Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Lebaran + 1 hari. Hari Senin. Pagi hari. Saya, istri, dan anak sedang melaju di sebuah jalan besar di Sleman. Kami dari arah utara menuju selatan. Karena soto langganan sedang tutup, pagi itu, kami akan sarapan gudeg Jogja.

Pagi itu, pilihan untuk sarapan memang tidak banyak. Masih banyak gerai makanan yang tutup karena masih dalam suasana Lebaran. Sudah begitu, di Jogja sendiri, untuk menu sarapan, rasa-rasanya mengerucut ke dua menu saja, yaitu soto dan gudeg Jogja.

Kebetulan, anak saya yang baru berulang tahun ketiga pagi itu, suka makan gudeg. Maka, ketika melihat sebuah warung buka, kamu langsung berhenti dengan hati gembira. Maklum, pagi itu kami sudah keliling beberapa tempat dan perut sudah lapar.

Yang kami tidak tahu, hati gembira itu akan berubah menjadi cemberut setelah makan. Izinkan saya bercerita.

BACA JUGA: 4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Rasa gudeg Jogja pada umumnya

Jelas, saya tidak akan menyebutkan nama warung makan gudeg Jogja yang kami tuju. Pokoknya di sana. Pinggir jalan. Cita rasa yang ia tawarkan, ya sama seperti gudeg pada umumnya. Yang dominan adalah manis. Satu hal yang agak menolong adalah kreceknya yang cukup pedas.

Pesanan kami bertiga seperti ini:

Saya: bubur gudeg, plus telur dan tahu. Termasuk krecek dan es teh.

Anak: nasi gudeg plus telur.

Istri saya: nasi gudeg, plus ayam dan telur. Minumnya es teh karena nggak ada es jeruk.

Telur dan tahu di warung gudeg Jogja ini cukup oke. Rasa manisnya pas dan masih terasa segar. Artinya, si penjual menggunakan bahan-bahan yang bagus. Sementara itu, untuk ayamnya, juga termasuk oke. Namun, agak terlalu keras untuk anak kecil. Kalau untuk santapan orang dewasa, tidak menjadi masalah.

Kesimpulannya, gudeg Jogja yang kami nikmati pagi itu nggak mengecewakan, tapi juga nggak istimewa banget. Istilahnya, B aja.

Soal rasa, nggak ada masalah. Rasa kaget muncul di atas motor ketika kami pulang.

Baca halaman selanjutnya: Sedih, jadi korban nuthuk rega.

Legenda nuthuk rega di momen tertentu

Yang membayar pagi itu adalah istri saya. Sementara saya, menghabiskan nasi gudeg milik anak saya. Yah, namanya jadi orang tua, salah satu tugasnya adalah menjadi “tukang sapu” sisa makanan anak. Eman-eman kalau tidak dihabiskan.

Setelah itu, kami naik motor dan melaju pulang. Perut kenyang habis makan gudeg Jogja bikin mood saya bagus. Namun, sedetik kemudian, saya misuh: “Jancok!”

Istri saya baru saja bilang gini: “Tadi makan habis 103 ribu.” Setelah itu dia tertawa.

Ingat lagi, inilah pesanan kami bertiga:

Saya: bubur gudeg, plus telur dan tahu. Termasuk krecek dan es teh.

Anak: nasi gudeg plus telur.

Istri saya: nasi gudeg, plus ayam dan telur. Minumnya es teh karena nggak ada es jeruk.

Saya adalah orang yang nggak terlalu memusingkan “habis berapa” untuk sebuah makanan yang menurut saya memang kayak. Misalnya, saya dan istri bisa habis lebih dari Rp150 ribu di rumah makan sate kambing Sor Talok di Bantul dekat Kampus ISI.

Namun, untuk sebuah makanan yang menurut saya nggak layak “semahal itu”, saya jatuhnya jadi sedih. Iya, saya memang memaki, tapi bukan semata marah. Lebih ke sedih. Saya maklum kalau harga jadi agak mahal di momen tertentu. Misal, suasana masih Lebaran, penjual atau pedagang jadi nuthuk rega.

Namun, untuk menu gudeg Jogja yang “gitu aja”, saya kaget jadi korban nuthuk rega. Kalau di momen normal, mungkin kami hanya akan habis Rp75 ribu. Itu kalau per menu Rp25 ribu yang mana sebetulnya nggak masuk akal juga karena saya dan anak saya cuma lauk telur.

Gudeg Jogja yang bikin sedih

Sekali lagi, saya tidak marah, cuma sedih. Maksudnya begini:

Penjual gudeg Jogja yang nuthuk rega itu sedang berjudi dengan taruhan tinggi. Memang, di satu momen itu, dia akan dapat untung besar. Namun, dia sedang mengorbankan dua hal yang sangat penting.

Pertama, continuity atau ‘keberlanjutan’. Calon pelanggan yang baru kali pertama menikmati, pasti akan kapok. Meskipun si calon pelanggan ini tahu si penjual sedang memanfaatkan momentum. Namun, kalau sudah kadung kecewa, dan celakanya tidak mendapatkan makanan yang istimewa, dia tidak akan balik lagi.

Kedua, dan paling bahaya, adalah word of mouth (WoM). Dalam dunia marketing, ini adalah strategi pemasaran melalui rekomendasi lisan, tulisan, atau elektronik dari konsumen ke konsumen lain berdasarkan pengalaman nyata. Bisa juga terjadi secara organik, ketika si pelanggan senang lalu sharing di medsos.

Lalu, bagaimana kalau si pelanggan kecewa lalu sharing? Itu dia. Apalagi kalau jadi viral. Si gudeg Jogja yang nuthuk rega ini bisa kehilangan pelanggan tetap karena faktor kepercayaan. Itulah yang bikin saya sedih.

BACA JUGA: Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

Nuthuk rega sudah jadi budaya 

Yang namanya nuthuk rega memang sudah jadi budaya. Apalagi di tempat wisata atau di momen tertentu. Saya memaklumi budaya ini. Semata karena mau memberantasnya juga nggak mungkin. Yang bisa saya lakukan adalah menghindari belanja di tempat dan momen “tertentu” itu tadi.

Namun, namanya hidup, nggak aneh kalau saya dan keluarga jadi korban penjual gudeg Jogja yang nuthuk rega. Untung, si penjual ketemu saya dan istri yang malas mempermasalahkan hal-hal kayak begini. Gimana kalau ketemu wisatawan? Ah, jangankan wisatawan, orang lokal Jogja saja bisa emosi kalau suruh bayar Rp103 ribu untuk menu yang “kayak gitu”.

Oleh sebab itu, saya berdoa, kalau tulisan ini bisa sampai ke semua penjual yang hendak nuthuk rega. Saya tidak akan melarang. Lha siapa saya kok mengatur kehidupan panjenengan semua. Cuma, saya mau berpesan, kalau perjudian yang panjenengan semua lakukan itu adanya cuma rugi dan rugi.

Untuk penjual gudeg Jogja, plis deh, i love gudeg Jogja. Pertahankan rasa, kualitas bahan, dan harga yang masuk akal. Udah, itu saja. Saya yakin, kalian pasti nggak kekurangan pelanggan. Bathi sithik ora popo, tur ajeg. Gitu maksud saya.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Gudeg Jogja yang Membuat Wisatawan Kecewa dan Wajib Kamu Hindari dan pengalaman menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version