Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menjadi Orang yang Tidak Suka Cowok Gondrong Meski Hampir Semua Cewek Suka

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
30 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebuah penelitian menyebutkan lebih banyak wanita berusia 18-34 tahun menyukai cowok gondrong dibandingkan mereka yang tidak suka cowok gondrong. A-apa???!!

Saya pernah berdebat dengan kakak saya soal seorang aktor bernama Ramon Y Tungka. Kala itu, Ramon kerap muncul dengan tampilan rambut gondrong. Kakak saya kesengsem setengah mati dan terus-terusan membicarakannya kala kita berdua lagi sama-sama gabut.

Iklan

Saya, sementara itu, cuma bisa menggelengkan kepala setiap kali foto Ramon Y Tungka dihadapkan ke depan muka saya. Sebagai tipe anak kolot, konvensional, dan membosankan, saya jelas nggak tahan melihat cowok-cowok berambut gondrong. “Apa-apaan!” batin saya, “Lah wong rambut saya aja pendek dan sering dikatain mirip Dora, ini kenapa malah ada cowok yang rambutnya gondrong???”

Dulu, saat baru resmi menjadi anak kuliahan, saya melihat-lihat timeline di Instagram, lalu terkejut sendiri melihat sebuah foto cowok gondrong lagi nangkring di atas perahu, lengkap dengan caption supergalau tentang cinta. Bukan, bukan keadaan yang agak nggak nyambung blas itu yang bikin saya terkejut, melainkan objek foto di sana: teman SMA saya.

Saya shock, terguncang. Seingat saya, teman saya ini dulu berambut cepak dan rapi, serta selalu terhindar dari razia dadakan yang diadakan oleh guru BK. Tapi—oh my God, demam gondrong ini rupa-rupanya memang menyerang laki-laki mana saja, tanpa pandang bulu!!! Bahkan, kamu tidak harus menjadi Ramon Y Tungka atau Chicco Jerikho untuk menjadi cowok gondrong!!! Kamu hanya perlu menjadi…

…cowok!!!

*JENG JENG JENG*

Setelah menenangkan diri dan kekagetan tersebut, saya mulai menggeleng-gelengkan kepala lagi. Saat itu, saya langsung bersyukur memiliki kekasih yang rambutnya cepak. Bahkan—saya bangga sekali—laki-laki ini selalu rajin pergi ke tukang cukur ketika rambutnya sudah menyentuh telinga. Ah, idaman sekali. Kadang-kadang saya ikut ke tukang cukurnya, lalu merekam adegan cukur rambut ini untuk dimasukkan ke Instagram Story biar syahdu dan romantis, meski ujung-ujungnya putus juga. Hahaha.

Meski belum pernah menjalin kedekatan dengan cowok gondrong dan sudah dikhianati mati-matian oleh cowok-tidak-gondrong, saya tetap merasa agak-agak gimanaaaa gitu sama mas-mas yang rambutnya panjang. Dengan kesadaran penuh, saya rasa ketidaksukaan saya ini bertentangan dengan opini populer masyarakat—persis seperti ketidaksukaan saya pada kucing dan kebencian saya pada buah durian.

Sebuah situs kencan di luar negeri pernah membuat survei terhadap 67.400 wanita yang ditanyai soal pendapat mereka mengenai cowok gondrong. Hasilnya, 82 persen wanita berusia 18-34 tahun mengaku lebih suka cowok gondrong dibandingkan mereka yang tidak gondrong. Saat membaca hasil ini, saya bengong. Seriously, cuma ada 18 persen wanita yang sama seperti saya, nih???

Jangankan membaca hasil penelitian, ha wong dari 5 orang kru perempuan di Mojok, 4 di antaranya mengaku suka pada cowok gondrong—cuma 1 orang yang nggak: saya sendiri!

Merasa menjadi minoritas, saya terus membaca hasil penelitian tadi selanjutnya. Syukur, ternyata ada poin yang menyebutkan bahwa 37 persen wanita menyukai cowok gondrong. Sebelum saya sempat bersorak gembira, saya akhirnya menyadari bahwa responden wanita yang dimaksud adalah mereka yang berusia 45-50 tahun.

