Tanya

Halo, Mas Agus yang baik hatinya.

Salam kenal. Perkenalkan, nama saya Wawan. Ini kali kedua saya kirim curhat ke Mojok. Curhatan pertama kelihatannya nggak terbalas dan kebetulan masalahnya juga sudah selesai. Nah, sekarang saya mau kirim curhat lagi, siapa tahu masalah saya yang ini juga nanti bakal selesai, nggak peduli curhatannya dibalas apa nggak.

Jadi begini, Mas. Saya ini punya kebiasaan meminjamkan duit kepada teman-teman saya. Ini tentu saja kebiasaan yang bisa jadi baik, namun juga bisa jadi buruk.

Baik karena saya merasa saya bisa bermanfaat dan bisa menolong kawan yang memang sedang butuh duit. Namun di sisi lain, juga buruk karena ternyata ada beberapa pinjaman yang tidak kembali dan itu justru menjadi masalah tersendiri.

Selain bikin mangkel hati, saya juga jadi sering diomelin sama istri.

Saya nggak tahu kapan kebiasaan ini mulai muncul, namun yang jelas, sejak usaha catering yang saya rintis mulai besar, mulai banyak kawan yang mencoba meminjam duit. Awalnya hanya satu dua kawan, namun lama-kelamaan, ada beberapa kawan lain yang juga mulai ikut meminjam. Mungkin menyebar dari mulut ke mulut.

Ada yang pinjam hanya ratusan ribu, namun beberapa ada yang meminjam sampai jutaan. Mereka beralasan butuh uang untuk keperluan-keperluan yang kerap kali tak bisa saya tolak, misal untuk membayar biaya sekolah anaknya, atau membayar uang kontrakan rumah.

Baca juga:  Delapan Fakta Termutakhir Tentang Kekayaan dan Kebahagiaan

Saya merasa, mereka benar-benar butuh ditolong, sebab saya sendiri juga pernah berada dalam kondisi sulit seperti mereka.

Sayangnya, kepercayaan yang saya berikan kerap tidak terbalas dengan baik. Beberapa kawan susah sekali saat saya tagih untuk mengembalikan uangnya. Hal yang justru kemudian membikin saya susah dan sungkan sendiri.

Nah, menurut Mas Agus, apakah ada saran yang bagus buat saya untuk sedikit meredakan kegelisahan saya ini.

Suwun, Mas.

~Wawan.

Jawab

Halo, Wawan. Membaca curhatmu ini, saya rasanya seperti membaca tulisan saya sendiri, sebab apa yang kamu tulis benar-benar persis seperti yang saya alami.

Saya terlalu sering meminjami uang kepada kawan-kawan saya dan beberapa di antaranya ternyata nggak kembali.

Istri saya sampai ngomel-ngomel dan mangkel dan bahkan mencoba meminta nomor kawan saya yang minjem duit itu untuk ia tagih sendiri saking mangkelnya.

Dari berbagai kasus peminjaman yang tak kembali ini, saya belajar banyak hal, salah satunya adalah bahwa perkara pinjam-meminjam uang ini benar-benar merusak tali pertemanan.

Setidaknya, sudah ada dua kawan lama saya yang sekarang mengeblok nomor saya dan tak bisa saya hubungi karena mereka tak jua mengembalikan uang yang mereka pinjam dari saya.

Beberapa yang lain nyolot karena saya tagih berkali-kali. Dia yang minjem, eh dia yang galak.

Beberapa yang lain tidak sampai mengeblok atau galak pada saya, namun selalu menghindar bertemu dengan saya.

Baca juga:  Mari Menghayati Kekayaan Hotman Paris Hutapea

Itu dari segi pertemanan. Dari segi uang lebih menyebalkan lagi. Kita meminjamkan uang karena berharap uang tersebut bisa menjadi simpanan yang bisa kita ambil di waktu yang sudah disepakati. Namun, kenyataannya ternyata memang tak seindah yang kita duga. Padahal ada kalanya, kita benar-benar butuh uang tersebut.

Pinjaman yang sesuai kesepakatan bakal dikembalikan dalam jangka waktu satu bulan bisa molor menjadi setengah tahun, itu juga kalau kembali.

Nah, dari situlah, saya menyarankan kepada Anda untuk punya prioritas pinjaman dan melonggarkan standar iba Anda. Begini, iba itu memang baik, namun iba yang terlalu berlebihan selalu membikin kita repot.

Karena itulah, Anda harus mulai berani untuk menolak meminjamkan uang kepada kawan Anda. Kalau memang punya niat untuk membantu, sekalian berikan uang Anda cuma-cuma, tentu saja dengan jumlah yang jauh lebih kecil. Hal tersebut akan membuat Anda lebih tenang dan tak berharap.

Katakan bahwa Anda tidak punya uang karena sedang ada banyak kebutuhan.

Setidaknya, dengan cara itulah pertemanan Anda bisa terjaga. Kalau ternyata dengan tidak meminjamkan uang tersebut membikin kawan Anda marah, maka ingatlah kutipan dari seorang ekonom India yang saya lupa namanya berikut: “Lending money to a friend, you lose both: friend and money. But if you say ‘No’, you only lose the first one.”

~Agus Mulyadi