Perang Tagar Dulu dan Sekarang: 2014 Pakai Buzzer, 2019 Pakai Giveaway

MOJOK.COKenapa sih ada orang yang tertarik sama giveaway dan mau aja gitu nyebarin tagar hanya demi pulsa atau voucher Rp50 ribu?

Jika sejak 2014, netizen untuk kali pertama “berkenalan” dengan fenomena buzzer, maka pada 2019 ini netizen mulai berkenalan dengan spesies baru yang muncul di dunia siber. Yakni munculnya akun pemberi giveaway ke netizen dengan syarat menyertakan sebuah tagar agar bisa trending di media sosial, wabilkhusus di Twitter.

Fenomena ini paling kentara terjadi pada periode Agustus-September 2019 kemarin. Ketika publik masih terbelah mengenai pro-kontra soal revisi UU KPK. Baik secara langsung melalui aksi massa di mana-mana, sekaligus perdebatan di dunia maya.

Saat itu, di Twitter, mendadak muncul tagar #KPKKuat, #KPKPatuhAturan, sampai #KPKLebihBaik. Sebuah gerakan counter untuk respons publik yang menolak revisi UU KPK. Bahkan tidak hanya muncul, tagar-tagar ini juga mampu jadi trending berkali-kali, sehingga menciptakan atmosfer bahwa netizen (baca: publik) kebanyakan mendukung revisi UU KPK yang kemarin.

Pertanyaannya, benarkah netizen kita mayoritas mendukung DPR untuk melucuti kemampuan KPK saat itu? Hm, ternyata nggak juga.

Usut punya usut, jebul tagar semacam itu bisa trending karena ada sejumlah netizen yang tertarik untuk menyebarkannya karena ada iming-iming hadiah dari akun-akun kloningan pemberi giveaway.

“Di sini ada namanya giveaway, ada fenomena baru. Pada Pilpres 2014 belum ada, pilpres (2019) kemarin itu banyak sekali. Secara konsisten mereka buat giveaway murah sekali, Rp50 ribu. Itu banyak sekali, orang yang banyak nge-RT. Isinya nggak ada relasi dengan KPK, tapi ada tagar,” kata Ismali Fahmi, pendiri dan analis Drone Emprit Academic.

“Jadi yang diangkat adalah tagarnya. Ketika tagar itu masuk dan jadi trending topic di Twitter, yang penting muncul. Itu jadi satu alat. Tools mereka untuk memanipulasi publik,” tambah Ismail Fahmi.

Hampir mirip seperti cara yang dilakukan buzzer, akun penyebar giveaway ini punya tujuan agar sebuah tagar jadi perbincangan di Twitter. Ketika akhirnya sebuah tagar ramai serta jadi trending dalam jangka waktu yang lumayan lama, maka biasanya ada media mainstream yang memberitakannya.

Nah, ketika sudah diberitakan, tagar ini secara otomatis bakal berpindah platform. Dari yang habitatnya hanya di Twitter, lalu berpindah ke Facebook, Instagram, bahkan—bukan tidak mungkin—masuk juga ke grup-grup Whatsapp keluarga. Akhirnya persepsi publik bakal bisa terpengaruh karena tagar-tagar ini.

Usai fenomena tagar soal KPK, sempat juga muncul trending tagar #SawitBaik, di tengah-tengah kegeraman masyarakat akan praktik pembakaran hutan karena terkaitnya perusahaan-perusahaan sawit. Cara yang digunakan juga sama, memberi iming-iming hadiah ke netizen bagi mereka yang mau menyebarkannya.


Fenomena ini pun juga masih muncul akhir-akhir ini. Paling tidak, Bhagavad Sambadha lewat akun Twitter @fullmoonfolks dengan cukup selo mengumpulkan beberapa akun-akun bikin trending tagar-tagar “pesanan” itu. Kita bisa tahu secara langsung bagaimana kelakuan akun-akun ini dalam memanipulasi persepsi publik.


Beberapa di antaranya seperti misalnya kampanye tagar #TerorisBerjubahHAM yang merupakan counter dari respons publik terhadap pernyataan Menteri Agama, Fachrul Razi, soal rencana pelarangan penggunaan cadar di instansi pemerintahan.


Tagar ini mempersepsikan kalau orang-orang yang mengkritik Fachrul Razi sedang mengenakan jubah HAM ke tertuduh kelompok teroris—yang dituduh semena-mena seperti teroris hanya karena pakainnya. Tagar yang sebenarnya jahat sekali.

Namun, bukan itu pertanyaan lanjutan dari fenomena ini. Pertanyaan lanjutannya adalah…

….kenapa sih ada orang yang mau aja gitu nyebarin tagar hanya demi pulsa atau voucher Rp50 ribu?

Jawabannya tentu saja karena tak perlu effort besar untuk melakukannya.

Cukup follow, reply, retweet, udah deh, kita langsung berpeluang dapat pulsa atau voucher. Sangat mudah. Kegiatan ini bahkan bisa dilakukan sambil makan, naik motor, bercocok tanam, main kartu remi, karambol, atau bahkan saat boker sekalipun.

Itulah kenapa, ketika ada usulan kenapa sih hadiah giveaway untuk yang beginian hadiahnya tidak benar-benar menggiurkan gitu? Dapat PS4 misalnya, liburan ke Bali, atau berangkat haji gitu? Ya ngapain? Lah wong pulsa Rp50 ribu aja udah efektif kok.

Jangan juga menilai kalau netizen yang tergoda dengan voucher Rp50 ribu itu begitu mudah menggadaikan dirinya. Oke deh, barangkali angka itu terdengar sangat kecil buat kelas menengah ngehek kayak kita yang gajinya di atas UMR.

Jangan lupa, yang main Twitter itu kan juga ada anak-anak remaja, bapak-bapak selo yang lagi ngetem nunggu orderan, atau abang bakso yang nungguin pelanggan. Secara itung-itungan ekonomis, fenomena kayak gini sedikit membantu mereka.

Kalau sehari saja ikut 5-10 giveaway model begini, siapa tahu satu di antaranya nyantol. Cuma ngabisin waktu nggak sampai semenit, habisin kuota nggak sampai 1 MB, berpeluang dapat Rp50 ribu lagi.

Lumayan banget ya kan ketimbang ikut parlay judi bola?

BACA JUGA Tagar Turunkan Jokowi Berkali-kali Coba Tunggangi Aksi Mahasiswa atau tulisan AHMAD KHADAFI lainnya.

Exit mobile version