Indonesia, Buku Terbitan Pemerintah yang Wajib Dimiliki Peneliti dan Penulis

22 Desember 2021
Guru dan Siswa Nggak Sempat Baca Buku: Guru Diburu Berkas, Siswa Diburu Tugas

Guru dan Siswa Nggak Sempat Baca Buku: Guru Diburu Berkas, Siswa Diburu Tugas, Literasi Kandas

16 April 2024
ada apa dengan cinta film indonesia 2000an maskulinitas gender nicholas saputra foto mojok, istri nicholas saputra

3 Film Indonesia Tahun 2000-an yang Menggugat Maskulinitas ala Generasi Baby Boomer

29 April 2020
rekomendasi bacaan buku islami ramadan bagus recommended terbaik hijrah surga kisah sufi abu nawas kalis mardiasih esty dyah imaniar rusdi mathari mojok

Rekomendasi Bacaan Ramadan yang Ditulis dengan Ringan dan Enak Dibaca

2 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026
Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya Mojok.co

Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya

30 Juni 2026
Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

28 Juni 2026
Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

29 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026
Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera Mojok.co

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

28 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.