Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Saya ketawa kecil saat melihat ada “tuduhan” money laundering pada brownies Amanda. Tuduhan tersebut mungkin muncul dari seseorang yang tak tahu betul kalau brand ini sudah jadi legenda sejak lama. Tuduhannya memang tak wajar, tapi tetap saja bikin ketawa.

Padahal ya, brownies Amanda ini terkenalnya minta ampun. Brand ini berdiri sudah sejak lama. Ia sudah ada sejak 1999, saat MU masih tim yang kuat, Atletico Madrid masih sampah (sampai sekarang sih), dan Vinicius Junior belum lahir.

Ingatan saya terhadap brownies ini pun cukup panjang. Beberapa kali, seingat saya, Bapak membawakan makanan ini setelah mengantar tamu ke kota lain. Kadang, Ibu pulang dari pengajian bawa brownies ini juga ke rumah.

Jujur saja, yang di otak saya, brownies itu adanya ya hanya Amanda. Saya beneran nggak tahu kalau ada brand brownies lain di luar sana. Memang sekuat itu taring mereka menancap di dunia ini.

Brownies Amanda, konsumsi sidang skripsi

Kalian perlu tahu satu hal: brownies Amanda adalah salah satu konsumsi yang hampir pasti ada di sidang skripsi di kampus saya.

Kok bisa saya tahu, ya karena saya sendiri juga beli ini menjelang sidang. Beberapa waktu sebelum saya (akhirnya) sidang skripsi, saya nanya para aniki-aniki di kampus yang sudah lulus. kebanyakan bilang mereka bawa Amanda sebagai konsumsi untuk para dosen penguji.

Eits, jangan kira ini gratifikasi ya. Nggak ada kewajiban buat mahasiswa beliin dosennya brownies. Orang kampus sebenarnya sudah menyediakan konsumsi untuk diambil kok. Tapi ini semacam tradisi saja. Yang lain hanya ikut-ikut, termasuk saya.

Awalnya saya kepikiran bawa gorengan hangat burjo Pasundan. Tapi saya urungkan. Saya yakin banget bakal dipisuhi sak eneke uwong neng kampus.

BACA JUGA: 5 Kasta Teratas Dessert Indomaret, Enak dan Dompet Nggak Seret

Jadi ya, brownies Amanda bisa dibilang kudapan yang amat familier buat mahasiswa FBS UNY di masa-masa saya kuliah. Sebab ketika melihat mahasiswa menenteng makanan tersebut, artinya akan ada satu gagak yang akan terbang meninggalkan kampus hitam penuh cerita tersebut.

Top of mind industri

Jadi jujur saja, saya agak heran kenapa ada orang bilang itu money laundering. Iya, selalu saja ada potensi karena kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi di balik layar. Tapi kok rasa-rasanya nggak ya, soalnya di lingkup kecil kayak kampus saya saja, penikmat brownies Amanda itu sebanyak itu.

Dan saya juga agak yakin kalau fakultas lain di UNY ada yang punya tradisi tersebut. Bisa jadi kampus lain juga kek gitu. Rasa-rasanya, jauh deh dari pencucian uang.

BACA JUGA: 4 Kasta Tertinggi Varian Rasa Brownies Amanda yang Nggak Bikin Kecewa

Tapi saya agak memaklumi kalau kecurigaan warganet pada usaha-usaha yang ada itu mulai tak wajar. Yah, kita sedang di masa hidup yang tidak menyenangkan, terlebih perkara ekonomi. Kita jadi menaruh curiga pada apa-apa yang terlihat tak berbahaya karena kita sudah kehilangan rasa percaya.

Hanya saja, sejarah berkata bahwa brownies Amanda memang selaku itu dan seenak itu. Tradisi di kampus saya—yang jujur saja saya tidak tahu masih ada atau tidak—menegaskan bahwa memang brand ini benar-benar jadi top of mind. Sekali lagi, saya bahkan tak tahu ada brownies merek lain di luar sana selain Amanda.

Yah, memang saya tak setiap hari menikmati brownies mereka. Sebulan sekali saja belum tentu. Tapi misalkan saya ingin beli brownies, yang di otak saya ya hanya Amanda. Brand lain, uhm, nanti dulu deh ya. Yang ini udah terbukti.

Dan iya, saya menerima endorse, jadi kalau mau endorse saya, Amanda, tinggal hubungi instagram saya.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Amanda Brownies Masih Tetap yang Terbaik dan Kini Menjadi Kiblat Brownies di Indonesia dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN

Exit mobile version