MOJOK.COBelum puas beberapa kali jumpa pers, Moeldoko membuat post Instagram pertamanya yang menyindir kebaperan elite Partai Demokrat. Sayang, pernyataan ini mengandung blunder.

Di tengah sorotan terhadap PDI Perjuangan yang kadernya tengah tersangkut korupsi bansos Covid-19, kisruh Partai Demokrat tahu-tahu muncul mencuri perhatian. Isu yang cukup hangat memang. Asyik untuk dibicarakan di grup WhatsApp karena memancing sejumlah spekulasi. Maklum saja, banyak detail yang masih abu-abu.

Mulanya karena konferensi pers ketua umum Partai Demokrat saat ini, Agus Harimurti Yudhoyono yang sejak beberapa tahun lalu di-branding dengan panggilan AHY. Senin siang pekan ini (1/2), AHY menggelar jumpa pers yang menyatakan telah ada upaya dari kader, eks-kader, dan non-kader Partai Demokrat untuk menggelar kongres luar biasa partai dengan tujuan mengudeta dirinya sebagai ketua umum.

Tidak cuma sampai di situ. Kabar ini semakin sensasional karena konon para pengudeta hendak merebut kursi ketum dari AHY agar bisa mencalonkan ketum baru sebagai calon presiden 2024. Benar-benar kepercayaan diri yang tak terkira.

“Konsep dan rencana yang dipilih oleh para pelaku untuk mengganti dengan paksa Ketum PD yang sah adalah dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB),” demikian pernyataan AHY. “Untuk memenuhi syarat dilaksanakannya KLB, pelaku gerakan menargetkan 360 orang para pemegang suara yang harus diajak dan dipengaruhi dengan imbalan uang dalam jumlah yang sangat besar.”

Mau tak mau kabar ini menjadi kejutan bagi publik karena bertepatan dengan terjadinya militer di Myanmar. Jika sudah disorot bagaimana kudeta Myanmar secara sangat kebetulan diiringi tembang tekno sarat kritik “Ampun Bang Jago” buatan seniman Manado, kudeta ini juga secara kebetulan mirip dengan percobaan kudeta Partai Demokrat karena “pelakunya” sama-sama dari kalangan militer.

Baca juga:  Apa Itu Alutsista TNI dan Mengapa Ia Ditulis Sebagai Akronim

Berdasarkan laporan para kader, AHY menyebut ada lima orang yang diduga terlibat percobaan kudeta ini. Namun, ia no mention siapa saja mereka. AHY hanya memberi petunjuk bahwa satu orang adalah kader aktif, tiga orang eks-kader, dan satu orang bukan kader yang sedang menjadi pejabat penting di pemerintahan Jokowi.

Informasi terakhir tersebut tentu saja langsung mengejutkan banyak orang. “Wah, nama Jokowi disebut-sebut nih,” begitu pikir para analis politik kelas warkop. Apalagi saat ini Partai Demokrat berstatus sebagai partai tak kebagian jatah kabinet oposisi, bertandem dengan PKS. Spekulasi makin gayeng karena politikus Demokrat Rachland Nashidik membumbui bahwa rencana kudeta ketum ini telah (((direstui))) Menko Polhukam Mahfud Md.

Tak butuh waktu lama untuk tahu siapa tokoh pejabat yang dimaksud. Orang tersebut adalah Jenderal Purnawirawan Moeldoko, kepala Staf Kepresidenan saat ini.

Usai nama Moeldoko disebut, secara beruntun menyusul informasi identitas calon-calon pengudeta lainnya. Mereka adalah mantan sekjen Demokrat Marzuki Alie, mantan bendahara umum Muhammad Nazaruddin, mantan wakil ketua komisi pengawas Darmizal, dan kader aktif sekaligus anggota DPR RI dari PD Jhoni Allen Marbun.

Hingga hari ini, kelimanya tengah disinari lampu sorot keingintahuan publik. Walau demikian, sarankan untuk tidak tergoda menyebut mereka sebagai “Lima Sekawan” ala tokoh-tokoh novel petualangan Enid Blyton. Sebab, ini perlu saya ingatkan, dalam tim Lima Sekawan Enid Blyton, anggota kelima adalah Timmy yang notabene seekor anjing.

