Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

2 Macam Mahasiswa Tingkat Akhir dalam Menghadapi Kebijakan Wisuda

H.R. Nawawi oleh H.R. Nawawi
17 Juli 2020
A A
kapan wisuda lulus mahasiswa tingkat akhir wisuda mojok

lulus mahasiswa tingkat akhir wisuda mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Dari sejak awal masuk dunia pendidikan, dalam hal ini sekolah formal, wisuda adalah perkara paling penting ketimbang selembar ijazah yang dibungkus map rapi berisi lembaran-lembaran nilai, tak terkecuali untuk mahasiswa tingkat akhir banget. Itulah yang setidaknya saya rasakan. Namun ketika menginjak perguruan tinggi, di mana semua hal dipertanyakan secara radikal, bahkan keberadaan Tuhan juga kena sasaran, peristiwa wisuda pun mau tidak mau terkena pertanyaan macam begini: seberapa penting prosesi wisuda itu?

Perlu diketahui, prosesi wisuda itu maha penting bagi mahasiswa yang lancar-lancar saja masa studinya. Tidak bisa tidak, baju kebesaran wisuda dan toga itu wujud keberhasilan masa studi strata satu, sebagai sarjana. Tapi golongan mereka hari ini, harus menahan keinginan itu, pandemi memang sial, tapi egois untuk tetap ingin ada wisuda secara langsung jauh lebih tampak bodoh dan tolol.

Tapi bila prosesi wisuda itu dipertanyakan kepada mahasiswa tingkat akhir yang kuliahnya sampai los tujuh tahun, mentok banget masa studinya, maka paling tidak, ada dua tipe yang bisa digolongkan.

Pertama, mahasiswa tingkat akhir yang masuk golongan bayar wisuda tapi tidak berangkat ke lokasi wisuda. Bagi mereka yang kuliah sudah tujuh tahun lamanya, atau bahkan sampai delapan tahun karena mengambil dua kali cuti, mahasiswa-mahasiswa macam mereka lebih nyaman untuk tidak datang pada prosesi wisuda karena beberapa perkara. Perkara yang dimaksud seperti ribet, ngabis-ngabisin biaya keluarga di kampung, males foto-foto, dan wisuda hanya kebahagiaan semu. Singkat kata, mereka sudah merasa beruntung dengan predikat lulus dari kampus, bukan lolos.

Namun karena pandemi covid-19 masih menyebar di banyak tempat, kampus memilih untuk tidak melakukan prosesi wisuda seperti biasanya. Memang masih ada kampus yang ngotot melakukan prosesi wisuda dengan teknis ‘drive thru’ macam layanan kedai cepat saji, atau lewat online. Tapi bagi mahasiswa tingkat akhir yang usianya nyaris sewindu di kampus, inilah saatnya ‘bersikap bodo amat’ pada momen wisuda.

“Sing penting lulus,” kata salah satu temanku. “terus entuk ijazah.”

Banyak dari golongan pertama ini merasa beruntung dengan situasi sekarang. Belum lagi prosedural dan regulasi tugas akhir semakin ringan dijinjing. Meski perlu diakui fakta di lapangan beberapa mahasiswa golongan ini juga kedodoran beradaptasi. Paling tidak, kebijakan kampus untuk meniadakan acara wisuda adalah kebahagiaan sempurna tiada banding. Artinya tak tanggung-tanggung, lulus dimudahkan, prosesi wisuda ditiadakan.

Dan untuk golongan kedua adalah mereka-mereka yang merasa sial karena tak ada wisuda. Bukan apa-apa atau gimana-gimana, bagi golongan kedua menganggap wisuda adalah satu-satunya peristiwa yang paling bisa dibanggakan di depan orangtua dan sanak saudara. Kuliah suwe-suwe mosok ra enek wisudane. Barangkali itu kalimat yang bisa menggambarkan kondisi batin mereka sementara ini, selebihnya untuk kepentingan akun media sosial pribadinya.

