[MOJOK.CO] “Kisah video viral Bu Dendy. Inikah yang namanya jurnalisme warga feat jurnalisme data?”

Indonesia tak pernah kehabisan video viral. Kemarin, Senin (19/2/2018), muncul video baru yang hari ini menciptakan trending topic nomor 1 di Twitter. Temanya masih seputar kisruh rumah tangga dan pelakor.

Dalam video itu tampak seorang wanita berkerudung merah sedang duduk dan menunduk sembari dilempari uang pecahan 50 ribu dan 100 ribu oleh seseorang di balik kamera. Dari kata-kata si perekam, wanita berkerudung merah itu dituduh sebagai perebut suami si perekam (belakangan disebut Bu Dendy karena suaminya bernama Dendy). Bu Dendy menuding perempuan berkerudung merah tersebut berselingkuh dengan suaminya dan meminta uang untuk membuat rumah.

Akun Instagram @lambe_turah dan @makrumpita termasuk akun yang pertama kali menyebarkan video yang mulanya diunggah di Facebook oleh akun Ovie Ovie alias si Bu Dendy ini. Meski video tadi telah dihapus, banyak netizen yang telah menggunggahnya ulang.

Selain video “nyoh duwik!” itu, ada video lain di mana si Ibu mendatangi rumah mbak kerudung merah itu. Dalam video itu si ibu berteriak-teriak kasar di depan rumah sementara Pak Dendy cuma bisa diam sambil berdiri di depan pintu.

Dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur, Bu Dendy menyebut perempuan yang ternyata adalah sahabatnya sendiri itu sebagai wanita penggoda suaminya dan meminta uang untuk membeli rumah. Dengan tujuan membeli “harga diri” perempuan itu, ia melemparkan uang sembari marah-marah sampai napasnya terengah.

BACA JUGA:  “Balo Lipa” dan Tragedi Mantan yang Datang ke Pernikahan

Fenomena pelakor-pelakoran ini layaknya air panas di dalam ceret. Sekali tutupnya dibuka, uapnya melambung tinggi ke mana-mana. Kasus ini pun langsung viral, diikuti sumpah serapah netizen untuk si pelakor.

Sikap kami sih masih sama ya, soal perselingkuhan, selalu ada dua pihak yang salah. Si pasangan dan orang ketiga. Baiklaaa, itu urusan rumah tangga mereka. Tetapi, yang unik, berbeda, dan patut dibahas dari kasus ini adalah bagaimana netizen menyikapinya.

Pertama, netizen jadi gagal fokus ke soal uang Bu Dendy. Bandingkan dengan kasus “pelakor-pelakor” sebelumnya yang justru mengganggu mata karena melibatkan kekerasan fisik. Bu Dendy mempermalukan perempuan tersebut justru dengan cara “harta shaming” (halah). Dan netizen pun serentak berkata, “Duitnya banyak banget, ya Allah~”

Hasilnya, muncul oknum-oknum netizen yang mendadak jadi detektif dan mengulik siapa sih Bu Dendy ini dan kenapa dia kaya banget. Hasilnya, ternyata si seseibu ini punya usaha franchise minuman cokelat.

@nyopus: Ku rasanya ingin, “Samlekooommm~ maaf Buk, saya pengen mungutin duitnya~ makasiii”

@mtedddy: Ibu ini tida bole sombong, diatas langit masih ada Hotman Paris.

@TPatradilaga: Kaya dan banyak duit, tapi suami tak setia. Dari sini kita tahu, bahwa dalam hidup ini manusia tak pernah dibiarkan menang secara mutlak.

@makmummasjid: dari bu dendy kita belajar, uang memang tidak dibawa mati tapi dibawa buat nyawer pelakor

@dindashantidewi: Anak bocah beli nyoklat Bu Dendy : “Duitnya kurang Bu” // “Yaudah nih bawa sama blender – blendernya.”

@daawirda: Gara-gara bu dendy, jadi pengen nyoklat.

@Mustafid: Bu Dendy hamburin uang ke terduga pelakor => nyoklat klasik bakal rame

@zhnazzahra: Omong2 Bu Dendy yg ownernya nyoklat Saya gasuka topping coklatnya, nyenyah. Kek coklat gopean.

BACA JUGA:  Rambat, Midah, dan Kisah Selingkuh

Lah, malah jadi review produk. Yha memang sih, ketika videonya viral, secara tak langsung ini menjadi promosi jualannya si seseibu.

Yang kedua, karena satu dua status yang meng-counter video ini, detektif-detektif partikelir lainnya segera mengorek-orek masa lalu Bu Dendy yang konon juga pernah merebut suami orang. Menyangkut soal itu, suara publik pun jadi terbelah. Yang tadi simpati sama si ibu (dan ngarep dihamburin duit) jadi abstain sembari menunggu kabar terbaru.

Moral story dari kisah ini adalah, sesungguhnya media sosial telah menjadi wahana hiper-reality show walau topiknya belum beranjak dari formula lama: harta, takhta, dan wanita.

Komentar
Add Friend
No more articles