Assalamualaikum Wahai Para Pecinta Torsi yang Kalau Nanjak Suka Senyum-Senyum Sendiri. Persaingan Innova Reborn vs Zenix sebenarnya udah selesai.
Pagi ini, saat sedang memanaskan mobil keluarga kami (yang bukan Innova, tapi city car yang kalau kena angin tol agak goyang dombret), saya membaca berita yang membuat saya tersenyum kecut. Beritanya datang dari raksasa otomotif, Toyota. Intinya, mereka masih akan menjual Innova Reborn Masih selama konsumen masih suka.
Subhanallah. Ini adalah sebuah fenomena sosiologis yang menarik. Padahal, Toyota sudah meluncurkan Innova Zenix. Mobil yang jauh lebih canggih, modelnya kayak SUV, ada sunroof-nya, mesinnya hybrid, dan tarikannya halus.
Secara logika, harusnya sang kakak (Reborn) pensiun dan masuk museum. Tapi nyatanya? Yang mencari Innova Reborn malah semakin banyak. Harganya sendiri sudah “gosong” karena banyak yang menggorengnya.
Sebagai ibu dua anak laki-laki (Hamzah dan Salman) yang kritis dan lulusan Sastra Arab, saya melihat fenomena “Gagal Move On” massal ini bukan sekadar soal mesin. Ini soal Akidah Otomotif orang Indonesia yang memang unik.
Innova Reborn vs Zenix adalah mazhab ladder frame vs mazhab monokok
Mari kita bedah alasan pertama. Innova Zenix itu pakai sasis monokok (rangka menyatu dengan bodi) dan penggerak roda depan (FWD). Rasanya kayak naik sedan yang digedein. Nyaman, empuk, mentul-mentul. Sedangkan Innova Reborn? Dia penganut setia sasis ladder frame (sasis tangga kayak truk) dan penggerak roda belakang (RWD).
Bagi emak-emak kayak saya, bedanya apa? Bedanya ada di perasaan aman. Jalanan Indonesia ini kan masyaallah ya, Bu. Lubangnya di mana-mana, polisi tidurnya tingginya kayak cita-cita orang tua, dan banjirnya nggak kenal musim.
Makanya, naik mobil sasis tangga (ladder frame) itu rasanya kayak naik tank. Mau hajar lubang, mau hajar genangan, rasanya la khaufun alaihim (tidak ada rasa takut pada mereka). Badak. Kuat. Tahan banting.
Sementara Zenix? Aduh, rasanya ringkih. Takut lecet. Takut nyangkut. Bapak-bapak Indonesia itu jiwanya petualang (walau cuma petualang dari rumah ke kantor). Mereka butuh mobil yang kalau disiksa di tanjakan Sitinjau Lauik nggak nangis. Makanya, Innova Reborn Diesel tetap jadi primadona. Dia simbol maskulinitas jalanan yang belum tergantikan.
Sekte pemuja “cumi-cumi darat”
Ini bagian yang paling bikin saya istighfar sambil tutup hidung. Kenapa Innova Reborn Diesel laku keras? Karena mesin diesel-nya (kode 2GD) itu gampang dioprek. Istilahnya remap ECU.
Bapak-bapak (dan mas-mas jamet) suka sekali memodifikasi mesinnya. Biar apa? Biar asapnya ngebul hitam pekat kayak cumi-cumi yang lagi panik. Katanya sih biar kencang. Biar torsinya njengat.
Dalam pandangan saya, ini adalah bentuk dzalim fil hawa (kezaliman di udara). Kita lagi enak-enak naik motor atau jalan kaki, tiba-tiba di depan ada Innova Reborn hitam, knalpotnya segede toa masjid, pas digas… Breeet! Asap hitam menyembur ke muka kita. Paru-paru langsung protes. Ozon langsung bolong.
Tapi bagi pemiliknya, itu seni. Itu kebanggaan. “Lihat nih, mobil gue kenceng!” Padahal mah cuma bikin polusi. Tapi Toyota pintar. Mereka tahu ada sekte Pemuja Asap ini yang masalahnya, Zenix Hybrid tidak bisa mengakomodasi nafsu ini. Apalah mobil yang suaranya hening dan ramah lingkungan mau menjadi cumi-cumi hitam? Zenix itu terlalu “sholeh” buat mereka. Mereka butuh yang agak “nakal”.
Baca halaman selanjutnya: Karena Toyota tahu apa yang kita mau.



















