Terminal Mojok seperti tidak pernah kehabisan peluru untuk menembaki Honda Scoopy. Para redaktur menelurkan satu demi satu artikel yang menguliti skutik retro ini.
“Honda Scoopy, Motor Mahal yang Nggak Kuat Nanjak“, “Pengalaman Saya Memakai Honda Scoopy yang Jauh dari Ekspektasi”, “Bangga Beli Honda Scoopy Berubah Malu karena Sering Rusak”, sampai “Honda Scoopy, Motor Bobrok yang Hanya Jual Tampang”.
Saya membaca semuanya dengan saksama. Mau nggak mau, YTTA lah ya HAHAHA.
Nah, sebagai pemilik Honda Scoopy sendiri, saya kadang merasa kasihan. Merana banget nasib motor Honda satu ini. Karena kalau kamu tinggal di Jogja, Honda Scopy itu ideal banget.
Iya, begitu kamu tinggal di Jogja, hampir semua serangan itu meleset dari sasaran. Data justru menunjuk Honda Scoopy sebagai motor paling ideal untuk kamu yang hidup di kota ini, dan saya akan menjelaskannya satu per satu.
Jogja itu “cukup datar”, jadi tuduhan Honda Scoopy nggak kuat nanjak kehilangan panggung
Artikel Terminal Mojok edisi Juli 2024 menuduh Honda Scoopy loyo di tanjakan dan rawan kepanasan di daerah pegunungan. Saya sepakat, tetapi hanya separuh.
Artikel itu sendiri mengakui bahwa motor Honda ini menjadi pilihan yang sangat baik untuk daerah bermedan datar dan perkotaan. Nah, persis di situlah Jogja berdiri.
Pemerintah Kota Yogyakarta mencatat kemiringan lahan kota ini hanya 0–2%, dengan ketinggian rata-rata 114 meter di atas permukaan laut. Luas kota cuma 32,5 kilometer persegi. Jarak terjauh utara ke selatan 7,5 kilometer, barat ke timur 5,6 kilometer.
Kamu mau mengajak Honda menanjak ke mana? Ke Kaliurang? Itu agenda piknik akhir pekan di Sleman, bukan rute harianmu membeli makan.
Untuk medan sedatar ini, mesin 110 cc eSP yang menghasilkan tenaga 6,6 kW pada 7.500 rpm dan torsi 9,2 Nm pada 6.000 rpm sudah lebih dari cukup. AHM menyodorkan angka tersebut saat menyegarkan warna Scoopy pada 13 November 2025. Bersama torsi segitu, kamu melahap rute berhenti-jalan lampu merah Tugu ke kampus UGM dengan enteng.
Tuduhan boros dan mahal runtuh di depan hitungan anak kos
Artikel pengalaman pada 2020 menyebut Scoopy “borosnya minta ampun”, sebelas dua belas dengan Mio karburator. Itu cerita generasi lama.
Honda Scoopy generasi keenam membawa mesin yang berbeda. AHM mengklaim konsumsi bahan bakarnya menembus 59 kilometer per liter.
Panel meter digitalnya bahkan menyediakan eco indicator yang memantau gaya berkendaramu setiap hari. Astra Otoparts mengutip klaim yang sama dalam ulasannya pada Agustus 2025.
Sekarang hitung bersama saya. DetikOto melaporkan harga Pertalite di Yogyakarta Rp10.000 per liter per Juli 2026. Dengan 59 kilometer per liter, uang Rp10.000 menggendongmu hampir 59 kilometer.
Kalau kamu menempuh 20 kilometer sehari untuk kuliah dan kerja paruh waktu, tagihan bensinmu tidak menyentuh Rp100.000 sebulan. Idling Stop System ikut memangkas pemborosan dengan mematikan mesin begitu kamu menunggu lama di lampu merah.
Pemerintah Kota Jogja menetapkan UMK 2026 di angka Rp2.827.593. Porsi bensin itu bahkan tidak mencapai 4% upah minimum.
Urusan bengkel juga ramah. Portal Samsat Keliling membeberkan tarif AHASS per Mei 2026, yaitu Rp60.000 untuk servis ringan dan Rp75.000 untuk servis lengkap Scoopy injeksi. Portal Pekalongan menghitung biaya perawatan tahunan hanya Rp700.000 sampai Rp900.000, dengan servis pertama gratis untuk unit baru.
Harga barunya masih masuk akal. Dealer Honda di Jogja melepas varian Fashion pada Rp23,31 juta dan Stylish/Prestige pada Rp24,19 juta per Oktober 2025. Dan satu hal yang luput dari para penyerang Honda Scoopy, artikel Terminal Mojok tahun 2020 sendiri mengakui harga bekasnya “masih saja awet, nggak begitu anjlok”.
Kamu membawa pulang motor yang murah perawatannya sekaligus kuat harga jual kembalinya.Ini dua kabar baik untuk dompet mahasiswa.
