Stigma motornya orang miskin menempel begitu erat kepada Honda Beat versi lama. Stigma tersebut menempel setidaknya sampai 2023. Atau mungkin bertahan sampai 2026? Saya tidak tahu. Yang pasti, “motornya orang miskin” ini pernah saya siksa di jalan dari Jogja menuju Solo lalu balik lagi.
Honda Beat yang saya tunggangi kala itu adalah milik kakak saya. Tahun 2008, warna putih, dan baru sekitar tiga bulan keluar dari dealer. Dengan perasaan agak nggak enak, saya minta izin untuk memakai sepeda motor kakak saya.
Saya terpaksa meminjam motor kakak karena motor saya bermasalah. Saat itu, saya memakai Honda Supra X 125 warna biru-putih. Malam sebelum harus ke Solo untuk sebuah pekerjaan, saya menemukan ban belakang motor saya ternyata bocor. Lantaran sudah tengah malam, dan saya harus meninggalkan Jogja selepas subuh, maka, motor kakak saya solusinya.
Kakak saya, sih, nggak masalah kalau Honda Beat mungil itu saya pakai. Setidaknya itu kata dia. Namun, dari nada bicaranya, dia agak khawatir juga. Pasalnya, perbandingan bodi saya dan bodi motor tersebut terlalu mirip. “Kalau bisa ngomong, Honda Beat 2008 itu bakal protes.” Setidaknya kalimat itu yang saya baca dari kedua “mata khawatir” kakak saya.
Bersama Honda Beat meninggalkan Jogja
Sekitar pukul 5:15, saya sudah sampai di Jalan Solo menuju Jembatan Janti. Jalanan Jogja pagi itu sangat lengang. Suasana yang lengang, sejuk, dan tidak ada kantuk melahirkan niat-niat sembrono.
Lantaran menunggangi motor baru, saya merasa harus merasakan sendiri kemampuan lari Honda Beat 2008 ini. Kata orang, tarikan Beat 2008 ini enak dan bandel. Kamu bisa mengajaknya ngebut. Meski dengan kompensasi bensin jadi agak boros. Maklum, tangki bensin motor ini memang kecil.
Saya tidak begitu paham soal ilmu motor dan otomotif. Yang saya tahu antara “enak dibawa” atau nggak saja. Maka, pagi itu, saya ingin berlari bersama Honda Beat.
Ketika masuk daerah sekitar Kalasan, sebelum Prambanan, saya putar tuas gas Honda Beat itu. Awalnya perlahan supaya terasa larinya motor orang miskin ini. Saya merasa respons motor ini enak juga. “Namanya saja motor baru,” begitu batin saya.
Masuk Klaten
Selepas Prambanan-nya Sleman, artinya saya masuk Prambanan-nya Klaten. Saya coba putar gas Honda Beat lebih dalam lagi. Saya melihat kecepatan yang saya gapai saat itu mencapai 90 kilometer per jam. Sebetulnya saya bukan tipe pengendara yang bersahabat dengan kecepatan tinggi. Saya lebih “moderate” saja. Lha wong lari 80 kilometer saja sudah saya anggap ngebut.
Dulu, seorang teman dari SMA pernah menertawakan saya. Pasalnya, saya nggak pernah ngebut ketika bawa Supra X 125. Katanya, “Bawa 125cc kok nggak berani ngebut.” Kalau memukul orang sampai gigi rontok nggak masuk penjara sudah saya tonjok moncongnya.
Lagian buat apa ngebut kalau cuma bikin bahaya orang lain dan diri sendiri. Saya heran, kok ya ada orang yang menertawakan orang yang nggak suka ngebut. Pola pikirnya sangat sesat. Kasihan, padahal masih sangat muda.
Yah, begitulah, manusia yang otaknya nggak punya rem. Mari kembali ke Honda Beat yang saya siksa di jalanan Jogja menuju Solo dan pulang balik.
Pagi itu, selepas Klaten, Honda Beat seperti mulai memberikan perlawanan. Mungkin dia merasa seperti korban penindasan dan kerja paksa.
Dari Solo kembali ke Jogja
Selepas siang, setelah pekerjaan di Solo selesai, saya bergegas kembali ke Jogja. Sore harinya, saya masih ada agenda. Maka, Honda Beat semakin saya ajak lari. Saya nggak tahu perasaan sepeda motor seperti apa. Namun, kayaknya, motor ini menyimpan dendam karena “terpaksa” menggendong saya dengan bobot lebih dari 100 kilogram.
Kejadian pertama adalah ban bocor. Sejak dulu, saya nggak pernah akur dengan yang namanya ban konvensional. Maksudnya, yang pakai ban dalam itu. Namanya tube type, bukan ban tubeless.
Supra X 125 itu hobi banget bocor, khususnya ban belakang. Makanya, saya curiga kalau Supra X 125 saya sudah mewanti-wanti Honda Beat supaya, “Kasih bocor saja kalau kamu tertindas.”
Iya, saya tahu, bocornya ban belakang ini agaknya, disebabkan oleh bobot saya yang terlalu “menyerap gizi sampai maksimal”. Kejadian bocor itu ada di Delanggu, daerah antara Klaten dan Solo. Tambal untuk bocor 3, semua karena paku, kata si bapak tukangnya. Ya sudah, tambal saja.
Bocor lagi di Kalasan, wujud protes Honda Beat
Saya sudah masuk Jogja ketika mulai merasa shockbreaker Honda Beat ini terasa nggak nyaman. Saya rada khawatir kalau shockbreaker ini ikut ngambek, tiba-tiba patah, atau apalah. Saya hanya bisa berdoa. Minimal selamat dulu sampai rumah.
Namun, ternyata, yang ngambek adalah ban lagi. Begitu masuk sekitar Kalasan, bocor lagi. Saya berhenti di dekat Percetakan Kedaulatan Rakyat. Saya amati lekat-lekat ban belakang yang kempes (lagi) itu. Setelah puas mengumpat, saya mendorong motor tersebut ke sebuah bengkel. Saya nggak mau menyebut namanya karena ini bukan artikel advertorial hehe.
Intinya, saya harus ganti ban dalam. “Sobek, Mas,” kata Mas Montir sambil nyengir. Untuk ukuran 2026, harga ban dalam terbilang sangat murah. Bahkan lebih murah dari segelas kopi susu gula aren dari kafe-kafe fancy di pusat kota.
Saat itu, saya juga nggak masalah kalau harus ganti. Yang jadi pikiran saya adalah kenapa Honda Beat bawa masalah terus-terusan ketika saya yang bawa. Apakah ini wujud balas dendam kaum tertindas?
Mengembalikan Honda Beat
Kakak saya tertawa keras ketika saya selesai bercerita. Selama tiga bulan memakai Honda Beat ini, kakak saya nggak pernah kena halangan. Kenapa malah kejadian ketika saya yang bawa? Namanya saja kehendak semesta. Penuh kerahasiaan.
Yang pasti, atas nama berat badan yang memang agak berlebih ini, saya minta maaf ke Honda Beat. Meski hanya saya ucapkan dalam hati, tapi tulus, kok.
Sekarang, saya pakai Vario 160. Saya kapok “menyiksa” para kaum tertindas. Sudah tertindas, Honda Beat jadi simbol orang miskin pula. Baru jadi motor saja sudah ngenes gini hidupnya.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Honda Beat: Irit Lahir Batin, Juara di Klasemen Harga Motor Bekas dan kisah seru lainnya di rubrik POJOKAN.













