Saya tak pernah melupakan momen yang terjadi pada Rabu 18 Juni 2025. Bukan kelahiran anak, bukan saya mendapatkan penghargaan, bukan kenaikan gaji. Pada hari itu, saya mencetak dua gol terbaik sepanjang sejarah saya bermain fun football.
Gol pertama sebenarnya kebetulan. Dari sisi kiri, saya berusaha mengirim umpan lambung tinggi ke kerumunan di kotak penalti. Yang terjadi di luar dugaan: bola berbelok dan mendarat di tiang jauh, mengecoh kiper dan kawan saya yang tak menyangka bola bergerak ke arah itu.
Seingat saya, banyak yang bersorak, banyak yang tepuk tangan, dan saya hanya diam karena saya tahu betul itu kebetulan.
Tapi untuk gol kedua, beda. Saya masih ingat umpan terobosan yang dikirim oleh kawan, dan saya diapit dua bek berbadan besar dengan kecepatan yang tak masuk akal. Daripada direbut, saya langsung tendang bola itu meski masih jauh dari gawang.
Ajaibnya, gol. Kiper terlalu maju, dan bola saya menukik tepat ke gawang.
Hingga kini, saya tak mencetak gol indah serupa itu lagi selama fun football. Dua gol yang sebentar lagi berusia satu tahun itu masih memberi emosi yang menyenangkan setiap saya mengingatnya.
Receh, memang. Tapi ketika kau berusia 30-an, dibebani tanggung jawab yang mengerikan, rutinitas yang membosankan, segala hal menyenangkan, sekalipun kecil, membuatmu ingin tetap waras dan melanjutkan hidup.
A man provides
“A man provides. And he does it even when he’s not appreciated, or respected, or even loved. He simply bears up and he does it. Because he’s a man.”
Kalimat yang dilontarkan Gus Fring ini indah sekaligus menyakitkan bagi seorang pria. Ini tanggung jawab, kewajiban, sekaligus kutukan seorang pria. Tidak pernah ada ruang pemakluman, tidak pernah ada keringanan.
Lingkungan sosial memaksa pria untuk menelan segala rasa pahit dan tidak memberikan mereka ruang untuk berbahagia. Kebahagiaan selalu dianggap kemewahan. Dan kemewahan, harus dikejar dengan uang dan harta yang banyak.
Tak mengagetkan, jika banyak pria di luar sana (dan sayangnya, saya sendiri) menganggap bahwa sebelum uangmu banyak, kau tak berhak bahagia, kau tak berguna. Tak perlu mulut sampah Timothy Ronald dan Bigmo untuk ini. Kami sudah dicekoki ini sejak otak kami belum berkembang sebagaimana mestinya.
Lupakan fun football yang asyiknya setengah mati itu. Banyak yang sudah menerima sumpah serapah ketika kepalanya belum menyentuh bantal. Banyak yang sudah memakinya saat membuka media sosial.
Tak sedikit juga yang mendapat balasan berupa perselingkuhan. Meskipun dia sudah memenuhi semua kebutuhan, memastikan tak kurang suatu apa, tetap saja dibalas dengan air tuba yang ditumpahkan ke kerongkongan.
Saya tak sedang membandingkan kesedihan, beban, atau menciptakan perang gender. Tapi, inilah yang banyak pria rasakan. Gus Fring tak salah. Itulah kewajiban, kehebatan, sekaligus kutukan pria.
Fun football di Jogja
Saya tak pernah kaget dengan penuhnya lapangan sepak bola di Jogja. Setiap hari, ada saja komunitas fun football yang mengisi lapangan. Yang baru masuk lapangan jam 9 malam saja ada. Saya sendiri salah satu anggota komunitas fun football yang menurut saya terbesar di Jogja, BGLN FC.
Kenapa saya tak kaget, karena fakta sederhana: banyak orang yang ingin menjaga kewarasan. Jangan mudah percaya omongan pria 30-an gabung komunitas fun football semata karena ingin bugar. Atau, berusaha mengecilkan perut yang lebih mirip ban Vario itu. Mereka bergabung karena ingin bahagia, simpel saja.
Rata-rata, yang gabung memang sudah gila bola sejak kecil. Ada yang waktu kecil ikut SSB dan jago, ada yang dari dulu main bola tapi tetap sampah (ini saya), tapi rata-rata, memang mencintai olahraga ini dari hati yang paling dalam.
Jangan kira Jogja itu isinya orang-orang yang selalu bahagia. Kalau ruang hidupmu hanya sebesar layar gawaimu, mungkin benar. Melihat postingan akun Instagram tentang Jogja memang isinya yang indah-indah. Tapi realitasnya, jelas jauh dari itu.
Upah murah, hunian super mahal, lalu lintas semrawut, dan biaya hidup yang meningkat lebih cepat ketimbang upah bikin kota ini memupuk kegilaan perlahan pada penghuninya. Pendatang atau bukan, kalian akan bertemu di titik kehilangan kewarasan yang sama.
Makanya, komunitas apa pun, mudah berdiri di Jogja. Di sini, semua orang berusaha mengais kesempatan yang ada untuk bahagia. Itu kenapa saya tak kaget lapangan macam JEC tak pernah sepi. Di balik alasan cari keringat, biar sehat, atau biar dapat foto estetik, keinginan untuk tetap waras itulah yang sebenarnya sedang mereka upayakan.
Menemukan cintanya
Di lapangan, para pria itu setara. Yang membedakan adalah posisinya. Skill tak pernah jadi masalah utama. Makian di sana-sini masih ada, tapi setelah fun football selesai, sumpah serapah tertinggal di lapangan.
Untuk satu, dua, tiga jam, para pria tersebut melupakan sedikit bebannya. Delapan jam lalu, mungkin dia dimaki oleh bosnya atas kesalahan staff yang lain. Delapan jam yang lalu, mungkin dia mendapati pasangannya memanggil pria lain dengan sebutan sayang. Tapi ketika di lapangan, dia jadi waras.
Fun football membuat para pria ini mengeluarkan semua rasa sakit lewat keringat. Tendangan yang lebih mirip aib dia sambut dengan begitu bahagia, karena di titik itulah, dia menemukan versi dirinya yang bahagia.
Di lapangan, semua orang umurnya 10 tahun: mereka bermain untuk alasan bahagia. Fun football membuat mereka tetap muda dan berbunga-bunga sekalipun sementara.
Coping mechanism orang memang beda-beda. Ada yang duduk di Indomaret dengan 76 Apel dan Golda. Ada yang mancing. Beberapa ada yang menonton Eri Pras. Beberapa, ada yang memilih fun football sebagai usaha mereka meyakinkan diri bahwa mereka berhak bahagia.
Meski sewa lapangan begitu mahal, padahal hal ini harusnya tak terjadi karena negara seyogyanya menyediakan lapangan, mereka tetap mengeluarkan uang mereka yang tak seberapa. Secara pribadi, saya menyayangkan negara yang rakyatnya begitu gila bola, tapi justru tak punya akses lapangan yang terjangkau.
Lagi-lagi, Gus Fring benar. A man provides. Tapi, setidaknya, meski dia tidak mendapat apresiasi, tak mendapat cinta, tak dihargai, mereka akan menemukan senyum yang mereka lupa pernah punya di fun football.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Orang yang Kasar pas Main Mini Soccer Baiknya Memang Dipegangin Kepalanya Bareng-bareng, lalu Dijedotin ke Gapura 182 Kali dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN
