MOJOK.CO Persebaya Surabaya berhasil duduk di peringkat kedua Gojek Liga 1 bersama Bukalapak (ini judul turnamen sepak bola atau ajang pencarian bakat, sih) berkat kemenangan meyakinkan atas PS TIRA dengan skor 4-1.

Pada pekan keempat Liga 1, Persebaya bertandang ke Stadion Sultan Agung, kandang PS TIRA, tanpa tiga pilar lini pertahanan, yaitu Otavio Putra, Rachmat Irianto, dan Fandy Imbiri. Kekurangan komposisi pemain belakang membuat Abu Rizal Maulana, gelandang Bajul Ijo, ditarik menjadi bek.

Hasilnya tokcer. Pertahanan Persebaya cukup stabil meskipun bermain dengan 10 pemain sejak sepuluh menit babak kedua berjalan. David da Silva muncul sebagai aktor protagonis dengan torehan tiga gol dan satu asis untuk Osvaldo Haay. PS TIRA sempat membalas lewat sundulan Dimas Drajad di menit ke-70. Namun, sampai akhir pertandingan, tidak ada balasan lagi, mungkin si dia sedang sibuk.

Angel Alfredo Vera, pelatih Persebaya Surabaya asal Argentina, mengatakan bahwa kunci kesuksesan kemenangan anak-anak asuhnya adalah key of success permainan yang efektif. Berlaga di kandang sendiri, PS TIRA memutuskan untuk bermain terbuka. Persebaya berhasil memanfaatkan situasi ini melalui taktik penguasaan bola penuh kesabaran demi mencari celah longgarnya pertahanan tim tuan rumah.

Ketika melihat celah, umpan terobosan maupun lambung segera diperagakan Persebaya. Untungnya, David da Silva bukanlah Paul Pogba. Alhasil, David tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Penyerang asal Brasil tersebut sangat efektif di depan gawang. Unggul dalam hal kecepatan sungguh membantu.

Baca juga:  Berkat DPR, (Mungkin) The Jak dan Bobotoh Bisa Rukun di Aksi Suporter Indonesia

Sempat gagal di Bhayangkara FC, Oktafianus Fernando atau Ovan, pemain sayap Persebaya, mengatakan bahwa alasan kemonceran David da Silva di Persebaya adalah karena semakin lancarnya komunikasi antara pemain lokal dengan pemain asing berbahasa Portugis ini. David semakin fasih berbahasa Indonesia.

Sebelumnya, tutur Ovan, ketika ingin berbincang dengan pemain lokal, David membutuhkan penerjemah. Salah satu yang kerap menjadi penerjemah adalah Robertino Pugliara, gelandang Persebaya asal Argentina. Padahal, sebagai orang Argentina, Robertino tentu lebih fasih berbahasa Spanyol dibandingkan Portugis.

Jadi, ketika hendak berkomunikasi, David akan berbicara dengan Robertino terlebih dahulu. Lalu, Robertino akan menerjemahkan obrolan David ke dalam Bahasa Portugis untuk dirinya sendiri. Setelah itu, barulah Robertino menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia untuk Ovan. Subhanallah, sungguh besar pahalamu, Robertino.

Pelatih PS TIRA, Rudy Eka Priyambada, mengeluarkan pernyataan kontroversial seusai kekalahan ini. Rudy menganggap cuaca panas di Yogyakarta menjadi salah satu faktor tidak maksimalnya permainan PS TIRA.

Meskipun memunculkan pro-kontra, kami sependapat dengan beliau karena Jogja memang sedang panas-panasnya selama seminggu terakhir. Kami menyarankan kepada panitia pelaksana (panpel) Stadion Sultan Agung agar memasang 20 unit AC di pertandingan selanjutnya demi kesejukan pemain yang bertanding. Atau paling tidak, undang Cak Nun untuk memberikan kultum tentang toleransi beragama sebelum laga. Biar teduh, gitu.

Oh ya, satu hal lagi yang gagal dimanfaatkan PS TIRA sehingga kalah telak adalah kondisi Persebaya Surabaya yang bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-50. Robertino Pugliara, penerjemah tulus itu, diusir wasit setelah mendapatkan kartu kuning kedua.

Baca juga:  Harimau Mati Meninggalkan Belang, Pak Tupon dan Bu Tumini Meninggalkan Mi Ayam

Bisa jadi, kegagalan PS TIRA mengejar ketertinggalan ini disebabkan karena Robertino baru keluar lapangan sejak menit ke-50. Andai saja Robertino diusir sejak 10 tahun yang lalu, mungkin PS TIRA bisa menang.