Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bupati/Walkot-nya Kena OTT KPK, Warga Lampung + Cianjur + Tegal Bikin Pesta

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
8 Oktober 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ternyata kejengkelan warga kepada pejabat daerah yang korupsi bisa muncul dalam bentuk yang sangat positif. Terutama kalau bupati, wali kota, atau pejabat lainnya kena OTT KPK.

Jika biasanya orang cenderung prihatin sampai kepingin pengen ngelus dada ketika melihat ada pejabat yang kena kasus korupsi, di beberapa daerah malah ada beberapa warga yang merayakannya dengan genggap gempita.

Perayaan ini bukan bermaksud untuk mendukung aktivitas korupsinya, melainkan sebagai wujud syukur karena ada koruptor yang ketangkap. Itu artinya berkurang lagi deh satu koruptor di Indonesia.

Inilah yang dilakukan warga Lampung Utara ketika mengetahui bupati mereka, Agung Ilmu Mangkunegara, kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Agung disangka menerima uang haram sebanyak Rp600 juta dalam proyek Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara.

Bukannya sebal karena bupati mereka korupsi dan kena OTT KPK, beberapa warga Lampung Utara malah mengarak seekor kambing menuju kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Lampung Utara—setelah sebelumnya juga dilewatkan di depan Rumah Dinas Bupati. Sa ae luh.

Setelah diarak beramai-ramai, kambing itu lalu dipotong di halaman kantor Pemda.

“Kemarin kita mendengar Bupati ditangkap KPK, tapi itu bukan kabar sedih. Kabar itu membuat hati kami lega, karena tidak ada lagi pemimpin yang zalim,” kata Sandi Fernanda, koordinator aksi.

Syukuran ini juga bukan hanya dalam rangka “mengejek” bupati mereka sendiri, melainkan juga merupakan bentuk dukungan kepada KPK agar bisa mengusut tuntas kasus seperti ini sampai ke akar-akarnya. Bisa jadi ekspresi syukuran ini merupakan bentuk kekecewaan yang sudah terpendam bertahun-tahun terhadap pemimpin daerah mereka sendiri.

Meski begitu, barangkali jika ada yang patut disayangkan dari aksi ini adalah… itu kenapa kambingnya cuma satu ekor doang sih? Emangnya cukup ya, Bang? Etapi nggak apa-apa ding, yang namanya syukuran mah nggak perlu banyak-banyak. Yang penting simbolnya aja udah kena.

Kejadian unik seperti di Lampung Utara ini ternyata bukanlah satu-satunya di Indonesia. Sebagai masyarakat yang selalu memiliki gairah rasa syukur yang tinggi. Melaksakan syukuran di kala pemimpin daerah kena OTT KPK juga pernah terjadi di Cianjur pada 14 Desember 2018 silam.

Bahkan jauh lebih semarak daripada yang dilakukan di Kabupaten Lampung Utara. Dua hari setelah Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar, tertangkap basah KPK, warga Cianjur beramai-ramai merayakan penangkapan ini dengan genggap gempita. Ebuset.

Setelah salat Jumat di Masjid Agung Cianjur, bak pasar kaget di tengah hari, ratusan warga bergerombol memadati alun-alun Cianjur tanpa dikomando. Kebanyakan warga datang karena ada undangan yang disebar di sosial media dan grup-grup whatsapp.

Jika di Kabupaten Lampung Utara para warga potong kambing (meski kambingnya cuma satu doang), di Cianjur para warga malah bikin “pesta nasi liwet”. Ratusan porsi nasi liwet dibagikan dengan sukarela. Gratis tanpa dipungut biaya. Wah, udah bahagia, kenyang lagi. Benar-benar pesta rakyat betulan mah ini.

“Saya datang ke sini karena lihat di grup medsos ada undangan ngeliwet 1.000 kastrol sebagai tanda tasyakuran, bahwa pemimpin daerah benar-benar sudah kena OTT KPK. Sebagai warga Cianjur, saya ikut mengapresiasi hal tersebut,” kata Ibu Ulfah Wahyuni.

Kebahagiaan warga Kabupaten Cianjur ini cukup bisa dimengerti. Sepertinya kejengkelan mereka sudah sampai ke ubun-ubun.

Ya terang saja sih, soalnya Bupati Irvan disinyalir memangkas sebesar Rp3,2 miliar dari Dana Alokasi Khusus Pendidikan tahun 2018 sebesar Rp46,8 miliar, untuk kepentingannya sendiri. Dana itu sebenarnya harus diserahkan ke 200 SMP yang mengajukan dana, tapi entah karena alasan apa, hanya 140 SMP saja yang disetujui.

