Pada titik ini, kalau ada influencer atau siapalah orang bermulut besar yang bilang kuliah itu scam, akan saya jawab, nggih, jenengan leres, Anda betul 100 persen, dan melanjutkan hidup.
Saya rasa menjelaskan hal tersebut itu bikin capek. Selain kita harus menjabarkan realitas-realitas yang amat kompleks, belum tentu juga yang dijelasin akan paham dan mau mendengarkan. Kalau ujungnya ditanya, “McLarenmu warna apa?” ya mending kita melakukan hal berguna yang lain saja sih.
Secara pribadi, saya tidak percaya omong kosong kuliah scam ini. Kerap kali orang yang melontarkan kuliah scam ini tidak memberi argumen yang logis dan setidaknya, memahami realitas. Saya memandang perkara ini sesederhana bahwa semua orang wajib dan berhak mengenyam pendidikan tinggi. Maka, saya nggak pernah menyertakan scam, rugi, atau apalah itu dalam kuliah.
Kalau kamu nggak percaya sama bahwa orang butuh pendidikan tinggi, monggo, tapi ya setidaknya nggak usah ngajak-ajak. Nek goblok, dewe wae, wong liyo rasah dijak.
Kuliah scam itu kerap berkaitan dengan urusan duit
Pembicaraan tentang kuliah scam yang rame di media sosial belakangan ini muncul dari influencer yang ndilalah nikah muda. Tapi saya nggak sedang bahas apa yang dia katakan. Saya tidak peduli dia siapa, tak tahu dia siapa, dan saya yakin betul saya nggak perlu juga denger dia omong apa.
Yang mau saya bahas adalah, perkara kuliah scam ini kerap muncul karena ada pembicaraan tentang biaya yang menyertainya.
Tidak bisa dan tidak boleh kita mungkiri, orang kuliah itu karena ingin punya kans besar dalam meraih kehidupan yang lebih baik. Baik dalam hal kasta sosial, penghasilan, serta pemikiran. Di antara hal itu, penghasilan jelas jadi yang paling depan. Ya buat apa kasta sosial dan pemikiran yang lebih baik jika duitmu cekak.
Masalahnya, biaya kuliah kini amat mencekik, sedangkan lapangan pekerjaan makin langka. Ini jelas menyalahi ekspektasi: gimana ceritanya saya kuliah mahal-mahal tapi tidak bisa “balik modal”?
Sebenarnya, pemikiran ini wajar, dan saya amat maklum. Tak bisa dimungkiri juga, kuliah itu mahal. Tapi kalau gara-gara itu dibilang scam, bentar.
Secara pribadi, alih-alih kita menganggap ada yang salah dengan kuliah, saya melihatnya justru harusnya kita mulai menuntut universitas dan Kementerian Pendidikan, karena mereka-mereka ini yang bertanggung jawab perkara ini. Kuliahnya nggak salah, penyelenggaranya yang harus kita mintai keterangan dan tanggung jawab. Paham kan?
Lalu terkait lapangan kerja, wah, ini urusan pemerintah pusat. Saya sih no comment.
Tetap bukan scam
Kenapa saya bersikukuh bahwa kuliah bukan scam ini sebenernya sederhana: saya sendiri mendapat semua modal saya mengarungi hidup dewasa ini ya dari kuliah.
Saya ini pemuda kabupaten biasa yang tak punya jaringan, modal kapital yang besar, serta orang tua yang kaya. Kalau saya tak kuliah dan merantau, saya nggak akan ada di titik kehidupan yang menurut saya amat baik, jauh lebih baik ketimbang prediksi saya sewaktu kuliah. Mau mengandalkan warisan juga nggak bisa.
Nah, kuliah di Jogja ini bikin saya mendapatkan jaringan, menemui hidup-hidup yang tak ada di kabupaten saya hidup, ilmu kuliah yang kepake, dan tentu saja ilmu-ilmu yang berguna dalam kerja dan kehidupan. Semua ini, saya dapat di kuliah, dan hampir pasti tak mungkin saya dapatkan jika saya tak melanjutkan jenjang pendidikan.
Bahwa ilmu kuliah saya tak terpakai semuanya saat kerja, itu memang benar. Cuma, sepanjang saya kuliah, saya tak hanya belajar ilmu dalam kelas. Saya menemui dan belajar banyak hal dari orang-orang yang saya temui semasa kuliah. Ini yang menurut saya amat berharga, dan saya jadikan alasan kenapa kuliah scam itu hanya omong kosong dari orang yang bermulut kelewat besar.
Menurut saya, kuliah itu mengenalkan dirimu pada opportunity yang lebih besar. Memang tak harus kuliah untuk ini, tapi kuliah memberimu akses langsung pada kesempatan tersebut. Privilese inilah yang saya pikir, bikin kuliah scam itu gugur sejak dalam konsep.
Bahwa misalnya banyak yang gagal memanfaatkan hal tersebut, itu udah beda urusan. Memang itulah lika-liku hidup manusia, mereka kerap gagal memanfaatkan apa-apa yang sudah disajikan tepat di depan wajah mereka. Tapi tak berarti kita menyalahkan menu yang sudah disajikan dong. Nggak bisa sama sekali.
Tapi ya tetap saja, misal ada yang mau berdebat dengan saya perihal kuliah ini memang scam, saya sih milih ngeiyain aja dan berlalu. Sebab bagi saya, perkara ini harusnya sudah tidak dibicarakan sejak dulu. Kalau masih ada yang ngulang-ngulang, kemungkinannya ada dua: antara memang biar viral, atau memang bener-bener goblok.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Faktanya, Kuliah S2 Bukan Berarti Bakal Lancar Dapat Kerjaan, Dunia Kerja Beneran Nggak Peduli Ijazah! dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN
