Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ilustrasi Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Hari ini saya buat Dubai chewy cookie. Biasanya pakai marshmallow, tapi karena saya tidak punya, saya ganti kimpul. Jadi, kimpul chewy cookie.” 

Melalui akun @black.sheep8208 konten kreator asal Bantul ini selalu menyebut bahwa bahan baku utamanya tidak ada sehingga ia menggantinya dengan kimpul. 

Di konten-kontennya, ia mengolah kimpul menjadi berbagai makanan. Ada dumpling, perkedel, camilan, sampai kimpul yang diperlakukan seperti mashed potato.

Kimpul sendiri meurpakan jenis tanaman umbi-umbian lokal dari keluarga talas-talasan (Araceae) yang sering disebut juga sebagai talas belitung. Umbi ini kaya akan karbohidrat kompleks, serat, dan bebas gluten, sehingga sering dijadikan sebagai alternatif pengganti nasi atau sumber pangan lokal.

Kreasinya membuat banyak orang penasaran. Sebagian bahkan baru mengetahui bahwa umbi bernama kimpul benar-benar ada dan dapat dimakan. Warganet kemudian menjulukinya dengan berbagai julukan, mulai dari Ibu Kimpul hingga “Duta Ketahanan Pangan”. Julukan itu mungkin terdengar berlebihan. 

Namun, ada sesuatu yang layak dipikirkan dari fenomena tersebut. Tanpa seminar, spanduk, maupun jargon program pemerintah, seorang kreator dari Bantul bernama asli Ibu Tin ini berhasil membuka mata masyarakat bahwa sumber pangan bukan hanya beras. 

Ibu Kimpul menyadarkan kembali tentang pentingnya ketahanan dan keragaman pangan lokal

Kampanye soal keragaman bahan pangan mungkin sudah banyak dilakukan, tapi kemunculan Ibu Kimpul ini jadi fenomena sendiri. Masyarakat seperti disadarkan kembali pangan altertnatif selain beras.

Tentu saja, kemunculan kimpul tidak lantas berarti kita semua harus berhenti makan nasi. Tidak semua orang memiliki akses terhadap kimpul. Tidak semua daerah cocok untuk menanamnya. Selera dan kebutuhan gizi setiap orang pun berbeda.

Menjadikan kimpul sebagai satu-satunya jawaban justru akan mengulang kesalahan yang sama ketika negara menjadikan beras sebagai ukuran utama ketahanan pangan.

Pesan terpenting dari fenomena tersebut bukanlah ajakan agar seluruh masyarakat Indonesia makan kimpul. Pesannya jauh lebih sederhana: makanlah apa yang tersedia dan dapat tumbuh dengan baik di sekitar kita.

Di satu wilayah, makanan itu mungkin kimpul. Di wilayah lain, masyarakat mempunyai jagung, singkong, sagu, sorgum, ubi jalar, pisang, atau sukun. Indonesia memiliki keragaman geografis, iklim, dan kebudayaan pangan. Karena itu, agak aneh apabila ketahanan pangan untuk seluruh wilayah selalu diukur menggunakan satu bahan makanan yang sama.

Ketahanan pangan terlalu lama disamakan dengan beras

Selama ini, pembicaraan tentang pangan hampir selalu berakhir pada beras. Pemerintah membicarakan luas sawah, jumlah produksi padi, harga gabah, cadangan beras, bantuan beras, dan perlu atau tidaknya membuka keran impor.

Beras memang penting. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsinya setiap hari. Akan tetapi, ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu komoditas membuat sistem pangan kita rapuh.

Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024 yang dikutip Badan Pangan Nasional, konsumsi beras di Indonesia mencapai sekitar 92 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut jauh meninggalkan singkong yang hanya 8,5 kilogram, ubi jalar 3,1 kilogram, kentang 2,5 kilogram, dan sagu 0,6 kilogram per kapita per tahun.

Ketimpangan tersebut tidak muncul begitu saja. Selama puluhan tahun, beras bukan hanya dijadikan makanan pokok, tetapi juga ukuran kesejahteraan. Orang dianggap belum makan apabila belum menyentuh nasi. 

Sementara itu, jagung, singkong, sagu, dan umbi-umbian ditempatkan sebagai makanan darurat, makanan orang miskin, atau sekadar camilan pengganjal perut.

Cara pandang seperti itulah yang perlahan menyingkirkan pangan lokal dari meja makan. Bersamaan dengan itu, hilang pula pengetahuan tentang cara menanam, memilih, menyimpan, dan mengolahnya.

Kimpul dan pangan lokal bisa diolah jadi menu kekinian

Bu Tin melaliu akun TikTok dan Instagramnya tersebut melakukan satu hal yang sering gagal dilakukan kampanye pemerintah: membuat pangan lokal terlihat menarik.

Ia tidak meminta orang memakan kimpul hanya karena umbi tersebut merupakan warisan leluhur. Ia menunjukkan bahwa kimpul dapat diolah mengikuti selera masa kini. 

Pangan lokal tidak harus selalu disajikan dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu. Ia dapat bertemu dengan resep baru tanpa kehilangan identitas maupun manfaatnya.

Namun, popularitas di media sosial tidak otomatis membuat kimpul menjadi bagian dari sistem pangan yang kuat. Hari ini kimpul viral, tetapi beberapa minggu lagi perhatian publik dapat berpindah kepada bahan makanan lain.

Karena itu, pemerintah tidak cukup sekadar ikut mengunggah konten, memberikan penghargaan, atau menjadikan kimpul sebagai menu seremonial dalam acara resmi. Diversifikasi pangan membutuhkan dukungan yang jauh lebih serius.

Masyarakat memerlukan bibit, lahan, pengetahuan budidaya, panduan pengolahan yang aman, kepastian pasar, dan harga yang menguntungkan petani. Pelaku usaha juga membutuhkan dukungan agar pangan lokal dapat diolah, dikemas, dan dipasarkan tanpa membuat harganya justru lebih mahal daripada bahan pangan impor.

Jangan sampai masyarakat diminta mencintai pangan lokal, sementara petani yang menanamnya dibiarkan menghadapi pasar sendirian.

Pemerintah tak perlu mencetak sampah dan membuka hutan

Ketahanan pangan bukan sekadar kemampuan negara memenuhi gudang dengan beras. Ketahanan pangan adalah kemampuan masyarakat memperoleh makanan yang cukup, bergizi, terjangkau, dan sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Karena itu, pelajaran dari kimpul sesungguhnya bukan tentang mengganti satu makanan pokok dengan makanan pokok lainnya. Kimpul mengajarkan bahwa setiap daerah perlu kembali mengenali kekayaan pangannya sendiri.

Kita tidak harus makan kimpul. Namun, kita perlu berhenti menganggap bahwa semua orang harus makan bahan pangan yang sama.

Sebab, ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari proyek raksasa, pencetakan sawah, atau pidato tentang swasembada. Kadang-kadang, ia bermula dari seseorang di Bantul yang masuk ke dapur, mengolah umbi yang tumbuh di sekitarnya, lalu mengingatkan kita bahwa makanan sebenarnya tidak pernah jauh dari rumah.

Exit mobile version