Kejeniusan Anies Baswedan Membungkam Pendukung Sendiri Lewat Diksi dan Museum Nabi

Kejeniusan Anies Baswedan Membungkam Pendukung Sendiri Lewat Diksi dan Museum Nabi

Kejeniusan Anies Baswedan Membungkam Pendukung Sendiri Lewat Diksi dan Museum Nabi

MOJOK.CORelawan Anies Baswedan protes soal reklamasi kawasan Ancol. Hm, harus hati-hati nih, karena kali ini pembangunannya atas nama museum nabi lho.

Jika ada kelompok yang paling kecewa dalam beberapa hari ke belakang ini, maka sudah tentu itu adalah relawan pendukung Anies Baswedan untuk Pilgub DKI Jakarta 2017 silam. Merasa tenang ketika Anies Baswedan sukses menduduki kursi gubernur, kebijakan soal reklamasi harapannya akan direvisi atau dibatalkan, namun ternyata janji soal reklamasi jauh panggang daripada api.

Harus diakui, selain karena kasus “penistaan” oleh Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan menguasai panggung Jakarta karena kampanye soal penghentian reklamasi yang fenomenal. Ini menjadi jargon kampanye yang sangat beken pada zamannya, selain DP Rumah 0 persen dan OKE OCE tentu saja.

Masalahnya, relawan dan pendukung Anies Baswedan tak menyimak benar apa yang dijanjikan Anies-Sandi waktu kampanye saat itu. Ada permainan kata-kata yang tak dipahami secara utuh oleh masyarakat Jakarta.

Kita bisa ambil contoh pada akhir 2019 silam. Saat itu, Anies sempat disentil karena memberi 1000 IMB di salah satu pulau reklamasi. Saat itu, kalau mau ditelusuri tanpa preferensi politik, Anies sudah benar 100 persen karena dalam janji kampanyenya hanya menyebut soal “menghentikan reklamasi”, atau bisa diartikan: cuma menghentikan menambah pulau reklamasi.

Toh, sejauh ini belum ditemukan satu pun pernyataan Anies Baswedan yang bilang akan mengembalikan daerah reklamasi menjadi sedia kala alias “dilautkan” kembali.

Masalahnya, relawan dan pendukung Anies Baswedan (saat itu) percaya bahwa maksud dari “menghentikan reklamasi” berarti menghentikan segala aktivitas terkait reklamasi. Wajar kalau bayangan pulau reklamasi akan dilautkan lagi muncul di kepala para relawan Anies.

Setelah jalan dua tahun, baru dipahami kemudian bahwa yang dimaksud dari menghentikan bangunan reklamasi ala Anies ini adalah “memanfaatkan” apa yang sudah direklamasi. Sederhananya: iya sih reklamasinya beneran berhenti, tapi pembangunan di atas pulau reklamasinya sih nggak.

Pfft. Jenius bener sih ini. Hambook yaqiin.

Kenyataan ini seolah menegaskan betapa jagonya Anies Baswedan dalam memilih diksi yang akan terucap. Baik ketika kampanye, maupun ketika sudah menjabat. Perkara tafsir relawan dan pendukungnya berlebihan selama kampanye, yaudah sih biarin aja. Yang salah tafsir kan mereka, bukan yang kampanye. Ya nggak?

Hal semacam ini seolah mengafirmasi pernyataan Basuki Tjahaja Purnama, “Aduh, kalau soal kata-kata gitu Pak Gubernur sekarang lebih pintar dari saya.”

Tepat sekali. Jika ada kuis sambung kata, atau apapun yang terkait kata-kata, sudah barang tentu Anies Baswedan adalah jagoannya.

Namun kalau kamu pikir kejeniusan Anies Baswedan hanya bisa terlihat dari perkara pemilihan diksi, kamu berarti meremehkan blio, Marwoto. Ada yang lain juga dong.

