Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Susah-Susah Belajar Bahasa Jawa, Kalian Malah Pakai Elu Gua

Arief Noer Prayogi oleh Arief Noer Prayogi
8 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Belajar Bahasa Jawa itu susah bagi pendatang. Semakin sulit kalau yang diajak belajar malah pakai elu gua.

Bagi saya yang berasal dari Depok, Jawa Barat, kuliah di tanah orang memiliki kesulitan tersendiri. Sudah tiga tahun lebih saya hidup di Surakarta, nyatanya tidak serta merta membuat saya fasih dalam berbahasa Jawa. Padahal saya sudah mencoba mengamalkan beberapa cara yang diajarkan sama guru les yang kasih tahu bagaimana mempelajari bahasa dengan baik dan benar.

Iklan

Misalnya bertanya kepada kawan saya mengenai kata yang belum saya ketahui artinya atau mencoba melakukan pencitraan agar terlihat mudeng, yaitu menggunakan Bahasa Jawa sederhana dalam percakapan sehari-hari. Tapi yo embuh yo kok isih angel men ngomong jowo.

Sebenarnya saya cukup paham kenapa belajar bahasa daerah menjadi hal yang sangat sulit. Apalagi di tanah Jawa, daerah yang menjadi faktor kunci hajat politik elektoral pada tahun 2019 besok. Salah satu kendala tersebut—yang telah saya alami sepanjang 22 tahun hidup di bumi—adalah beragamnya jumlah dialek dalam bahasa tersebut.

Bayangkan, di Jawa terdapat banyak dialek yang mengakibatkan tidak adanya standar umum untuk jadi panduan dalam berbahasa. Di satu sisi menjadi kekayaan lokal dan membuatnya istimewa, namun di sisi lain membuat orang-orang kayak saya jadi sulit untuk mempelajarinya. Apalagi saya, yang ketika pelajaran Bahasa Sunda di sekolah cuma ngandalin contekan teman.

Meski begitu, Bahasa Jawa tidak benar-benar asing dalam kehidupan saya. Sebab, kampung halaman orang tua saya di Kroya, Cilacap. Sejak kecil, tiap kali mudik, saya memperhatikan bahwa bahasa yang digunakan oleh orang Cilacap beserta saudara-saudara saya ya Jawa Ngapak. Sehingga dari kecil, batita, balita, sampai akil balig, saya tidak boleh kehilangan fokus dalam memperhatikan perbincangan di keluarga saya. Dengan pengalaman langsung berbahasa Jawa di keluarga saya itu saja, saya masih sering kebolak-balik dalam menempatkan grammar ngapak dengan tepat.

Sedangkan ketika saya kuliah di Solo, tentu ceritanya beda lagi. Adanya konsep ngoko, madya, dan krama membuat variasi Bahasa Jawa yang masuk ke kuping saya semakin beragam. Belum lagi teman saya yang berasal dari Jawa Timur. Dua kata pamungkas mereka, yaitu “Cak” dan “Cuk” biasa keluar dari mulut mereka, tapi anehnya, teman saya yang asli Solo malah berpesan jangan menggunakan kata itu—terutama “cuk”—dalam percakapan sehari-hari. Hedeh, terus siapa dong yang benar?

Lain hal ketika para mahasiswa pendatang kayak saya, yang tidak bisa berbahasa jawa namun enggan untuk belajar. Lha gimana? Berusaha belajar saja nggak, apalagi mengamalkan. Alih-alih mengakui kesalahan, mereka malah menjadikan tajuk nasionalisme sebagai legitimasi, “pakai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dong, biar semuanya ngerti,” begitu katanya. Halah, nasionalisme ndasmu meletot!

Kalau pendatang yang enggan belajar bahasa Jawa di tanah Jawa sudah bisa kita anggap menyebalkan, eit nanti dulu, masih ada satu jenis lagi, yang menjadi jenis paling menyebalkan di dalam sebuah pergaulan praktik-praktik gegar budaya.

Yaitu orang yang aslinya medhok tapi memaksakan lidahnya untuk memakai gua elu dengan niat ingin menaikan derajat pergaulan mereka. Padahal jatuhnya maksa. Saya susah-susah belajar Bahasa Jawa, eh dia malah pakai gua elu ke saya. Saya sih berbaik sangka saja, barangkali dia melakukannya agar mudah akrab dengan saya, tapi lama kelamaan saya pikir kok jadi mengganggu pendengaran ya jadinya?

Tengok salah satu teman saya bernama Burhan (bukan nama sebenarnya) yang berasal dari Kebumen. Seorang pemuda dengan paras cukup tampan dan mempunyai selera pakaian yang oke punya. Pria yang dengan mudahnya memikat hati mahasiswi lewat senyum yang ia berikan. Dengan kebiasaan ngapaknya, si Burhan selalu maksa gaul tiap berbicara kepada teman-temannya yang berasal dari Jabodetabek—seperti saya.

Saya perhatikan betul, si Burhan ini selalu mengganti kata rika atau inyong yang biasa ia pakai ketika ada di rumah, dengan gue namun menggunakan pengejaan N-G-G-U-E. Ya bukan gaul jatuhnya, namun membuat saya jadi cemas. Takut saja saya kalau mendadak si Burhan sampai keselek sama lidahnya sendiri di tengah-tenah perbincangan dengan saya. Lha kan serem.

Saya tahu, ilmu dalam memahami Bahasa Jawa saya terbilang lambat. Bahkan nyaris jeblok, tapi bukan berarti saya tidak mau terus belajar.

Paling tidak, sampai sekarang, saya baru bisa memahami orang lain berbicara dengan menggunakan Bahasa Jawa, meski tanpa bisa membalas percakapan dengan menggunakan Bahasa Jawa juga.

Iklan

Salah satu trik yang saya lakukan biasanya menggunakan kata-kata seperti nggih agar terlihat paham ketika mendengarkan penjelasan seseorang atau sampeyan ketika memanggil lawan bicara yang lebih tua. Ya biar kelihatan Jawa gitu.

Mendengar orang lain berbicara Bahasa Jawa, kemudian berbicara sedikit-sedikit hingga lancar. Kalau terdengan aneh, ya saya mohon maaf. Sehingga tak perlulah kalian jadi kelewat baik memakai Bahasa Jabodetabek untuk bicara kepada orang kayak saya lalu tenggelam dalam pepatah klasik: Wong Jowo Ilang Jawane.

Atau jangan-jangan ketika saya ngomong Jawa, terdengar oleh teman-teman saya seperti si Burhan ngomong “NGGUE” ke saya ya? Duh.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2018 oleh

Tags: bahasa jawacakcilacapcukdepokelugegar budayagrammarguajabodetabekjawajawa baratJawa TimurkebumenkroyangapaksoloSurakarta
Arief Noer Prayogi

Arief Noer Prayogi

Artikel Terkait

Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO
Kilas

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO
Kilas

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO
Kilas

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO
Liputan

Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

28 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.