MOJOK.COMari pertanyakan ulang istilah Indonesia Timur, sebab itu artinya ada istilah Indonesia Barat dong? Padahal kan tidak.

Apa itu Indonesia Timur? Zona waktu, kultur sosial, kondisi ekonomi, atau wilayah?

Saya mesti minta maaf di paragraf kedua ini, sebab saya akan banyak melontarkan pertanyaan di paragraf selanjutnya.

Sekitar lima tahun terakhir saya mulai terganggu dengan narasi “Indonesia Timur”. Dan saya rasa, kita harus mempertanyakan ulang narasi Indonesia Timur itu, sebab jika ada timur, semestinya ada barat, yaitu Indonesia Barat.

Yang mana itu Indonesia Barat? Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, Pulau Bangka, Pulau Belitung, atau lainnya?

Saya tidak pernah mendengar orang Yogyakarta atau orang Padang menyebut diri atau orang luar menyebut mereka berasal dari Indonesia Barat. Mereka dari Padang. Mereka dari Yogyakarta.

Lain halnya dengan teman-teman saya yang berasal dari Papua atau Sulawesi atau Flores atau Maluku yang selalu disebut sebagai orang yang berasal dari Indonesia Timur. Apa sebabnya?

Saat awal-awal tinggal di Yogyakarta, bila ada yang bertanya asal saya, saya akan menyebut dari Sulawesi Tengah, bukan dari Banggai Laut. Sebab, kabupaten kecil itu baru berdiri dan asing didengar oleh teman-teman saya. Sulawesi Tengah yang beribu kota di Kota Palu.

Sayangnya, Sulawesi Tengah pun masih asing di telinga mereka.

“Far, kamu sebenarnya dari mana sih?”

“Saya dari Sulawesi Tengah.”

“Oh, dari Makassar.”

Makassar. Oh, mantap. Oke.

Mereka kira, semua provinsi di Sulawesi beribukota di Makassar. Saya tidak mempersoalkan ketidaktahuan mereka. Mungkin mahasiswa di Kota Palu kurang rajin melakukan demonstrasi dan gubernur kami kurang bermanuver agar media terus meliput Sulawesi Tengah.

Nama Banggai Laut baru lumayan sering disebut-sebut oleh media nasional pada awal Desember 2020 usai Bupati Banggai Laut ditangkap karena melakukan suap. Itu adalah prestasi yang luar biasa dari bupati kami karena mengangkat nama Banggai Laut di kancah nasional.

Betul. Terlalu luas negara Indonesia sehingga kita sulit mengetahuinya. Banyak yang tidak kita ketahui tentang Papua masa kini, bahkan dengan teknologi informasi yang sudah begitu cepat.

Baca juga:  Membaca Masalah Papua dari Imigran di Tanah Papua

Apalagi di ruang kelas, pengetahuan sejarah di sekolah-sekolah adalah sejarah Jawa, seperti Majapahit. Atau sejarah kerajaan-kerajaan besar lain di pulau lain, misal Sriwijaya dan Samudera Pasai di Sumatera, atau Kutai Kertanegara di Kalimantan. Mengapa orang Papua mesti membaca sejarah Jawa, sedangkan orang Jawa tidak membaca sejarah Papua?

Untuk menutupi itu, maka yang ditampilkan hanya narasi umum, yaitu Indonesia Timur. Dan pada akhirnya, narasi Indonesia Timur menjadi tunggal saat masuk ke telinga mereka. Misal, tentang logat bahasa.

Seolah logat di Makassar dan Ambon itu sama. Aksen Manado dan Bima itu sama. Atau gaya bicara Papua dan Flores sama. Hingga sekarang, masih ada orang yang berkomunikasi dengan saya menggunakan logat Papua, padahal di Banggai, kami tak menggunakan logat Papua. Kami lebih dekat dengan Manado dan Ternate.