Kamu juga pasti tahu, belakangan ini Anies Baswedan juga kena lagi karena mengizinkan reklamasi untuk perluasan wilayah Ancol. Sama seperti kasus sebelumnya, kali ini Anies diserang karena menggunakan pulau reklamasi untuk mendirikan bangunan.

Dan kali ini Forum Lintas Masyarakat Jakarta Utara sudah tidak sabar lagi karena merasa Anies sudah kelewatan mengingkari janji.

“Nah, ini adalah penyelewengan dari satu janji kampanye. Di mana janji kampanye itu bukan sembarangan. Menurut saya ini adalah satu faktor yang membedakan sosok Anies dengan saingan politiknya saat itu. Yang satu mendukung reklamasi, yang satu menolak reklamasi. Itu yang membuat Anies jadi Pak Gubernur,” tutur Sandi Suryadinata, Ketua Forumnya.

Namun apakah Anies Baswedan gentar dengan tudingan relawannya yang bilang blio ingkar janji? Oh, tentu saja tidaaak.

Soalnya pemberian izin ini tidak main-main karena sudah menggunakan tameng paling tangguh. Saking tangguhnya, adamantium dan vibranium aja kalah kuat ketimbang tameng ini. Bahkan keberadaan tameng ini pun tak perlu pakai klarifikasi macam-macam seperti sebelumnya, soalnya tameng yang dipakai itu adalah tameng… agama.

Jeng-jeng-jeng.

Yap, kamu tak salah baca. Reklamasi di kawasan Ancol ini rencananya akan dibangun museum Nabi Muhammad. Museum yang tentu bakal disambut baik oleh umat muslim se-Indonesia. Artinya, kalau ada yang memprotes pembangunan museum itu, bukan tidak mungkin malah bisa kena masalah.

“Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk memanfaatkan tanah hasil perluasan secara transparan dan mengutamakan kepentingan publik. Di antaranya pembangunan tempat bermain anak dan pembangunan Museum Internasional Sejarah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Salam dan Peradaban Islam di kawasan Ancol tersebut,” kata Saefullah, Sekda DKI Jakarta.

Dengan pembangunan museum tersebut, sudah barang tentu hal itu akan menyulitkan relawan Anies Baswedan untuk protes. Serba dilematis dan bikin bingung sendiri. Mengingat pendukung Anies Baswedan paling besar merupakan masyarakat muslim Jakarta sendiri.

Kalau mau protes kok dikira tidak mendukung pembangunan museum nabi dan bisa aja dicap sebagai orang yang tidak beriman, tapi kalau tidak diprotes kok kemarin janji akan menghentikan reklamasi nggak ditepati. Udah gitu, salah satu kampanye relawan Anies menentukan pilihan adalah memilih pemimpin karena kesamaan iman. Nah lho, puyeng pakai koprol nggak tuh?

Hal yang kalau dianalogikan bakal jadi begini.

Ada orang yang punya utang sama kamu, tapi cara bayarnya bukan dengan bayar pakai duit ke kamu. Cara balikinnya adalah dengan membelikan sejumlah kitab suci senilai dengan utangnya.

Mau sambat kok kamu dibelikan kitab suci, mau nggak sambat kok kitab suci nggak bisa jadi alat tukar jual beli. Lalu kamu tanya.

“Lah kok balikinnya pakai kitab suci? Kan kemarin aku minjeminnya duit? Katanya kamu janji mau mengembalikan? Mana janjimu?” katamu.

Lalu orang yang punya utang ini menjawab dengan santai.

“Kan kemarin aku cuma bilang janji bakal ngembaliin utang. Perkara bentuknya apa kan nggak ada ketentuannya?”

….

“@*Y(*&$%#@!!!”

BACA JUGA Pendukung Anies Baswedan Beramai-Ramai Kecam soal Izin Reklamasi atau tulisan soal Reklamasi lainnya.

Exit mobile version