Innova Reborn: Mobilnya “Orang Bodoh dan Pemalas”, Khususnya yang Nggak Paham Investasi

Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Pertengahan 2025, bapak mertua saya menjual sebidang tanah karena berada di lokasi yang “kurang produktif”. Setelah uang muka cair, salah satu tema yang segar di tengah keluarga kami adalah membeli mobil baru. Mulai dari Mitsubishi Xpander hingga Suzuki XL-7. Belum muncul nama Innova Reborn di sana.

Intinya, sih, membeli mobil baru. Dulu, bapak mertua saya pernah punya mobil Jeep lawas. Beliau, pada akhirnya, menjual mobil tersebut karena nggak ada yang mau memakai. Saat itu, saya sudah menawarkan membeli yang bekas dulu saja. Lagian belum ada yang mau memakai mobil untuk beraktivitas.

Saya dan istri masih merasa cukup menggunakan dua motor matik dari Honda; Vario 160 dan Scoopy. Sementara bapak mertua saya, pakai Vario 110. Tidak ada aktivitas yang cukup berat yang beliau lakukan dengan mobil. Maka, setelah heboh selama satu bulan, hasrat membeli mobil menghilang.

Istri saya, menganjurkan bapak mertua untuk menginvestasikan saja uang hasil penjualan tanah tersebut. Salah satunya dalam bentuk emas. Saya, sih, setuju saja. Siapa tahu, investasi tersebut bisa menjadi dana pendidikan anak saya, cucu laki-laki bapak mertua. HEHEHE.

Baca juga: Innova Reborn Diesel: Mobil Toyota yang Paling Bisa Memberi Ketenangan, Membuatnya Layak Disembah Mengalahkan Generasi Zenix

Katanya, Innova Reborn bukan mobil tapi investasi

Saya itu bodoh soal investasi. Sudah begitu, saya juga pemalas untuk topik satu ini. Kalau soal investasi, saya serahkan ke istri saya. Makanya, begitu bapak mertua bertanya soal rekomendasi mobil, saya cuma kepikiran Innova Reborn. Semua karena berbagai tulisan greget di Mojok.

“… masih banyak yang memburu Innova Reborn adalah karena harga bekasnya sudah tidak masuk akal (ghairu ma’qul). Innova Reborn Diesel tahun 2018 saja harganya masih di angka 300-an juta. Depresiasinya kecil sekali,” tulis Fauzia Sholicha

Lewat sebuah artikel yang berjudul: “Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku”, Fauzia juga menegaskan begini:

“Membeli Innova Reborn itu rasanya bukan beli liabilitas, tapi beli aset investasi. Mirip-mirip beli emas Antam. Suami beli sekarang 400 juta, dipakai 5 tahun, dijual lagi mungkin masih laku 350 juta. Rugi pakainya dikit banget.”

Tahun lalu, saya sempat menyampaikan fakta seperti ini kepada bapak mertua. “Beli yang bekas juga masih oke, Pak,” kata saya. Beliau hanya menjawab, “Hmm….” Saya tahu jawabannya akan seperti itu karena bapak maunya membeli mobil baru.

Buat orang bodoh investasi seperti saya, sesuatu yang sudah jelas di depan mata seperti nggak perlu kami perdebatkan lagi. Lagipula, membeli mobil juga harus memikirkan banyak hal. Mulai dari suku cadang, biaya perawatan, butuh membangun carport atau membesarkan garasi, sampai kalau tiba-tiba harus dijual lagi.

Dan satu lagi, ada yang mau memakai. Istri saya sudah sejak tahun lalu bilang belum mau memakai mobil lagi. Nah, tahun ini, di Januari 2026, kalau mau beli mobil, ya yang cocok untuk keluarga saja. Dan kalau sudah ngomongin “keluarga”, juga merujuk ke ukuran badan kami yang sudah masuk XXXL.

Maka, argumen saya jadi cocok, bukan. Innova Reborn itu lega untuk big size dan bagus sebagai investasi. Kurang apa lagi? Sebuah argumen yang menjanjikan, bukan, dari seorang yang bodoh dan pemalas kalau soal investasi.

Mobil yang memberi rasa nyaman untuk perjalanan jarak jauh

Kalau saya ingat lagi, perjalanan jauh atau luar kota saya di dua tahun ke belakang selalu bersama Innova Reborn. Sekali naik bus pariwisata ketika Rapat Akhir Tahun kantor ke Bromo. Selebihnya, naik Reborn.

Saya berkunjung ke Magelang, Temanggung, Solo, Malang, dan Surabaya untuk keperluan pekerjaan. Sementara itu, ke Cilacap untuk urusan keluarga. Untuk keperluan pekerjaan, sopirnya selalu sama, yaitu teman saya, seorang penulis dan die hard Innova Reborn. Semua perjalanan itu berlangsung menyenangkan dan aman.

Teman saya ini bahkan pernah membawa Innova Reborn dari Jogja ke Malang dalam waktu 3,5 jam saja. Kami berangkat dini hari, sekitar pukul 01:00. Ada empat orang di dalam mobil. Saya sendiri rada takut kalau mobil ngebut di jalan tol. Namun, teman saya ini sopir berpengalaman dan membawa mobil kesukaannya.

Yang saya rasakan sendiri adalah rasa nyaman. Saya, dengan berat 115 kilogram, sudah pasti duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja mengendarai Innova Reborn supaya baik jalannya. Leg room mobil ini lega, kursinya pas untuk pantat saya yang lebar, dan kursinya juga menyangga punggung dengan pas.

Ketika menempuh perjalanan Surabaya-Jogja, saya bahkan tertidur pulas. Padahal saya tahu, teman saya ini membawa Reborn di kecepatan 140/jam dan sebetulnya saya takut. Namun, kabin terasa stabil dan tidak ada noise yang mengganggu.

Baca juga: Innova Reborn Adalah Raja Jalanan di Indonesia yang (Mungkin) Membuat Toyota Menyesal karena Popularitas Zenix Kalah Jauh

Innova Reborn masuk wishlist saya dan istri

Di Februari 2026 ini, saya dan istri akhirnya memasukkan Innova Reborn ke dalam wishlist kami. Artinya, kalau memang kondisi ekonomi memungkinkan, kami akan membeli mobil ini. Ingat ya, kalau “memungkinkan” karena kondisi ekonomi dunia dan Indonesia lagi brengsek betul.

Kami meniatkan semata untuk keperluan “perjalanan bersama keluarga” dan investasi. Intinya pikir gampang saja. Kalau harga bekasnya konsisten bagus, ya itu yang kami pertimbangkan. Nanti, ke depannya, kalau ada perubahan keadaan, ya kami pikirkan ulang. Sesederhana itu.

Khususnya buat saya, yang bodoh soal investasi, dan malas untuk mempelajarinya. Terlebih saat ini, duitnya saja belum ada. Mau mimpi kayak apa, ya mentok di wishlist saja dulu.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Innova Reborn Mobil Terbaik Sepanjang Masa, Toyota Saja Tidak Rela Menyuntik Mati dan Zenix Tetap Saja Menyedihkan dan pemikiran menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version