Rubrik: Pojokan

BNPB Tak Punya Akses Data Corona Secara Menyeluruh dari Kemenkes Adalah Humor Paling Jahat

MOJOK.CO BNPB membuat pengakuan yang mengerikan. Namun, pada saat yang sama, tidak mengejutkan, ketika pemerintah tidak transparan soal data corona.

BNPB mengakui bahwa Kemenkes tak terbuka masalah data tentang corona. Bahkan, BNPB sendiri tidak bisa mengaksesnya. Temuan data yang berbeda antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah membuat BNPB kebingungan dalam menjalani tugasnya.

Ketika mengakses data corona dari pemerintah daerah, kalian akan menemukan data yang bervariasi. Namun, ketika mengakses data pemerintah pusat, kalian akan menemukan data yang aneh karena “terlalu” konsisten.

Ainun Najib, aktivis gerakan Kawal Covid mengungkapkan sebuah pernyataan yang menunjukkan kalau data dari pemerintah pusat itu bau amis betul. Jadi, validitas data corona dari pemerintah sangat bisa dipertanyakan.

Kamu tahu, per hari, “secara konsisten”, ada 100 kasus baru positif corona. Padahal sudah ada 14 laboratorium untuk tes COVID-19 di berbagai daerah. “Kenapa Kemenkes tidak menggunakan hasil tes dari laboratorium daerah mapun dari rapid test pemerintah daerah untuk menjadi angka resmi,” kata Ainun dikutip Tirto.

Data ini menunjukkan seakan-akan, per hari di Indonesia yang positif corona bisa “sangat konsisten”. Jelas, ini sesuatu yang sangat tidak mungkin. Bagaimana rakyat bisa percaya? Sejauh mana pemerintah mau menganggap rakyatnya sekumpulan orang goblok yang diam saja ketika “disuapi” data yang aneh?

Saya ngelu banget melihat perbedaan data tersebut. Sejak Februari 2020, penanganan masalah corona dari pemerintah ini terlalu halus kalau dibilang medioker. Ini sudah sangat salah. Mengurusi data saja nggak becus. Kampanye 4.0 ternyata sampah belaka.

Apakah negara ini benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk melawan wabah virus corona? Apa susahnya membuka data agar bisa diakses banyak pihak guna menentukan kebijakan yang ideal? Apakah menjaga “citra” negara jauh lebih penting dibanding keselamatan rakyat?

Segala upaya pemerintah daerah untuk menangani tak mendapat restu dari pemerintah. Keputusan Pemprov DKI Jakarta yang digagalkan pemerintah adalah contoh paling sahih. Dengan dalih kajian yang lebih komprehensif, keputusan tersebut dibatalkan. Andai saja dia tahu kalau virus tidak perlu menunggu kajian untuk menyebar.

Hal-hal seperti ini yang bikin saya ngelu setengah mati. Mau kritik Pak Jokowi, nanti disalahartikan menghina. Dipenjara, dong.

Yuval Noah Harari, dalam tulisannya, berkata bahwa negara-negara harus bekerja sama untuk menghentikan ini semua. Kita tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, dan inilah saat yang paling tepat untuk menyisihkan perbedaan.

Harari mengungkapkan kalau masyarakat bakal “ngeyel” dengan imbauan pemerintah karena sudah tidak percaya. Keanehan mengurusi data itu juga salah satu “kerja bagus” dari pemerintah yang sukses bikin warganya tak lagi percaya kepada negara. Kacau sekali.

Kekacauan cara pandang Indonesia dalam menghadapi corona mirip dengan Amerika Serikat. Dengan dada membusung, AS dan Indonesia sama-sama gegabah. Kedua negara ini sepertinya menganut asas “If I get corona, I get corona”.

Trump mengatakan bahwa corona akan menghilang di musim panas. Klaim yang besar membutuhkan bukti yang besar juga, dan nyatanya dia gagal. Meski pun dia gagal, tetap saja dia tak belajar. Dia ingin acara Paskah untuk tetap diadakan.

Sekeras apapun usaha pemerintah mengampanyekan imbauan pencegahan corona akan menjadi sia-sia jika data tak kunjung dibuka. Hanya 100 pasien per hari, tenang saja nggak usah dipikir mumet, begitu di pikiran orang. Orang akan meninggalkan rumah dan mulai beraktivitas di masa-masa bahaya ini. Ketika virus corona belum bisa dikontrol, orang malah mulai tak peduli.

Orang-orang terdidik dan terpapar informasi akan menuding orang yang keluar rumah dengan tuduhan jahat. Orang-orang yang keluar rumah menuding balik karena mereka berpegang ke pemerintah, yang ironinya, memberikan data tak transparan. Semua orang akan saling menuding satu sama lain, sementara di tempat lain makin banyak mayat dibungkus plastik.

Saya membayangkan diri saya bagian dari BNPB. Saya ditugaskan mengatasi corona. Namun, saya sama sekali tidak dibekali data untuk bekerja dengan baik. Negara seoalah-olah menjadikan saya kambing hitam jika terjadi kesalahan. Kelak, ketika corona berhasil dibasmi, negara yang akan mengambil spotlight.

Kemenkes mungkin menutup data yang ada agar orang-orang tidak panik. Tapi yang terjadi, justru makin banyak orang meregang nyawa karena virus ini.

Di balik usaha menjaga nama tetap bersih, secara tidak langsung, negara berperan dalam setiap kematianyang terjadi. Dan, bisa saya pastikan, pemerintah tidak akan bisa cuci tangan dari masalah ini. Corona, virus berbahaya, sukses membuka borok hati orang-orang berpakai rapi di pemerintah sana.

BACA JUGA Yasonna Laoly Revisi PP: Mencegah Penularan Apa Menolong Teman? Dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Leave a Comment