Tanya

Dear, Redaksi Mojok.

Pertengahan Agustus 2019 lalu, aku bekerja menjadi seorang buruh di sebuah perusahaan. Di tempat kerjaku yang baru ini, aku bertemu dengannya. Seorang pria yang meninggalkan kesan yang begitu indah bagiku. Pria yang kelak aku panggil dengan panggilan “Mas”.

Tak disangka, Mas ternyata juga mengalami hal yang sama padaku. Ia Berniat untuk serius, katanya. Kami kemudian sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih jauh. Mas menyatakan keinginannya untuk membangun hubungan yang lebih dari sekadar sebelumnya, di hadapan keluarga besarku.

Pertemuan dua keluarga pun kemudian berlanjut dengan sebuah penetapan hari pernikahan. 28 Mei 2020 dipilih sebagai hari di mana kami akan benar-benar memulai kehidupan baru kamu.

Namun apa daya, negara ini, dan juga negara-negara lainnya sekarang sedang diserang corona. Tak kusangka, pertalianku dengan Mas dicoba dengan keberadaan virus ini.

Segala persiapan berupa seserahan pernikahan, fitting baju, tenda dan teman-temannya sudah rapih kami siapkan. Tapi kondisi berkata lain. Saat ini aku, Mas dan keluarga kami dihadapi dengan berbagai macam opsi rencana.

Beberapa opsi kami coba pikirkan, ada opsi hanya akad saja tanpa resepsi, atau opsi benar-benar mengundur baik akad maupun resepsi.

Hubungan kami memang terbilang sangat singkat. Bayangkan saja, Agustus 2019 bertemu, Mei 2020 kami berencana melancarkan niat kami. Namun saat kami berada pada titik puncak, ternyata malah ada cobaan bernama corona.

Nah, Menurut redaksi Mojok, langkah apa yang harus aku ambil? Barangkali Mas Agus atau Cik Prim bisa punya nasihat bagi saya.

~Anggun

Jawab

Dear Anggun.

Pernikahan selalu menjadi hal yang menggembirakan bagi dua insan yang saling mencintai. Namun keselamatan adalah hal yang jauh lebih menggembirakan. Anda bukan orang pertama yang rencana pernikahannya harus gagal karena adanya virus corona.

Nah, Mbak Anggun. Terkait dengan pergulatan batin yang sedang Anda alami saat ini, tentu saja bukan kapasitas saya untuk memberi saran berupa opsi mana yang harus Anda pilih. Saya justru ingin memberikan poin bahwa dalam setiap opsi yang Anda pilih, semuanya punya sisi baiknya masing-masing.

Opsi melangsungkan pernikahan tanpa resepsi adalah opsi yang sangat memungkinkan dalam kondisi sekarang ini. Saya punya kawan yang sebentar lagi menikah pertengah bulan nanti. Ia menikah dengan hanya dihadiri oleh 10 orang masing-masing dari pihak keluarga kedua mempelai. Pernikahan yang minimalis memang, namun memang itu yang harus diambil.

Nah, jika Anda juga akan mengambil langkah ini, maka itu akan menjadi kenangan yang sangat berharga dan indah bagi Anda. Jarang-jarang lho ada orang punya kesempatan menikah di masa pandemi corona seperti sekarang ini. Semua hal itu kan memang bisa dilihat dari sisi spesialnya.

Kemarin, misalnya, ada yang ngetwit “Kasihan anak-anak SMA di masa corona, mereka nggak bisa merasakan badannya disemprot pilox saat merayakan kelulusan, padahal itu momen yang sangat indah.” Itu kalau dilihat dari sudut pandang orang lain. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang si anak SMA sendiri, bisa saja dia punya balasan “Halah, cuma disemprot pilox aja bangga, generasi kami, lebih keren, semprot-semprotannya pakai disinfektan.”

Poinnya apa? Poinnya adalah tentang bagaimana kita memandang sesuatu dari sisi spesialnya. Dan Anda punya kesempatan untuk ini. Betapa indahnya akad yang digelar terbatas yang hanya dihadiri oleh beberapa orang. Betapa syahdu dan khidmatnya.

Ini akan menjadi pengalaman seumur hidup yang sangat berharga.

Nah, jika Anda mengambil opsi untuk menunda pernikahan baik akad maupun resepsinya sampai wabah virus ini rampung, itu juga bijak.

Tentu akan indah sekali rasanya menyelenggarakan pesta pernikahan setelah sebelumnya menanti sekian lama.

Ingat, rindu terbaik adalah rindu yang terbentuk melalui penantian yang panjang. Kemenangan terbaik adaah kemenangan yang diraih melalui pertandingan yang keras. Idulfitri terindah adalah idulfitri yang didapat setelah melalui puasa yang penuh selama sebulan.

Segala hal yang diawali dengan perjuangan yang besar, akan selalu manis pada akhirnya.

Kelak, saat wabah ini berakhir dan Anda kemudian menikah, Anda akan merasakan, betapa kalian berdua menang bukan hanya melawan corona, tapi juga melawan penantian waktu yang boleh jadi tak semua orang mampu melakukannya.

Betapa pelukan yang selama beberapa bulan sebelumnya menjadi sesuatu yang terlarang kemudian berubah menjadi hal yang menghangatkan. Betapa saling bersalaman dan berkumpul bersama sanak-famili yang selama ini menjadi kegiatan yang mustahil dilakukan kemudian berubah hal yang layak dirayakan.

Mbak Anggun, apa pun opsi pilihan tentang rencana pernikahan Anda, Anda sendirilah yang pada akhirnya akan memutuskannya. Pikirkan yang terbaik bagi diri Anda juga bagi keluarga Anda.

Selamat mencintai, dan selamat melawan corona yang menjengkelkan ini.

~Agus Mulyadi

Baca juga:  Cinta Dibangun oleh Banyak Hal, Kesedihan Adalah Salah Satunya