Baca juga:  Kesulitan yang Dihadapi Kalau Kamu Jadi Timses Prabowo-Sandi

Kembali pada konferensi pers AHY.

Terkait keterlibatan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di think tank pengudeta ketum, AHY pun memutuskan mengirim surat kepada Presiden Jokowi. Isinya memberi tahu soal tingkah polah anak buahnya.

Tentu saja konferensi pers AHY tersebut membuat wartawan segera merubungi Moeldoko untuk mengetahui tanggapannya. Dinamika semakin seru karena Moeldoko tak menyanggah telah bertemu sejumlah kader Demokrat beberapa kali. Ia juga mengakui bahwa para tamu ini curhat kepadanya, yang bukan kader maupun eks-kader Demokrat, mengenai situasi internal.

Namun, Moeldoko menyakinkan bahwa orang berkunjung ke rumahnya adalah hal biasa. Ia bahkan menyindir kekhawatiran berlebih elite Partai Demokrat. “Kalau anak buahnya enggak boleh pergi ke mana-mana, diborgol saja,” ujarnya.

***

Moeldoko boleh mengode AHY agar tak jadi pemimpin baper dan menilai semua drama ini berlebihan. AHY dan SBY sah-sah saja khawatir mengingat kisruh ini mungkin lanjutan perpecahan internal PD yang melahirkan kubu Condet dan kubu Cikeas, berujung acara pecat-pecatan tahun lalu. Sejumlah person insignifikan juga bebas menunggangi isu dengan ngide bikin deklarasi dukung Moeldoko jadi ketum dan capres di depan kantor KSP besok.

Yang jelas, sengkarut isu kudeta ketum Demokrat membuat Moeldoko harus bolak-balik memberi pernyataan kepada publik. Terakhir, untuk pertama kalinya ia membuat post Instagram yang didedikasikan untuk menanggapi tudingan ini. Dan di sinilah saya melihat untuk pertama kali pula, Moeldoko membuat blunder.

Baca juga:  Kosakata Bahasa Indonesia yang Bikin Salah Paham, dari 'Nyinyir' Hingga 'Wacana'

“Saat sekumpulan laki laki menikmati kopi, pembicaraan bisa melebar dari soal joke ringan, pekerjaan, sosial, seni, olahraga, bahkan politik,” demikian tulisan Moeldoko yang cukup mengundang decak kagum saya karena bersih dari typo.

“Setelah habis secangkir, kita bisa kembali ke pekerjaan masing-masing dimana semua sepakat ‘no heart feeling‘. Ngopi membuka wawasan kita. Kenapa untuk ngopi saja, harus pakai lapor atau minta ijin. Toh menurut sebuah artikel di @natgeoindonesia ‘Minum Kopi Bermanfaat Bagi Pendengaran’ a.k.a bisa mencegah gangguan pendengaran,” lanjutnya lagi, yang langsung bikin saya langsung menarik kekaguman tadi.

Kepada Pak Jenderal Purnawirawan Doktor Moeldoko yang terhormat, okelah, menyebut ijin alih-alih izin bisa dianggap variasi, tapi menulis dimana adalah kesalahan fatal. Demikian juga a.k.a yang mestinya a.k.a. (dengan satu titik lagi di akhir). Jika tak mau repot, Bapak bisa pakai versi aka tanpa titik yang sebenarnya malah tepat. Tapi yang terutama, Pak Moeldoko van Kadiri, seharusnya no hard feelings. Bahaya lho keukeuh pakai no heart feeling. Nanti disamber netizen pakai meme andalan: Nggak bisa bahasa Inggris.

N.B.: Ngomong-ngomong, Pak, kalau kantornya bernama “Kantor Staf Presiden”, kok kepalanya berjabatan “kepala staf kepresidenan” sih? #BeneranNanya

BACA JUGA Membayangkan Rekonsiliasi Kultural Moeldoko-AHY sebagai Sesama Jebolan Akmil dan esai-esai politik bahasa di rubrik VERSUS lainnya.