Saya sempat tinggal selama tiga tahun di Makassar. Awal tinggal di sana, saya tetap mengalami kekagetan logat bahasa. Walau orang Bugis dan Makassar banyak yang menetap di Banggai, tidak berarti saya langsung paham logat yang dipakai oleh masyarakat Kota Makassar, seperti penggunaan “mi”, “di”, “ma”, “ka”, dan masih banyak lagi yang hanya kami dengar dari pelaut-pelaut yang singgah di kampung saya.

Suatu ketika, saya pernah menegur mentor menulis saya di Yogyakarta yang kerap menggunakan logat Papua kepada saya. Saya beri tahu dia bahwa saya bukan dari Papua dan tidak menggunakan logat Papua dalam kehidupan sehari-hari kami. Saya menegur dia tidak karena saya meremehkan Papua, tetapi saya ingin memberi tahu dia bahwa Indonesia Timur tidak tunggal, logat kami beragam. Bahasa kami banyak.

Atau yang paling kerap diidentikkan kepada orang Indonesia Timur adalah warna kulit yang gelap dan rambutnya yang keriting. Ini aneh, sebab orang Bugis dan Minahasa memiliki warna kulit yang cerah dan rambut lurus.

Apa batasan Indonesia Timur dan yang bukan? Apakah karena zona waktu? Jelas tidak, sebab Sulawesi, Bali, NTB, NTT masuk zona Waktu Indonesia Tengah (WITA), sedangkan Papua dan Maluku masuk Waktu Indonesia Timur (WIT). Toh, juga Kalimantan Timur, Selatan, dan Utara adalah zona WITA, mengapa mereka tidak masuk dalam Indonesia Timur?

Baca juga:  Pergantian Nama Daerah di Indonesia Nggak Sesimpel Ganti Nama di Facebook

Begitu pula dengan sosio-budaya, sangat beda antara Suku Sasak di Lombok dan Suku Balantak di Banggai. Bagaimana dengan kondisi ekonomi yang sama? Coba cek Makassar dan Denpasar, lalu tengok Jayapura dan Sorong. Apakah kondisi ekonomi mereka sama?

Mungkin penyebutan Indonesia Timur ada kaitannya dengan Negara Indonesia Timur, yang didirikan pada 24 Desember 1946 sampai 17 Agustus 1950, meliputi 13 daerah otonomi: Sulawesi Selatan, Minahasa, Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor dan Kepulauan, Maluku Selatan dan Maluku Utara.

Pada saat Republik Indonesia Serikat eksis, ada negara bagian lainnya, seperti Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra Timur, Negara Sumatra Selatan.

Tidak ada Negara Indonesia Barat. Mungkin karena itu sehingga narasi Indonesia Barat tidak santer seperti Indonesia Timur.

Hairus Salim HS, seorang antropolog, mengulas novel Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nesi) di Langgar.co dengan judul “Mengintip Indonesia Lewat Oetimu”.

Dia menulis seperti ini: “Satu lagi yang menarik, bahasa Indonesia gaya orang-orang Indonesia bagian Timur lengkap dengan perumpamaan, istilah, dan pisuhannya juga terasa dalam buku ini. Gaya bahasa Indonesia yang berbeda dengan yang berkembang di Jakarta atau Jawa umumnya.”

Yang bagaimana itu gaya bahasa orang Indonesia Timur? Sekali lagi, itu seakan-akan gaya bahasa NTT dan Mamuju itu sama; logat Bali dan Papua sama; aksen di Lombok dan Ambon juga sama.

Saya rasa mendingan tidak usah sebut Indonesia Timur, tetapi langsung tulis daerah yang jadi latar novel Felix K. Nesi: Pulau Timor. Juga langsung menyebut novelis Faisal Oddang itu dari Wajo. Tidak usah memakai embel-embel “Indonesia Timur”, seperti penulis dari Sumatra dan Jawa yang kalian tidak sematkan Indonesia Barat di belakang mereka.

BACA JUGA Bahaya Sabunisasi di Papua dan tulisan Safar Banggai lainnya.