Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Google Translate yang (Diduga) Bias Gender dan Seksis

Redaksi oleh Redaksi
22 Februari 2018
A A
Google-Translate-Bias-Gender-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Problematika dalam menerjemahkan bukan hanya terbatas kata, tapi juga perasaan.”

Pada tahun 2016 lalu, Google Translate resmi berusia sepuluh tahun dan menjadi alat penerjemahan bahasa paling populer di seluruh dunia. Memahami lebih dari 100 bahasa, diperkirakan Google Translate mampu menerjemahkan 100 milyar kata per hari.

Uwoooooooww, dahsyaaaat~

Tapi, di antara 500 juta penggunanya, ternyata ada yang tida melulu iya-iya aja sama hasil terjemahan Google Translate. Seorang pengguna Twitter bernama Alex Shams, misalnya, pernah membahas tentang kemungkinan adanya bias gender dalam Google Translate. Bagaimana maksudnya?

Shams berbahasa Turki, yang disebutnya sebagai bahasa netral. Bahasa Turki tidak mengenal penggunaan kata “dia” yang dibedakan berdasarkan gender, seperti she atau he dalam bahasa Inggris. Kata “dia” hanya digambarkan dengan “o”.

Namun, ketika Shams mencoba menerjemahkan kalimat-kalimat berbahasa Turki ke bahasa Inggris, ia mendapati bahwa hasil terjemahannya cenderung bias gender dan bahkan seksis.

Turkish is a gender neutral language. There is no "he" or "she" – everything is just "o". But look what happens when Google translates to English. Thread: pic.twitter.com/mIWjP4E6xw

— Alex Shams (@alexshams_) November 27, 2017

Hal yang sama kemudian menginspirasi pengguna Facebook bernama Dina Utami untuk melakukan hal yang sama. Bedanya, alih-alih bahasa Turki, Dina menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Ya, seperti halnya bahasa Turki, bahasa Indonesia pun tidak mengenal sistem she atau he, karena seluruhnya berarti “dia” atau “ia”.

https://www.facebook.com/dinautami/posts/10155401574656028

Tulisan Dina ini juga dibagikan pada laman Indonesia Feminis.

Hmm, hmmm… Kenapa sih, kok gitu?

Menurut Shams, hal ini bisa terjadi mengingat Google Translate menggunakan sistem algoritma penerjemahan yang berdasarkan pada pencarian yang paling sering dilakukan. Jadi, jika dalam database Google terdapat 1000 pengguna menggunakan kata engineer dan kebanyakan dari mereka adalah pria, Google Translate pun akan mengartikannya sebagai pria (dengan kata he). Aturan ini berlaku pula bagi kata nurse yang merujuk pada wanita (atau kata she).

Masih menurut Shams, hal ini membuat Google Translate tampak menyoroti adanya bias yang memang hadir dalam budaya kita, termasuk sempitnya lahan pekerjaan bagi para wanita atau beberapa kondisi yang dianggap menggambarkan keadaan wanita, seperti kata-kata unhappy, lazy, dan hopeless.

Jelas, dari fenomena ini, teknologi tampil dengan ketiadaan sikap netral yang selama ini digadang-gadang.

Iklan

“Technology is making these biases more solid and more rigid as algorithms come to determine ever more parts of our lives,” sambung Shams. Baginya, keberadaan teknologi semacam ini justru membuat bias gender semakin kuat mengingat algoritma pencarian bisa muncul di banyak aspek kehidupan.

Satu hal yang perlu diingat: teknologi hadir dan dibentuk oleh para penciptanya. Dalam hal ini, konteks “pencipta” tentu merujuk pada manusia.

Faktanya, bagi Shams, industri teknologi pun telah menampilkan bias yang nyata, dengan “banjirnya” tenaga kerja pria muda berkulit putih.

Gimana, my lov, menurut kamu? Para netizen telah lebih dulu ikutan bersuara nich~

Fransiska Nana: Hmmmmmmmmmmm……….when a machine begins to stereotyping……….hmmmmmm

Dian Vita Suandi: Hmm yang paling membingungkan buatku bagian menikah. Stereotype nya kok gitu banget ya?

Laleh Khalili: The “She is married/he is single” in particular is interesting; as well as his happiness and her unhappiness.

Rezy Pradipta: Berarti AI-nya lewat machine learning menyerap gender stereotypes yg beredar di masyarakat ya.

Herman Saksono: I’m curious about the training data that were used by Google Translate. I wonder if the Indonesian texts used for training were biased in the first place.

Cynthia Maharani: Gender bias!!

Jd Sorensen: /eyeroll. There is no other ways to translate it into English. Gender neutral does not exist in English.

Arkhadi Pustaka lhah Google Translate itu dapet masukan dari komunitas. Jadi hasil translate-an Google itu merefleksikan stereotype komunitas yang ngasih inputan, yang kemungkinan besar orang-orang Indonesia yang emang kekeuh sama stereotype. Btw, pernah nyoba ngasih inputan ke google translate? bisa lho, tiap orang yg punya akun gmail bisa kasi inputan ke translate-an google.

Farianti Ika Putri: Kalau algoritma google translate sendiri memang banyak ‘dibantu’ dari user user yang menggunakan (ada opsi mengganti kata hasil terjemahan), dan dokumen yang ditranslate misal dari artikel atau buku, jadi IMO bukan kesengajaan dari pihak google atau developernya.

Jadi, berapa banyak dari kamu yang udah nyoba nerjemahin pakai Google Translate setelah baca tulisan ini?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: bahasa indonesiabahasa inggrisbias genderGoogle TranslateseksisTeknologiterjemah
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Belajar Bahasa Inggris Cocok untuk Atlet Brain Rot kayak Kamu MOJOK.CO
Esai

Belajar Bahasa Inggris Adalah Tahap Awal untuk Memanusiakan Diri bagi Atlet Brain Rot seperti Saya

10 Juni 2025
pramoedya ananta toer.MOJOK.CO
Ragam

Ini yang Terjadi Seandainya Pramoedya Ananta Toer Menjadi Guru Sastra Indonesia

3 Februari 2025
Kosakata Bahasa Indonesia Tidak Miskin, Bahasa Inggris Perampok MOJOK.CO
Esai

Bahasa Indonesia Miskin Kosakata Adalah Pandangan yang Terlalu Jauh di Tengah Pemujaan Bahasa Inggris yang “Merampok” Bahasa Lain

7 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.