Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Soal Pemotongan Nisan Salib: Meneladani Nama “Maria” Jelang Natal

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
19 Desember 2018
A A
Pemotongan nisan salib MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sugeng Natal, Bu Maria Sutris Winarni. Terima kasih karena kembali mengajarkan inti ajaran Katolik di tengah kisruh pemotongan nisan salib.

Lewat sebuah surat pernyataan, Maria Sutris Winarni, istri dari almarhum Albertus Slamet Sugihardi, warga RT 53 RW 13, Purbayan, Kotagede, mengungkapkan bahwa dirinya iklas menerima jika simbol agama nisan salib itu dipotong oleh warga. Surat itu ditandatangani di atas materai, berjejeran dengan tanda tangan Bejo dan Ketua RT 53, Soleh Rahmad Hidayat.

Iklan

“Keluarga sudah bisa menerima, dia tidak ada masalah. Mungkin yang memviralkan itu di luar keluarga,” ungkap Bejo kepada wartawan Tirto (18/12).

Bejo Mulyono adalah adalah tokoh masyakarat. Lewat penuturan Bejo, kita juga tahu bahwa alhamarhum Slamet dan keluarganya adalah warga yang aktif berkegiatan di Purbayan, Kotagede. Mereka aktif mengikuti kegiatan arisan, ronda, bahkan Slamet bersedia menjadi pelatih paduan suara ibu-ibu Muslim.

Lewat penuturan Bejo juga, pemotongan nisan salib sudah jadi “kesepakatan” antara warga dengan pihak keluarga alhamarhum, dan tokoh agama. Jenazah almarhum boleh dikuburkan di pemakaman Purbayan, tetapi tidak boleh ada simbol-simbol agama Nasrani. Lewat sebuah proses yang pada dasarnya kita semua tidak tahu kecuali berada di tempat, keluarga sepakat. Masalah selesai.

Seharusnya seperti itu. Masalah selesai, lewat sebuah surat pernyataan. Dengan semangat berbaik sangka, keluarga alhamarhum dan warga tidak punya masalah. Menjadi agak runyam ketika foto nisan salib yang terpotong itu menjadi viral di media sosial. Ramai-ramai, ribuan akun, menyuarakan bahwa Jogja sudah berhenti “berhati nyaman”. Toleransi di kota yang dianggap adem ayem ini dirasakan sudah hilang.

Saya tidak ingin masuk ke dalam konflik horizontal, konflik yang pada ujungnya tidak memberi manfaat bagi kedua kubu yang berseteru. Hal ini pun sebetulnya bisa dilihat dari sikap keluarga yang “memaklumi” keadaan, bahkan menerimanya secara iklas. Bukankah penyerahan diri ini bentuk tertinggi dari sikap tenggang rasa.

Saya yakin, tenggang rasa tidak berlaku satu arah, dari mayoritas untuk minoritas. Tenggang rasa juga berlaku dari minoritas kepada mayoritas. Banyak akun yang “mendorong” keluarga alhamarhum Slamet untuk menolak pemotongan nisan salib.

Namun, tahukah kamu, mereka adalah keluarga Katolik. Dan di ajaran Katolik, ajaran yang saya anut, bentuk iklas dan mengasihi sesama meski kita berada dalam tekanan, adalah inti dari yang namanya “memeluk agama Katolik”.

Akun-akun beragama Katolik marah dengan peristiwa pemotongan nisan salib? Ya nggak apa-apa. Marah adalah kehendak bebas, dan saya pun tidak bisa menjadi hakim yang menetapkan larangan. Toh tidak ada manusia yang sempurna, tidak cacat dari hasrat untuk marah. Bahkan Yesus pun bisa marah ketika Bait Allah justru digunakan untuk berjualan.

Namun, sebelum kamu marah dan menjadi SJW secara kaffah, mari kita duduk melingkar dan membicarakannya secara baik-baik. Seperti layaknya orang Katolik.

Mari berkaca, dan jika perlu, meneladani nama Maria, seperti nama baptis yang digunakan oleh istri alhamarhum: Maria Sutris Winarni.

Maria, ibu Yesus, adalah sosok paling paripurna menerapkan yang namanya devosi. Peristiwanya adalah kabar gembira ketika Maria tahu bahwa dirinya akan mengemban tugas dari Allah. Seorang malaikat datang kepadanya.

“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Iklan

Maria memang akan menerima kehendak Allah secara iklas dan penuh. Tetapi, ia tidak kehilangan logika akan sebuah keadaan. Maka, Maria lalu bertanya kepada malaikat: “Bagaimana hal itu akan mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Malaikat lalu memberi penjelasan, bukan sekadar mengingatkan saja. “Roh kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

Mendengar penjelasan malaikat, Maria lalu berserah diri. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:26-38).

Ibu Maria Sutris Winarni dan keluarga alhamarhum meneladani Ibu Maria, ibu Yesus secara sempurna. Lalu, mengapa kamu masih sibuk marah dan menyalahkan keadaan bahwa keluarga Katolik itu hidup di tengah-tengah kampung Islam?

Soal perdebatan hilangnya rasa toleransi di Jogja, silakan diperdebatkan secara sehat. Bicarakan baik-baik dengan pihak Keraton Jogja dan GKR Hayu. Toh mau tak mau, jika Keraton bergerak, Jogja tidak akan kehilangan frasa “berhati nyaman” yang ditumpuk oleh “istimewa” itu.

Namun, dari sudut pandang Katolik, ketika Ibu Maria Sutris Winarni sudah iklas di peristiwa pemotongan nisan salib, kita bisa apa? Situasi ini bisa berdiri sendiri, bisa juga tidak. Tergantung dari sudut pandang kamu.

Saya memilih melihatnya dari sudut pandang Katolik, dengan narasi tenggang rasa mengasihi sesama dan sebuah devosi. Mengapa? Karena jika pikiran radikal yang dominan, keluarga Ibu Maria Sutris Winarni yang bakal menanggung risiko dari kisruh pemotongan nisan salib secara langsung karena mereka yang hidup di tengah Purbayan, Kotagede. Bukan kamu, para SJW yang memburu RT, likes, share, dan subscribe.

Melihat dari sudut pandang yang berbeda memang bisa jadi pekerjaan yang berat. Tapi, bukankah rasa damai dan hidup tenang itu dimulai dari usaha-usaha untuk duduk tenang dan melihat sebuah situasi dari sudut yang terang?

Kepada keluarga Ibu Maria Sutris Winarni, saya ikut berbela sungkawa. Kepada Ibu Maria Sutris Winarni, secara pribadi, saya ucapkan terima kasih karena kembali mengingatkan saya akan inti ajaran Katolik, yaitu cinta kasih dan rasa iklas yang paripurna.

Sugeng Natal, Bu Maria Sutris Winarni. Berkah dalem.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2018 oleh

Tags: JogjaKatolikkotagedeMarianisan salib
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.