Kejamnya Penonton Indonesia pada Tokoh Antagonis yang padahal Cuma Akting

ilustrasi Tokoh Protagonis Adalah Orang Baik dan Antagonis Orang Jahat. Sebuah Kesesatan yang Layak Diselamatkan mojok.co

ilustrasi Tokoh Protagonis Adalah Orang Baik dan Antagonis Orang Jahat. Sebuah Kesesatan yang Layak Diselamatkan mojok.co

MOJOK.CO  Betapa kasihannya Mbak Han So-hee yang dibully netizen Indonesia karena jadi pelakor di The World of The Married. Btw kalian ingat nggak banyak tokoh antagonis sinetron yang juga ditampar dan diludahi di mal?

Sebenernya saya mau ngakak waktu tahu netizen Indonesia lagi ramai-ramainya menyerbu akun Han So-hee yang jadi Yeo Da-kyung di drama The World of The Married. Saya nggak menonton dramanya, tapi beberapa kali lihat meme tentang drama ini yang cukup kocak.

Singkatnya saya paham kalau drama ini tentang perselingkuhan dan kehidupan rumah tangga. Mbak Han So-hee yang kebetulan berperan sebagai tokoh antagonis alias istri simpanan dapat cercaan dari netizen yang mampir langsung ke akun Instagram si mbak. Mulai dari pisuhan sampai nasihat sok bjak mendarat dan disampaikan dengan BAHASA INDONESIA. Wow, sungguh menarik ya!

Ngomong-ngomong saya jadi ingat ada tokoh antagonis di sinetron televisi yang juga dapat ceramah ibu-ibu waktu kebetulan ketemu di mal. Bahkan sampai ditampar dan diludahi. Saya ingat banget dulu, di infotaiment pagi-pagi memberitakan tentang hal ini. Meski saya waktu itu masih SMP tapi berita ini cukup bikin tertegun. Waktu itu merupakan momen ketika saya pertama kali sadar orang-orang Indonesia emang fvcked up.

Jujur aja saya lupa siapa persisnya tokoh antagonis yang sempat ditampar dan diludahi begitu. Lalu Joshua Suherman memberikan sebuah pernyataan yang seolah memberikan validasi terhadap memori saya.

Makasih Jo, berkatmu saya tahu saya nggak lagi halu.

Di satu titik, pemeran tokoh antagonis berhak berbangga hati atas keberhasilan mereka. Saking keren aktingnya, penonton sampai nggak memahami batas realitasnya. Tapi mohon maaf, harap kebanggaannya ditahan sebentar karena ini semua terjadi karena penonton Indonesia memang lumayan pekok. Halo, kaum yang masih nggak percaya Rumah Uya itu settingan…

Secara kasat mata kalian mungkin bakal berspekulasi kalau kejamnya penonton Indonesia itu murni antara mereka yang pekok atau aktor dan aktris yang begitu baik memerankan orang jahat.

Tetapi dalam dunia perfilman dan persinetronan ada yang disebut sebagai hate sinkHate sink nggak selalu harus tokoh antagonis utama atau main villain yang jadi musuh besar si protagonis. Dalam The World of The Married saya yakin si tokoh suami juga nggak bener secara moral karena doi nggak bisa menahan pesona perempuan lain padahal jelas-jelas punya istri yang setia. Tapi kenapa yang dibenci mbak-mbak pelakornya, hayo hayo kenapa?

Mengesampingkan relasi kuasa gender, saya yakin penulis skenario tetap punya andil besar menciptakan tokoh antagonis yang berpotensi jadi hate sink. Tokoh yang paling mungkin bakal dibenci mati-matian sama penonton saking nyebelinnya. Kalian yang nonton Money Heist pasti benci sama tokoh Arturo yang cakeman pol, padahal dia bukan ‘musuh’ utama yang menghalangi protagonis. Tokoh antagonis di Money Heist  itu ya kepolisian yang berusaha menghalangi aksi perampokan.

Oiya siapa tahu kalian masih belum bisa membedakan, tokoh protagonis itu nggak selamanya orang baik ya. Protagonis adalah peran utama, tokoh yang jadi sudut pandang berlangsungnya penceritaan.

Kembali ke soal hate sink, karakter begini umumnya ditemukan di cerita-cerita yang lemah secara emosional atau takut nggak bisa punya keterikatan dengan penonton jika hanya mengandalkan plot. Hate sink adalah senjata pada sinetron atau film yang secara natural nggak punya target cemoohan.

Beda sama tokoh jahat yang secara karakter bisa menaruh simpati dan keberpihakan. Thanos sebagai political incorrect villain aja banyak yang ngefans kok. Niatnya baik, caranya aja yang ngawur.

Inti daripada inti, tokoh antagonis yang bakal dibenci mati-matian adalah kambing hitam yang sengaja dibentuk. Formula dari penonton pekok + hate sink + aktor totalitas = tamparan, cermah ibu-ibu, jambakan, dan maki-makian di media sosial si aktor.

Pola kayak gini bikin saya sadar kalau orang Indonesia adalah target penonton yang paling susah diraba, tapi paling gampang dikasih modelan cerita hate sink. Lemparkanlah mbak-mbak pelakor yang memancing kebencian, maka rasakan gelombang kemarahan yang niscaya kekuatannya bisa membangkitkan lstrik di daerah tertinggal.

BACA JUGA Rumah Uya Settingan, Boomer dan Penontonnya Sudah Tahu Kok atau artikel AJENG RIZKA lainnya.

Exit mobile version