Kongres Diaspora Indonesia (Congress of Indonesian Diaspora) ke-4 resmi dibuka. Acara yang berlangsung pada 1-4 Juli ini dibuka dengan pidato dari Presiden AS ke-44 Barack Obama. Diselenggarakan oleh Indonesian Diaspora Network, kongres ini pertama kali diadakan di Los Angeles pada 2012. Sementara kongres kedua dan ketiga terlaksana pada 2013 dan 2015, keduanya digelar di Jakarta.

Berikut komentar netizen mengenai acara tersebut.

Wahyu Susilo: Diaspora Berpeluh dan Diaspora Berparfum

Dua foto itu sama-sama memperlihatkan aktivitas “diaspora Indonesia” yang mengantri untuk dua momentum penting yang terjadi pada tanggal 1 Juli 2017.

Yang foto sebelah kiri adalah antrian ratusan buruh migran Indonesia (diaspora bau peluh) yang telah belasan jam menunggu proses pemutihan dokumen di Kantor Imigresen Putrajaya Malaysia. Mereka berharap dokumennya bisa selesai karena pada tanggal 1 Juli 2017, Pemerintah Malaysia akan merazia para buruh migran yang tidak berdokumen.

Yang foto sebelah kanan adalah antrian ribuan diaspora bau Parfum yang hendak menghadiri Konvensi Diaspora Indonesia tanggal 1 Juli 2017 dengan satu tujuan mendengar pidato Obama dan mendengar kisah-kisah sukses kaum diaspora wangi yang dipuja-puja mengharumkan bangsa. Harap-harap cemas mereka hanya soal apakah mendapat tempat duduk yang ideal atau nggak, bukan soal resiko ditangkap polisi diraja Malaysia atau RELA.

Dua-duanya adalah kisah kerumunan kaum diaspora Indonesia. Apakah mereka terhubung atau merasa senasib sepenanggungan? Saya nggak tahu apakah Konvensi Diaspora Indonesia bisa menjawab pertanyaan ini atau tidak?

Foto kiri. © Wahyu Susilo

Foto kanan. © Wahyu Susilo

Martin Aleida: MetroTV sedang tayangkan siaran untuk kampanye kongres diaspora Indonesia yang akan dibuka Obama besok di Casablanka. Hmmmm Casablanka. Katanya ada jutaan diaspora indonesia di seluruh dunia. Mereka antara lain orang bisnis, mahasiswa, cerdik-pandai. Juga TKW-TKI. Eksil Inonesia di beberapa negara, terutama di Eropa, bukan diaspora, karena paspor mereka telah dicabut rezim fasis militeristis Orba. Jumlah mereka secuil dibandingkan dengan diaspora berpaspor Republik Indonesia. Tapi jangan lupa eksil asal Bogor, Waruno Mahdi, bekerja sebagai seorang profesional di Berlin, pada institut terpandang Max Plank di Berlin. Ketika sudah pensiun dia masih tetap dipertahankan berkarya di di situ. Jayalah kau yang kehilangan Tanah Air!

Farida Indriastuti: Kenapa gunakan istilah diaspora ya? Cek terminologinya di KBBI. Lha orang-orang Indonesia yg diluar negeri masih memiliki tanah air dan identitas. Meski orang Indonesia yg tak lagi menjadi WNI– spt Anggun Cipta Sasmi atau Cinta Laura masih bisa pulang kampung. Bapak-emaknya di Indonesia. Sy sih gak sepakat istilah diaspora digunakan. Maaf ya…

Perpus Pijar: persoalan kewarganegaraa ganda tidak melulu soal kesetiaan kepada negara, selama ini kita mungkin terjebak pada kecurigaan bahwa orang-orang berkewarganegaraan ganda bisa saja membawa agenda penting dari negara keduanya dan masuk untuk menguasai sumber daya alam Indonesia. tapi di sisi lain, kita bisa membayangkan akan ada berapa banyak anak-anak muda cemerlang yang memilih meninggalkan kewarganegaraan indonesianya hanya demi mengejar fasilitas pendidikan dan proyek strategis di negara lain. setelah mereka sukses di sana, kita hanya tinggal gigit jari, dan meratapi ada profesor-profesor kelahiran indonesia yang sukses di berbagai bidang. sementara di indonesia, kita masih berkutat soal mana yang benar antara berjenggot atau berkumis.

cc. Algar M. Semi Komunitas Gradasi

Komentar
Add Friend
No more articles