MOJOK.COMojok Institute melakukan sensus kepada Netizen Twitter, Facebook, dan Instagram untuk mengetahui dosa dan azab apa yang menurut mereka paling menyeramkan.

Sebagai manusia yang sejak kecil sudah baca majalah Hidayah dan ketika remaja nonton sinetron Rahasia Ilahi, kami yakin pembaca Mojok tumbuh menjadi manusia dewasa yang tidak kagetan melihat judul sinetron azab tentang mandor yang jenazahnya tertimpa meteor, dihujani badai dan topan, ditolak bumi, sampai terkubur bersama kenangan indah dengan dia yang tak lagi mencintaimu, eh.

Sinema Religi tentang azab-azab ini belakangan sangat populer untuk ditertawakan–ya, tentu saja karena judulnya, bukan karena cerita atau kejadiannya yang beberapa diangkat dari kisah nyata.

Kok tahu itu kisah nyata? Percaya atau tidak, tayangan jenis ini pakai riset yang serius, lho. Periset mendapatkan cerita dengan mencari tahu dan mendatangi langsung kejadian-kejadian janggal di pemakaman. Segan~

Kalau azabnya ditertawakan juga nggak? Mojok Institute sih berani jamin tidak ada yang  bermaksud untuk menertawakan azab karena kita semua pasti takut dengan azab sungguhan. Wong waktu kecil nonton video anak durhaka yang dikutuk jadi ikan pari aja nggak bisa tidur berhari-hari.

Yang akan menjadi fokus kita kali ini bukan pada pembahasan bagaimana sinertron ini disebut sebuah pembodohan publik, atau betapa lucunya judul sinetron ini sehingga kita bisa membuat judul kita sendiri dengan mencocokan tanggal dan bulan lahir.

Dalam sensus minggu ini, Mojok ingin mengetahui sebenarnya dosa dan azab apa yang menurut netizen paling menyeramkan, untuk kemudian dilakukan pembacaan secara kritis atau reading behind the line dalam memahami makna yang netizen coba sampaikan.

Tujuan melakukan pembacaan secara kritis adalah untuk melihat bahwa membahas azab bukan berarti menertawakan atau menunjukan bahwa kita tidak takut dengan Azab. Melainkan lebih kepada melihat azab sebagai sebuah fenomena yang mana menjadi solusi terakhir ketika manusia sudah muak dengan masalah-masalah sosial setelah lelah untuk mencegah, malas untuk protes, sampai pada tahap mengutuk dan menunggu “Tuhan yang bertindak”.

Antusiasme netizen dalam sensus ini adalah bukti bahwasanya banyak sekali permasalahan yang sudah mereka pasrahkan kepada Tuhan. Tentu saja ini merupakan sebuah kritik sosial dan wujud keresahan dan kekhawatiran manusia di era post-truth, post-modernisme, dan post-post lainnya. Cielah serius amat dah kaya ngerjain skripsi wqwq.

Hasil sensus

Dari hasil sensus yang kami lakukan, yang mengejutkan adalah ditemukannya fakta bahwa jenis dosa yang ingin diberikan azab oleh netizen adalah dosa-dosa sehari-hari yang sudah mengalami normalisasi. Saking normalnya, pembuat dosa ini merasa tidak berdosa dalam melakukannya. Padahal, apa yang dia lakukan sangat mengganggu manusia lainnya.

Contoh dari dosa yang sudah dinormalisasi ini diantaranya adalah: Dosa menyebarkan hoax di grup Whatsapp keluarga, dosa orang yang memberi harapan palsu, dosa orang yang suka membully orang lain, dosa orang yang sering klakson saat lampu merah masih tersisa beberapa detik, dosa orang yang pakai knalpot racing, dosa Junior yang suka nanyain kenapa seniornya belum lulus, dosa orang yang suka julid dan nanyain kapan nikah atau mana pasangannya pas datang ke kondangan, dosa mahasiswa yang jarang mandi, dosa sering menghutang di warung, dosa orang yang sering online tapi nggak pernah baca dan balas chat, dosa suka menimbun korek teman, dosa keseringan Push rank hingga lupa sholat, sampai dosa ketika ditanya serius jawabnya cuman kungan kangen doang.

Sementara itu, azab yang diusulkan oleh netizen secara mengejutkan juga menyesuaikan dosa yang dilakukannya. Misalnya, “akibat sering menebar hoax, jenazahnya sulit dikebumikan karena kabar meninggalnya cuman dianggap hoax,” “Akibat sering memberi harapan palsu, jenazah di php malaikat dikasih tahu masuk surga padahal dibawanya ke neraka,” “Akibat sering membully orang lain semasa hidupnya, di akhirat tidak berhenti dibully oleh jenazah senior yang ada di sana,” “Akibat jarang mandi jenazah sulit dimandikan,” sampai “jenazah ditolak sejak dari kubur karena ketika ditanya “Man Robbuka?” jawabnya malah “kng~ :’( “ . Mungkin ini kali ya, pengimplementasian lain dari quote you will get what you deserve.

Contoh lain dosa dan azab yang sangat mencerminkan kritik sosial juga bisa dilihat dari jawaban terbaik versi Mojok Institute:

 azab abang-abang yang ngiket plastik makanan kenceng-kenceng, tali pocongnya susah dibuka & kelak di akhirat ketika kelaparan cuma ada nastar dalem toples yang ngga ketemu-ketemu ujung selotipnya~
Ulung Febri Ananda Azab pembuat situs pendaftaran CPNS, yang log in harus jam 02.00 dini hari. Jenazahnya muter muter kayak loading browser.
ivanadywiguna Semasa hidup mempersulit administrasi di desa, posisi jenazah membentuk logo pemda.

Setelah mengetahui pendapat netizen tentang dosa dan azab versi mereka ini, semoga kita semua tersadar, dan tidak menjadi golongan orang-orang yang disebutkan di atas. Ini adalah peringatan supaya jangan sampai di dunia kita mendapat karma, di akhirat menjapat azab. Mantapp, udah kaya akun dakwah aja nih Mojok~