MOJOK.CO Gara-gara punya nama yang sama atau mirip dengan Reynhard Sinaga, mereka dikira sebagai mahasiswa Indonesia di Inggris yang jadi pelaku pemerkosaan massal itu. Gaes, kalau niat nyerang, plis cek-cek dulu lah.

Dari Twitter, kita bisa tahu setidaknya dua korban sudah jatuh. Yang pertama akun Twitter milik orang bernama Reinhart Sinaga, yang kedua akun Instagram Reynhard Sinaga. Selain nama dan marga yang sama, mereka jelas nggak ada sangkut pautnya sama Reynhard Sinaga pemerkosa.

Kalau menurut saya sih, sebenarnya orang pertama yang bernama Reinhart itu mestinya bisa selamat lho ya. Lha wong ejaannya beda: R-E-I-N-H-A-R-T. Sedangkan si pelaku pemerkosaan ejaan namanya R-E-Y-N-H-A-R-D. Beda dua huruf gitu kok masih bisa ketuker.

Menurut cerita Reinhart, ia bukan dapat serangan di Twitter, melainkan dijapri langsung oleh orang-orang yang penasaran. Sedangkan lae Sinaga yang satunya, yang namanya ditulis persis sama “Reynhard Sinaga”, ngamuk-ngamuk di Instagram. Mungkin karena caci maki yang salah dialamatkan kepadanya benar-benar parah.

(Apa iya nama Reynhard memang populer di kalangan marga Sinaga?)

Inilah serbasalahnya punya marga. Pada dasarnya orang-orang sedunia memang bersaudara. Tapi ketika identifikasi keluarga kecantol di marga, pas bangga bisa bangga bareng, pas malu, malunya juga bareng. Bangga bisa semarga sama Radja Nainggolan, malu juga karena semarga sama Reynhard Sinaga.

Baca juga:  Cara Media di Indonesia Melihat Reynhard Sinaga dan 250 Juta ‘Hakim’ di Indonesia

Sejauh ini, organisasi marga Sinaga sedunia Parsadaan Pomparan Tiga Sinaga Boru/Bere (PPTSB) Sedunia belum mengeluarkan komentar.

Kasus korban kemarahan salah sasaran di Internet cuma gara-gara kesamaan nama bukan cuma terjadi pada para Reynhard Sinaga. Dulu pas jaman Asian Games 2018, penyanyi Joshua “Jojo” Suherman pernah dimaki-maki orang ketika pebulu tangkis Jonathan “Jojo” Christie melakukan blunder di salah satu pertandingannya. Terus ada Adi Saputra yang namanya sama persis dengan Adi Saputra yang viral ngerusakin motor karena nggak terima ditilang.

Pelajaran moral: Kalau mau nyerang, cek-cek dulu lah, Gaes. Kan kasihan.

Sebagai pengampu rubrik bahasa Versus, saya makin yakin bahwa ketaatan pada tata penulisan serta akurasi nama itu sangat penting. kalau nggak cermat, dampaknya terentang dari salah paham fatal sampai peluang kriminal.

Misalnya 2013 lalu ketika Irjen Djoko Susilo terseret kasus korupsi simulator SIM. Ketika kasus itu terbongkar, ia diketahui juga melakukan poligami diam-diam (karena PNS, TNI, dan Polri nggak boleh poligami) tapi bisa menikah secara sah. Lah, gimana ngakalinya? Ia memakai nama Joko Susilo saat mencatatkan pernikahan keduanya.

Terus ada postingan yang tempo hari saya lihat di Twitter berisi percakapan transaksi online. Obrolan sih lancar, sampai kemudian calon pembeli nawar harga dengan bertanya “Berapa nett’e” yang bikin si penjual ngamuk karena dikira melecehkan. Coba kalau nulisnya tertib, kata “nett-e” alias “harga nett-nya” kan nggak bakal salah paham dikira minta “netek”. Hiy.

Baca juga:  Horor Reynhard Sinaga, WNI Pemerkosa Pria Terbanyak dalam Sejarah Inggris

Walau kadang, penulisan yang nggak peduli aturan memang disengaja buat mengakali aturan sih. Kayak yang dilakukan netizen ketika mau berkelit dari sensor di media sosial. Ketika mereka mau nulis kata-kata sensual, nulisnya dimodifikasi jadi “k0nt01” atau “b0k3p”. Yang terbaru saya deteksi di Instagram, akal-akalan itu sudah merambah pakai aksara asing kayak “køñtóÍ”.

Saya jadi teringat kisah Gus Dur yang pernah ditulis Mojok. Pada suatu masa di era Orde Baru, Gus Dur sempat jadi mubaligh yang dilarang mengisi pengajian publik. Hal itu sempat bikin bingung panitia yang sedang mengurus izin pengajian yang diisi Gus Dur ke kantor polisi.

Si panitia yang sempat cemas itu kemudian heran kenapa polisinya kok mengizinkan pengajian itu berjalan. Usut punya usut, itu karena si polisi tidak mengenali bahwa nama “Abdurrahman Wahid” di kolom pengisi acara adalah Gus Dur yang diwanti-wanti penguasa saat itu.

Para Reynhard Sinaga sedunia, yang sabar ya. Badai pasti berlalu.

BACA JUGA Haruki Murakami, Rabindranath Takur, Puthut EA, AS Laksana, Zen RS atau artikel lainnya di VERSUS.