Kisah Honda Scoopy brebet di Semarang tidak berlaku di jalanan Jogja
Pada Maret 2026, Terminal Mojok mengisahkan kawan mereka di Mijen, Semarang, yang begitu menderita. Honda Scoopy-nya brebet di putaran rendah, bermasalah dengan keyless, sampai tagihan bengkel menumpuk Rp3 juta.
Saya menaruh simpati, tetapi mari kita lihat konteksnya. Mijen bertanah tinggi dan berbukit, padahal artikel “nggak kuat nanjak” sudah memperingatkan bahwa mesin Honda Scoopy bekerja paling nyaman di medan datar. Di sana mesin memikul beban di luar habitatnya.
Jogja menawarkan kebalikannya. Jalanan di kota relatif datar, pendek-pendek, dan santai. Artikel itu juga menyebut si pemilik kerap menggeber gas mendadak demi mengatasi brebet. Ini sebuah kebiasaan yang otomatis memboroskan bensin dan menyiksa CVT. Pencegahannya pun sederhana, karena Jogja punya jaringan AHASS yang rapat dan suku cadang yang melimpah.
Pasar bahkan sudah menjatuhkan vonisnya. Warta Ekonomi membeberkan data AISI yang menempatkan motor Honda ini sebagai motor terlaris ketiga Indonesia sepanjang 2025 dengan 399.065 unit, mengalahkan Yamaha Fazzio yang mengumpulkan 294.060 unit.
Hampir 400 ribu orang mengeluarkan uangnya dalam setahun. Jumlah sebesar itu mustahil muncul jika Honda Scoopy benar-benar “motor bobrok” seperti judul artikel Februari 2026.
Musim hujan? Jogja bukan kota langganan banjir, meski ya banjir tetap ada
Terminal Mojok juga menggugat Honda Scoopy di musim hujan. Ban 12 incinya gampang slip, remnya kurang responsif, dan cipratan air membasahi kaki pengendara.
Saya tidak menampik ban kecil menuntut perhatian ekstra di aspal basah. Namun, tempatkan kritik itu di Jogja.
Tribun Jogja memuat laporan BPBD DIY pada Agustus 2025, dan laporan itu menunjukkan hujan ekstrem hanya menciptakan 6 titik genangan sementara di Kota Jogja, lalu airnya lekas surut.
Jogja tidak pernah masuk daftar kota yang tenggelam setiap musim hujan seperti kota-kota pantai utara. Medan datar menjaga aliran air, dan aspal kotanya cukup mulus untuk ban kecil. Lagi pula, artikel Terminal Mojok itu sendiri menyodorkan solusinya. Mulai dari ganti ban dengan grip segala medan dan rawat rem secara rutin. Bengkel ban di Jogja menyelesaikan perkara itu dengan puluhan ribu rupiah.
Sebaliknya, ban 12 inci justru menyimpan berkah. Bobot 94 kilogram, tinggi jok 746 milimeter, dan dimensi mungil membuat Scoopy lincah menyelinap di gang, parkiran kampus, dan kepadatan Malioboro. Mahasiswa bertubuh mungil menapak sempurna di lampu merah, dan siapa saja sanggup memarkirnya sendirian tanpa drama.
Soal gaya hidup, anak Jogja dan Honda Scoopy sudah lama berjodoh
Bapperida DIY mencatat 604.611 pelajar dan mahasiswa di DIY per 2025. Kota ini hidup dari ritme kampus, kafe, dan angkatan muda, persis segmen yang Honda Scoopy incar.
Antara memuat pernyataan Marketing Director AHM Octavianus Dwi pada November 2025. Dia menegaskan bahwa Scoopy selalu menjadi simbol gaya hidup pengguna muda Indonesia yang suka tampil beda dan percaya diri. AHM menambah warna baru seperti Stylish Grey dan Prestige Red pada bulan yang sama untuk memperluas ruang ekspresi tersebut.
Motor Honda ini juga tidak cuma menjual tampang. Console box 4 liternya menyediakan pengisi daya USB Type-C 5V 3A yang mengecas ponselmu di jalan menuju kampus, sementara bagasi 15,4 liternya menelan jas hujan, sepatu ganti, sampai bungkusan martabak. Ingat, penulis artikel 2020 itu mengeluh kebingungan membawa martabak; Scoopy generasi ini menjawab keluhannya dengan pengait barang lipat dan bagasi lega.
Motor kesayangan
Mari kita letakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Kritik-kritik Terminal Mojok valid untuk jalan rusak Lamongan, tanjakan Mijen, atau kota yang rutin tenggelam. Tiga keadaan yang tidak Jogja miliki.
Di atas 32,5 kilometer persegi aspal datar ini, bersama 604 ribu pelajar dan UMK Rp2,8 juta, Honda Scoopy menjawab setiap kebutuhan. Mulai dari harga belinya ramah, konsumsi bensinnya super irit, servisnya murah, harga bekasnya tegak, dan gayanya mendukung pergaulan kampus.
Kalau seseorang meminta saran motor paling ideal untuk hidup di Jogja, saya menjawab tanpa ragu: motor Honda Scoopy. Terminal Mojok boleh terus mencacinya, jalanan Jogja tetap memilih Scoopy.
BACA JUGA Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.