Baca Juga:

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

Penjelasan kenapa mahasiswa tingkat akhir yang sudah lama banget di kampus masih punya kebutuhan untuk unggah foto wisuda di media sosial, kurang lebih, karena rata-rata mahasiswa yang kuliahnya lama berbanding lurus dengan relasi pertemanan yang luas. Bisa jadi mereka tidak lulus cepat karena memiliki keperluan untuk mengawal adik-adik tingkat di organisasi atau di komunitas. Jangan salah kira, bagi mereka pengkaderan adalah harga mati. Kesimpulannya pada titik ini, mereka tahu bahwa nikmat yang berlipat-lipat adalah pengakuan banyak orang dari generasi ke generasi, versi singkatnya, dianggap senior yang happy ending.

Bila ditelusuri memang tidak semua orang yang kuliah sampai tujuh tahun bisa berakhir baik-baik. Banyak juga dari mereka yang pindah kampus atau memilih tidak lanjut studi. Maka dari itu, keberhasilan mereka patut untuk dihargai dengan seremoni. Foto wisuda, setidaknya, adalah penanda keberhasilan mereka melawan ujian hidup.

Karena ditiadakannya wisuda, banyak kegundahan yang tiba-tiba melanda. “Bagaimana perasaan orangtua, kerabat-kerabat, dan juga para follower Instagramku?”. Saya kira benak mereka berkata begitu. Tapi yang keluar lebih banyak kalimat keluh macam begini, “wes suwe leh aku kuliah, ujung-ujunge wisudane online, ra seru, a*u ogh.”

“opo melu wisuda periode selanjute wae, yo?” tambahnya.

Tanpa menjawab pertanyaannya sendiri, roman wajah temanku yang masuk kategori tipe kedua itu berubah menjadi riang gembira. Senyum-senyum sendiri membayangkan prosesi wisuda yang entah kapan. Dan saya, junior mereka, hanya dapat mengangguk dan menyimpan rasa iba juga haru dalam-dalam.

BACA JUGA Perihal Cinta Kita Nggak Ke Mana-mana, Masih di FTV Aja dan tulisan H.R. Nawawi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2022 oleh

Tags: Mahasiswa Tingkat Akhirpandemiwisuda
H.R. Nawawi

H.R. Nawawi

Jika di dunia hanya ada dua pilihan antara riang dan menangis. Saya memilih menangis. Kehampaan.

ArtikelTerkait

5 Kemungkinan yang Bikin Pak Jokowi Nggak Turun Langsung Pimpin Penanganan Covid-19 terminal mojok.co

5 Kemungkinan yang Bikin Pak Jokowi Nggak Turun Langsung Pimpin Penanganan Covid-19

17 Juli 2021
hal lucu yang tak sengaja guru lihat saat kelas daring pjj wabah corona mojok.co

Belajar di Masa Pandemi: Guru Lembur, Siswa Kabur

27 Oktober 2020
Pemerintah yang Gagal Kendalikan Pandemi, kok, Malah Rakyatnya yang Disalahin? terminal mojok.co

Pemerintah yang Gagal Kendalikan Pandemi, kok, Malah Rakyatnya yang Disalahin?

8 Juli 2021
Surat untuk Pejuang Wisuda LDR 2020: Tenang, Kalian Tidak Perlu Sedih

Surat untuk Pejuang Wisuda LDR 2020: Tenang, Kalian Tidak Perlu Sedih

8 Juni 2020
virus corona masker sampah kesehatan bekas pakai operasi masker mojok.co

Bagi Saya, Operasi Masker Itu Sangat Tidak Efektif

7 Oktober 2020
Survei bahwa Orang Tua Setuju Sekolah Tatap Muka Hasilnya Tinggi, kok Bisa? terminal mojok.co

Survei bahwa Orang Tua Setuju Sekolah Tatap Muka Hasilnya Tinggi, kok Bisa?

5 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

7 Mei 2026
Sisi Gelap Gamping Sleman yang Jarang Dibicarakan Orang

Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya

7 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.