Belum selesai menyunat dana tersebut, Bupati Irvan diduga kuat malah melakukan pemerasan kepada 140 Kepala Sekolah SMP di seluruh Kabupaten Cianjur. Dengan enteng, sebanyak 140 Kepala Sekolah harus memberi semacam “upeti” ke Bupati kalau mau duitnya cair.

Tak pelak ada banyak pihak begitu geram dengan perilaku kemaruk level Firaun yang ditunjukkan Bupati Cianjur ini.

Iklan

“Perilakunya amat keterlaluan sehingga pantas dihukum maksimal. Mata rantai korupsi Pendidikan dimulai dari kepala daerah, kepala dinas, hingga kepala sekolah, sehingga peserta didik menjadi korban dari korupsi,” ujar Donal Fariz, Koordinator Korupsi Politik ICW.

Dari cerita itu, maka wajar sekali kalau warga Cianjur merasa bersyukur Bupati mereka akhirnya benar-benar harus meringkuk sebagai tahanan KPK. Menyiapkan ratusan sampai ribuan nasi liwet pun dianggap enteng saja jadinya. Sudah jadi panggilan hati.

Fenomena perayaan karena pejabat tertangkap korupsi ini juga terjadi satu tahun sebelumnya, di Tegal, Jawa Tengah pada 29 Agustus 2017. Puluhan warga mendatangi Rumah Dinas Walikota Tegal saat itu, Siti Masitha Soeparno yang kena OTT KPK, guna mengekspresikan kebahagiaan.

Persis seperti Bupati Lampung Utara dan Bupati Cianjur, Walikota Tegal juga terjerat kasus korupsi.

Beberapa warga lalu membentangkan spanduk bertulis, “Keadilan untuk Rakyat Tegal” sambil melompat-lompat kegirangan. Bahkan ada juga warga yang sampai menyalakan kembang api berkali-kali sebagai bentuk luapan kepuasan. Buset, tahun barunya dimajuin ato bijimana neeh?

Bagi warga Tegal, Siti Masitha sebagai Walikota sudah bertindak sewenang-wenang selama menjabat. Beberapa di antaranya adalah, pada 2015 silam, Siti pernah dengan seenaknya sendiri menghukum 15 PNS Tegal karena risih dikritik. Hal yang lebih menjengkelkan, pihak Walikota sendiri justru sering tidak ada di kantor.

“Ternyata Wali Kota dan Plt Sekda tidak ada di Balai Kota. Wakil Wali Kota juga tidak tahu ke mana perginya mereka. Bagaimana pemerintahan bisa berjalan baik kalau seperti ini?” kata Sekretaris KPU Kota Tegal, Herviyanto. Sosok yang juga kena hukuman dari Wali Kota pada saat itu.

Beruntung beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Wali Kota yang meresahkan warga Tegal itu akhirnya benar-benar kena OTT KPK. Hal yang cukup bisa dimaklumi kemudian ketika penangkapannya justru disambut penuh syukur dengan begitu heboh oleh warga—sampai pakai kembang api segala.

Hm, kalau sudah begitu, harus diakui bersama bahwa kita ini memang bangsa yang mudah sekali bersyukur. Lha gimana? Perkara pejabat korupsi saja kita bisa bersyukur dan senangnya bukan main.

Namun lebih daripada itu, kita juga jangan sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada oknum pejabat kita yang demen korupsi. Sebab, secara tidak langsung mereka sudah mengajari rakyatnya sendiri tentang arti penting dari rasa syukur. Apalagi sampai membiarkan dirinya kena OTT KPK demi kebahagiaan warganya.

Jika Gubernur Jakarta punya jargon “maju kotanya, bahagia warganya”, maka bagi Lampung Utara, Cianjur, dan Tegal barangkali jargonnya… “OTT KPK pejabatnya, tasyakuran warganya.”

BACA JUGA Beberapa Kemungkinan Pada 4 Anggota DPRD Kota Malang yang Tidak Diciduk KPK atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2019 oleh

Tags: korupsiOTT KPKpotong kambing
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
AUBMO Selamatkan Hidup Mahasiswa penerima KIP-K di Unair. MOJOK.CO

Di Balik Skandal Korupsi Rp103 Juta, AUBMO Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Penerima Beasiswa yang Merantau

23 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.