Umm, okay.

Tapi begini, loh, Mas-mas dan Mbak-mbak sekalian: meski menjadi kaum anti-mainstream, saya (dan cewek-cewek lain yang tergolong dalam kelompok-18-persen) punya alasan tersendiri mengapa harus merasa terganggu dengan kegondrongan yang tampak dari kepala para pria. Coba sini, duduk dulu dan berdiskusi~

Iklan

Pertama-tama, saya bukannya membenci cowok mana saja dengan rambut gondrong; saya cuma nggak suka aja gitu sama rambut gondrongnya. Ingat: sama rambutnya. Kalau kemudian saya menyebut “nggak suka cowok gondrong”, sesungguhnya itu hanyalah untuk mempermudah saja, mylov~

Beberapa orang menyebut cowok gondrong cenderung tampak tidak rapi, jorok, dan tidak peduli penampilan. Saya mengangguk-angguk saja membaca pernyataan ini karena sedikit banyak merasakannya juga. Tapi, teman saya yang suka cowok gondrong melempar pembelaan:

“Kan rambut bisa dikucir!!!”

Ckckck, selain bisa dikucir, rambut juga bisa dicukur kan, Sayangku???

Kedua, saya nggak suka cowok berambut gondrong ini karena…

…bapak dan ibu saya superkolot, kuno, dan bersikap ‘sangat-orang-tua’ (YAIYALAH)!!!

Jangankan gondrong, ha wong dateng ke rumah pakai kaos saja sudah dipelototin dan dianggap nggak sopan, gimana kalau pakai rambut gondrong??? Lagi pula, karena malas berdebat dan juga ketularan kolot, saya pun lebih suka memilih jalur aman: menghindari kegondrongan-kegondrongan yang mungkin muncul dari gebetan incaran.

Ketiga, saya merasa tidak semua cowok cocok berambut gondrong.

Eits, eits, jangan sebel dulu membaca alasan saya yang ini. Dulu, saya pernah diprotes (mantan) pacar karena memakai lipstik berwarna merah muda dan membubuhi wajah saya dengan highlighter. Katanya, jenis make up itu nggak cocok buat saya.

[!!!!!!11!!!!!1!!!]

Dengan alasan yang sama, saya pun merasa, rambut gondrong ini memang seperti make up: bisa tampak cucok badai saat ‘dikenakan’ oleh beberapa pria, tapi justru bakal berbalik menjadi nightmare jika ‘dipakai’ pria lain. Untuk itulah, mylov…

…rambutmu dicukur aja, please, Mas, please!!!

Keempat, melihat hasil penelitian yang tadi disebutkan, ada 82 persen wanita berusia 18-34 tahun yang mengaku menyukai cowok gondrong, sementara 18 persen sisanya tidak. Dari jumlah ini, alasan lain pun muncul, yaitu…

…saingan saya pun berkurang!!!

Ya, ya, ya, daripada saya menaruh cinta pada mas-mas gondrong yang jadi idaman cewek-cewek satu RT, mendingan saya mencari cowok berambut cepak yang jadi idaman versi saya sendiri: lucu, lucu, lucu, nggak marah kalau dikasih tebakan garing, dan—tentu saja—tidak suka selingkuh.

Itu saja sudah cukup, mylov~

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2018 oleh

Tags: cewek pakai make upcowok gondronglaki-lakipacaranrambut panjang
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran
Liputan

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Casual Date: Sebuah Kenikmatan Tanpa Batas yang Berbahaya MOJOK.CO
Esai

Casual Date: Kenikmatan Tanpa Batas dan Berbahaya yang Tidak untuk Dirasakan Semua Orang

28 Februari 2024
Rindunya Laki-laki yang Ditinggal Pulang Sang Istri Terkasih MOJOK.CO
Kilas

Rindunya Laki-laki yang Ditinggal Pulang Sang Istri Terkasih

7 Januari 2024
Keluh Kesah Laki-laki Perantau yang Tidak Bisa Masak MOJOK.CO
Uneg-uneg

Keluh Kesah Laki-laki Perantau yang Tidak Bisa Masak

1 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.