Curiga Masyarakat Tidak Disiplin PSBB akibat Aturan yang Nggak Jelas

masyarakat tidak disiplin rebel melanggar PSBB social distancing mal ciputat pasar bogor new normal berlaku mal dibuka pandemi warga indonesia tidak taat aturan pemerintah tidak tegas mojok.co

masyarakat tidak disiplin rebel melanggar PSBB social distancing mal ciputat pasar bogor new normal berlaku mal dibuka pandemi warga indonesia tidak taat aturan pemerintah tidak tegas mojok.co

MOJOK.CO Masyarakat tidak disiplin PSBB adalah buah dari aturan mencla-mencle pemerintah. Pokoknya semua salah pemerintah, mutlak!!1!

Mereka yang sudah swakarantina dan taat PSBB jadi muntab nggak karuan ketika melihat kerumunan yang menyerbu mal, belanja saat malam demi menghindari razia, dan berbagai tipu daya lain untuk melanggengkan pandemi corona. Masyarakat tidak disiplin ini meresahkan dan bikin panas di dada nggak kunjung dingin.

Sebelum COD baku hantam dengan para pelanggar, kalian perlu tahu. Ada sebuah opini nggak populer yang belakangan menyeruak dan bikin beberapa orang merasa lebih tidak berdaya dengan keadaan.

Masyarakat tidak disiplin PSBB bisa jadi dipengaruhi oleh bagaimana instrumen aturan yang dibuat di sekelilingnya. Opini tersebut sebenarnya nggak mencari kambing hitam atas ngawurnya masyarakat sendiri, melainkan berusaha mencari kausa mengapa itu terjadi. Walau sebenarnya punya banyak celah untuk didebat, asumsi ini juga tidak bisa mutlak disalahkan.

Beberapa orang menanggap opini tersebut hanyalah kelakar. Seolah kembali lagi menyalahkan pemerintah atas apa yang terjadi. Pokoknya ini semua salah pemerintah, rakyat mah innocent. Ibarat telat datang ke sekolah tapi nyalahin bel masuk yang bunyinya kepagian. Sekilas memang begitu.

Tapi asumsi tersebut bisa saja valid mengingat beberapa orang menyaksikan langsung perubahan perilaku seseorang ketika mereka ditempatkan di lingkungan yang lebih disiplin.

Saya pernah mendengar cerita yang terlontar dari keheranan pelaku. Kawan saya sendiri pernah bersekolah di Jepang, negeri yang katanya paling tepat waktu. Awalnya memang, dia selalu ketinggalan kelas karena terlambat barang satu-dua menit tidak lagi bisa ditoleransi. Lama-lama dia terbiasa dan jadi pria yang benar-benar disiplin. Anti telat mania.

Bahkan dia jadi hobi masak dan beres-beres apartemen. Kalau malam hari, sesekali dia menelepon saya selepas mandi. Luar biasa, saya kadang nggak percaya kawan saya itu mau mandi.

Saat kembali ke Indonesia, watak pemalasnya nongol lagi. Malam-malam menelepon saya bukan selepas mandi, justru dia curhat sedang kelaparan. Sebagai teman yang baik saya menyarankannya untuk masak seadanya, karena katanya dia memang sedang bokek. Alih-alih menyempatkan diri goreng nasi atau mie instan, dia malah minta dibelikan bakso lewat ojol. Dia pun heran sendiri kenapa sekembalinya ke Indonesia dia jadi begitu pemalas. Dia saja heran, apalagi saya.

Masyarakat tidak disiplin beserta kemalasan mereka memang sesuatu yang difasilitasi di Indonesia. Malas belajar, ikutan bimbel. Malas perpanjang SIM, kena tilang, suap polisi bisa dong! Malas ngerjain skripsi, beli aja udah. Malas masak, tinggal beli lewat ojol. Negeri ini memang ditinggali kaum oportunis.

Orang Indonesia yang terkenal suka telat bisa begitu tepat waktu di Jepang, tapi kembali malesan saat pulang. Ini menandakan bahwa perilaku yang berkaitan dengan kebiasaan dan kedisiplinan nggak berlaku secara mutlak. Mereka bisa berubah, dan diubah. Seseorang bisa saja berperilaku layaknya masyarakat kebanyakan demi bertahan hidup dan diterima oleh lingkungan.

Dalam psikologi kita mengenal teori konformitas yang sedikit banyak bisa menjelaskan perubahan perilaku tersebut. Namun kaitannya dengan aturan-aturan yang dibuat pemerintah, problem ini nggak bisa ditelaah secara linear. Kombinasi antara karakter, kultur, situasi, dan aturan yang minim dari reward and punishment bisa saling berhubungan lalu memunculkan tipe-tipe masyarakat tidak disiplin.

Di kondisi yang serba baru, pemerintah bisa jadi memang kewalahan sehingga cenderung memberikan aturan-aturan PSBB berkaitan dengan pandemi yang kurang mengekang. Masyarakat yang pada dasarnya malas diatur akan mencari alasan mengapa mereka harus taat aturan. Jika memang tidak ada kohesivitas dari aturan tersebut, tidak ada keuntungan finansial yang didapat jika taat, hingga melihat orang lain melanggar dan nggak terjadi apa-apa, keinginan untuk tidak disiplin kian menggebu.

Kalau bisa rebel kenapa harus taat?

Masyarakat tidak disiplin bin ngeyelan memang bikin jengkel. Mereka yang paling jengkel adalah yang sudah taat. Lalu samar-samar terdengar sautan angin, “Iri bilang, Bos!”

Selamanya emosi dan marah-marah nggak mengubah apa pun. Justru melihat lebih jauh kenapa masyarakat bisa segitu entengnya melanggar aturan adalah fokus yang harus digali. Lagi-lagi aturan pemerintah maupun ketidakdisiplinan bukan faktor yang berdiri sendiri, mereka ada untuk saling melengkapi. Layaknya kobokan dengan jeruk nipisnya.

Aturan yang mencla-mencle bakal melahirkan kelompok masyarakat yang abai. Bodo amat dah PSBB atau social distancing yang penting lebaran baju baru. Masyarakat tidak disiplin yang kemunculannya makin banyak bakal bikin yang lain juga ikut-ikutan. Dalihnya, “ah, mal juga buka kok.  Ah, si A juga ke pasar nggak pakai masker kok. Ah nggak mudik tapi pulang kampung.” dan ah-ah yang lainnya. Kombinasi pemerintah acak-adut dengan masyarakat yang otaknya portable sama dengan Indonesia sekarang. Tepuk tangan.

BACA JUGA Sebelum Memutuskan Benci Feminis, Kalian Perlu Paham Konteks atau artikel lainnya di POJOKAN.

Exit mobile version