4   +   1   =  
  • 22
    Shares

MOJOK.CO Aku membuka Gallery di hape baru dan terkejut melihat hasil foto yang Gina dapatkan. Foto misterius itu sampai sekarang masih terbayang-bayang di kepalaku.

Seseorang bilang padaku, masa penggunaan handphone sebaiknya hanya dibatasi selama dua tahun. Lebih dari itu, tak ada salahnya membeli hape baru. Selain untuk mendukung kinerja maksimal handphone, kita pun serasa terlahir kembali.

Karena kebetulan baru saja mendapat pekerjaan dengan upah menjanjikan, aku langsung kepikiran untuk mengikuti saran temanku tadi. Maka siang itu, pergilah aku membeli sebuah ponsel keluaran terbaru dengan fitur yang jauh lebih baik dibanding hapeku sebelumnya.

Dengan senang, aku kembali ke kosan. Di sana, aku menjajal semua aplikasi yang terpasang, menambahkan ini dan itu, serta mencari tahu hal-hal keren lain yang bisa kulakukan dengan si ponsel baru. Tentu saja, kegembiraan ini ingin aku bagikan pula dengan Gina, teman sekamarku di kosan. Berkali-kali kulirik pintu, berharap Gina akan segera datang, lalu kami selfie bersama dengan aplikasi foto editor yang punya layanan sticker lucu-lucu.

Menjelang pukul 9, Gina baru pulang. Aku, yang sedang asyik menonton sinetron kesukaan, tak lagi berminat mengajaknya ber-selfie.

“Wah, ini hape baru, Ta?” tanyanya. Aku mengangguk seadanya—sinetron yang kutonton sedang masuk ke bagian klimaks.

“Pinjem, boleh? Kudengar fitur kameranya bagus!”

Baca juga:  Baru Rilis, Xiaomi Redmi 5 Plus Beri Pelajaran Hidup Meski Tanpa Agnez Mo dan Chelsea Islan

“Pakai saja,” jawabku sekenanya, “Sudah aku charge sampai penuh.”

Menggumamkan “terima kasih”, Gina langsung anteng bermain hape baru di kasurnya. Sementara itu, aku, di atas kasurku, terus fokus mengikuti kisah layar kaca. Sesekali aku mendengar suara “cekrek” kamera hape dari Gina yang sedang selfie di atas kasur.

Acara televisi berlangsung terus. Selepas sinetron, aku terbuai menonton talkshow tengah malam. Gina masih sibuk dengan hapeku, sampai akhirnya aku mulai mengantuk.

“Gin, udah belum main hapenya?” tanyaku, sembari mematikan televisi. Tidak ada jawaban. Aku menoleh ke arahnya: ternyata Gina sudah tidur. Hapeku digenggamnya di tangan kanan.

Setelah mematikan lampu kamar dan memastikan pintu serta semua jendela terkunci, aku menghampiri kasur Gina. Sedikit menggeser badan Gina ke tengah kasur, aku mengambil kembali hape baru tadi. Masih dalam posisi berdiri di tepi kasur, aku mengecek aplikasi apa saja yang Gina buka selama berjam-jam.

Gina membuka Twitter, menumpang log in di Instagram, dan mengunjungi beberapa laman kesehatan wanita. Tak lupa, dia mencoba kamera hape yang jernih dan mengedit hasilnya dengan aplikasi editor.

Aku masuk ke menu Gallery, penasaran melihat hasil jepretan Gina. Kali aja ada selfie yang lucu dan bisa aku upload ke Instagram Story, pikirku jahil.

Niat tadi ternyata benar-benar hanya menjadi niat semata. Total, ada 27 foto yang Gina ambil: 19 di antaranya adalah foto dirinya dari segala sisi, sedangkan 7 foto lainnya adalah fotoku yang diambil diam-diam saat sedang menangis gara-gara sinetron.

Baca juga:  Memburu Hantu Komunisme dengan Semangat Indonesiawi

Lalu, bagaimana dengan 1 foto sisanya?

Oh, aku bahkan sedikit merinding menuliskan ini, tak menyangka ia akan menjelma foto misterius.

Foto ini menampilkan Gina yang tertidur di kasur dan diambil dari sudut pandang tepat dari langit-langit kamar di atas tempatku berdiri saat itu. Foto misterius ini bahkan memperlihatkanku yang sedang membuka hape, persis dengan apa yang sedang kulakukan.

Selagi Gina terlelap, aku cuma bisa terpaku di tempatku berdiri—tak berani mendongak ke atas.

  • 22
    Shares


Loading...



No more articles