Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pro-Kontra Pernikahan Usia Muda dari Kacamata Orang yang Sudah Menikah

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
15 Mei 2020
A A
pernikahan dini mojok.co

Ilustrasi pernikahan dini. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bicara soal pernikahan, selain mencari jawaban pertanyaan “kapan nikah?”, pernikahan usia muda adalah topik yang paling sering dibicarakan dan diperdebatkan.

Seandainya pandemi ini tidak terjadi, niscaya media sosial akan dipenuhi jokes garing tentang pernikahan yang diproduksi ulang tiap tahun. Pertanyaan “kapan nikah?” adalah momok tiap anak muda waktu Lebaran. Dari turunnya Soeharto hingga ditemukannya tata surya baru, pertanyaan macam ini seakan tak pernah bisa dijawab dan jadi masalah menahun.

Iklan

Tapi ngomong-ngomong soal pernikahan, selain mencari jawaban pertanyaan “kapan nikah?”, pernikahan usia muda adalah topik paling sering dibicarakan dan diperdebatkan. Ketika ada orang menikah muda, katakanlah usia 16-19 tahun, dan diposting di media sosial, pasti keributan terjadi tidak jauh dari tempat itu.

Ada dua argumen yang sering ditemukan dalam perdebatan pernikahan usia muda. Argumen pertama, menolak pernikahan muda karena jalan mereka masih panjang dan banyak yang harus dipersiapkan. Argumen kedua berpendapat bahwa sah-sah saja selama mereka mampu dan itu adalah salah satu upaya menghindari zina.

Saya pikir, kedua argumen tersebut ada benarnya karena saya sendiri belum menikah karena banyak yang harus saya siapkan dan pada saat yang bersamaan, saya belum mampu. Tapi ketika diminta menulis tentang pernikahan usia muda, saya pikir saya harus meminta pendapat yang otoritatif alias bertanya kepada para orang yang sudah menikah lama.

Saya segera menghubungi orang-orang yang saya kenal sudah menikah lama, salah satunya adalah ibu saya.

Ibu saya sempat kaget saat saya mintai pendapat, mengira saya sudah ingin menikah. Bahkan sempat minta untuk dikasih cucu perempuan. Tapi begitu saya bilang bahwa ini kepentingan pekerjaan, dia menggerutu dan lanjut isah-isah. Namun, sambil isah-isah itu ibu memberikan pendapat tentang pernikahan usia muda.

Menurut Ibu saya, pernikahan usia muda itu rentan pertikaian tidak penting. Ibu bilang, karena masih muda, egonya masih dikedepankan dalam menyelesaikan masalah. Apalagi jika yang dihadapi adalah masalah ekonomi, masalah yang harusnya didiskusikan malah jadi pertikaian tanpa henti.

Tapi ibu juga mengapresiasi keinginan nikah muda. Setidaknya, nanti pasangan itu bisa menemani anaknya lebih lama. Tenaga orang tua masih ada untuk mencarikan nafkah hingga anaknya kuliah.

Saya lalu meminta pendapat istri kakak saya yang sudah menikah selama 12 tahun. Mbak Linda (sebut saja begitu) memberi jawaban yang lebih detil tentang masalah pernikahan muda.

Mbak Linda juga memberi jawaban yang sama seperti Ibu, yaitu masalah ego. Tapi Mbak Linda menambahkan bahwa ego ini terkadang datang dari pihak orang tua juga. Karena merasa anaknya terlalu muda untuk menjalani hidup, kadang orang tua ikut campur dalam menentukan keputusan dalam rumah tangga. Ekonomi yang belum stabil membuat orang tua ikut membantu keuangan keluarga tersebut, yang seringnya malah justru mencetak masalah baru.

Selain itu, pasangan yang umurnya masih muda sering terpengaruh teman-temannya yang masih bujang. Temannya masih sering ngajakin main dan ngecengin kalau dilarang istri/suaminya.

Orang terakhir yang saya hubungi, sebut saya Projo. Dia memang belum lama menikah, tapi saya tetap menanyai kenapa dia tidak memilih menikah dari dulu. Jawabannya menarik: dia tidak mau mencetak kere anyar alias orang miskin baru.

Menurut Projo, tidak semua orang terlahir dengan kondisi ekonomi yang amat mapan. Ketika memilih menikah di usia muda, sekitar umur 18 hingga 21 tahun, ekonomi orang tersebut hampir pasti belum stabil. Memaksakan pernikahan, menurutnya, hanyalah menciptakan kere anyar yang hanya jadi beban keluarga dan negara. Dia menikah baru ketika ekonominya siap, setidaknya dia tidak akan hidup sengsara.

Iklan

Saya sempat bertanya iseng, kenapa dia tidak memilih menikah saja waktu usianya masih begitu muda untuk menghindari zina. Jawabnya adalah, kalau memang mau menghindari zina, ya jangan menikah, tapi jaga nafsu masing-masing. Lagi-lagi, dia menekankan kere anyar dalam alasannya.

Setelah menanyai 3 orang tersebut, kesimpulan yang saya dapat adalah pernikahan usia muda ini begitu rentan. Dalam hal mental, usia muda yang masih penuh dengan gelora dan belum mencapai titik kematangan bisa membuat pernikahan jadi lebih rumit. Keadaan ekonomi yang belum stabil juga membuat pernikahan jadi riskan.

Data BPS pada tahun 2018 menyebutkan bahwa angka perceraian di Indonesia menyentuh 408.202 kasus. Penyebab perceraian terbesar disumbang oleh faktor perselisihan dan ekonomi, masing-masing 183.085 kasus dan 110.909 kasus. Melihat data tersebut, maka pendapat ketiga orang yang saya tanyai tadi valid, bahwa masalah mental dan ekonomi adalah penyebab kenapa pernikahan usia muda itu rentan akan banyak hal.

Bagi yang keukeuh menikah muda, monggo itu hak kalian. Tapi melihat risiko yang ada dan jika kalian masih ragu kapasitas diri sendiri, mending ditunda dulu. Pernikahan bukan perlombaan, dan jika kalian menganggapnya begitu, taruhannya begitu besar, yaitu masa depan kalian dan buah hati kalian.

BACA JUGA One Piece Mungkin Ceritanya Bermasalah, tapi Naruto Jelas-jelas Sampah dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2020 oleh

Tags: BPSEkonomiperceraianpernikahan usia muda
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Gubernur Jawa Tengah imbau warga Jateng terbuka saat Sensus Ekonomi 2026 MOJOK.CO
Kilas

Imbauan buat Warga Jateng saat Sensus Ekonomi 2026: Harus Terbuka karena Penting, Data Pribadi bakal Dijaga Kerahasiaannya

18 Juni 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) imbau masyarakat sambut baik petugas sensus ekonomi dari BPS MOJOK.CO
Kilas

Imbauan ke Warga Jateng kalau Ada Petugas Sensus Ekonomi Datang, Penting untuk Program Ekonomi Masyarakat

15 Juni 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Urban

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.