MOJOK.COBPJS Kesehatan yang dipuja, BPJS Kesehatan yang dimurka. Setelah salah satu situs donasi bikin program mirip BPJS, perdebatan pun muncul.

Pendapat kontra BPJS Kesehatan dapat sindiran keras dan rujakan rame-rame oleh netizen Twitter setelah dirinya menyatakan lebih memilih program Kitabisa dibanding BPJS. Diketahui situs penggalangan dana tersebut memang baru-baru ini memunculkan sebuah program bertajuk Saling Jaga dengan konsep yang mirip iuran BPJS Kesehatan.

Suara sumbang muncul setelah dengan gamblang Kitabisa menjelaskan konsep iuran Saling Jaga yang anggotanya membantu pembiayaan kesehatan satu sama lain. Melalui iklannya, program Saling Jaga memang tampak begitu simpel walau belum diketahui praktiknya akan berjalan seperti apa ketika anggota semakin banyak. Seorang netizen pun bereaksi dengan nada yang seolah-olah lebih memilih iuran Kitabisa dibandingkan iuran BPJS Kesehatan. Ia bahkan memunculkan sentimen bahwa orang kaya di Indonesia banyak yang tidak mau iuran BPJS karena layanan asuransi kesehatan ini cuma buat orang miskin. Ide “mengganti” iuran BPJS sebagai basic insurance dengan program Kitabisa yang baru kemudian dirujak rame-rame.

Netizen secara kompak memunculkan banyak statemen sanggahan pro BPJS. Tidak sedikit yang menceritakan pengalaman betapa BPJS Kesehatan telah membantu memperpanjang umur anggota keluarga hingga membantu pembiayaan operasi yang tidak sedikit. Intinya, banyak orang yang telah terbantu program asuransi ini dan memilih untuk tetap iuran.

Pembahasan soal BPJS Kesehatan kemudian melebar pada soal korupsi, gaji karyawan dan petingginya, hingga pertimbangan untung dan rugi iuran BPJS. Ditilik dari berbagai unggahan di media sosial, netizen terbagi menjadi dua kubu. Mereka yang pro BPJS dan berharap orang-orang senantiasa membayar iurannya, serta mereka yang kontra BPJS dan berharap program asuransi ini dibenahi di berbagai aspek.

Pro BPJS membawa kisah-kisah kesembuhan dan pengalaman mereka terbantu dengan asuransi tersebut. Sedangkan mereka yang kontra mengkritik BPJS sebagai badan asuransi yang belum seratus persen menjalankan program dengan baik. Bahkan beberapa yang kontra merasa “rugi” telah membayar iuran namun tidak pernah merasakan manfaatnya. Hal ini juga disanggah oleh kubu pro, pertimbangan untung rugi tidak bisa dijadikan alasan bagi seseorang dalam mengikuti asuransi kesehatan. Terlebih lagi jika memutuskan tidak iuran BPJS Kesehatan karena merasa tidak pernah sakit, bisa dianggap mengabaikan mereka yang membutuhkan subsidi dari orang mampu.

Memperdebatkan BPJS Kesehatan dan program asuransi lain memang selalu akan melebar pada kemampuan masyarakat, sikap pemerintah, dan berbagai hal yang jika dirunut bakal semakin rumit. Memutuskan untuk daftar BPJS atau asuransi lain merupakan keputusan individu dengan berbagai pertimbangan. Perdebatan pro dan kontra di Twitter mungkin baru akan berakhir lusa, ketika orang-orang lalu sibuk dengan perdebatan lainnya.

Beberapa pendapat untuk menengahi kubu pro dan kontra ini sebenarnya sudah banyak dipaparkan. Namun sepertinya perdebatan memang lebih mengasyikkan. Tentu, ini dilakukan untuk mencari validasi siapa yang menang dan siapa yang salah meski konteksnya tidak sedang berkompetisi. Soal nantinya bakal ada pembaruan buat BPJS Kesehatan dan anggapan baru terhadap asuransi kesehatan lain, bisa dipikir belakangan. Padahal, bisa jadi, solusinya memang sesimpel tetap pakai BPJS dan jaga-jaga dengan pakai asuransi lain (terutama bagi kaum yang melek asuransi).

BACA JUGA Berhenti dari BPJS Kesehatan Hanya Bisa Dilakukan dengan Satu Cara dan artikel KILAS lainnya. 

Baca juga:  PBB Semakin Jelas Bakal Mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin