Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bertengkar dengan Orang Tua Ternyata Jauh Lebih Capek Dibanding Sama Pacar

Audian Laili oleh Audian Laili
15 Juni 2019
A A
Bertengkar dengan Orang Tua MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Hubungan dengan orang yang dianggap dekat biasanya memang cenderung jadi semaunya. Nggak aneh, kalau kita jadi sering bertengkar dengan orang tua.

Sebagai perantau, lebaran memang menjadi momen untuk berkumpul kembali dengan keluarga di kampung halaman. Ada yang menganggap keluarga di rumah betul-betul menjadi tempat pulang alias “home”. Ada pula yang menganggap mereka sekadar “house”. Alias pulang ke rumah cuma jadi kewajiban yang harus dipenuhi saja, tapi hati nggak sreg-sreg amat.

Iklan

Hidup di lingkungan dan punya keseharian yang berbeda, tidak jarang bikin banyak kesalahpahaman terjadi saat si perantau ini pulang. Akhirnya, pertengkaran-pertengkaran sulit dihindarkan. Ternyata, bertengkar dengan pacar, tidak ada apa-apanya dibanding bertengkar dengan orang tua. Pasalnya, biasanya hubungan anak dan orang tua ini terlalu menganggap satu sama lain saling memiliki. Saking merasa memilikinya, lalu muncul perasaan tidak mungkin ditinggalkan meski melakukan kesalahan seberat apa pun. Oleh karenanya, sikap yang lebih ngawur dan emosi yang lebih sulit terkontrol, lebih mungkin terjadi di rumah. Di tempat yang katanya sih, tempat pulang terbaik~

Selain punya tempat tinggal dan rutinitas yang berbeda, usia yang berbeda generasi, juga sering menjadi pemicu terjadinya kesalahpahaman. Hal-hal yang tak kita suka atas mereka, bisa jadi adalah cara mereka untuk mengusahakan yang terbaik bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Sayangnya, ada perbedaan cara yang kemudian justru menjadi sumber ketidaknyamanan.

Bertengkar dengan orang tua, itu sungguh tidak enak. Rasanya sebal dan sungguh mangkel. Bahkan pengin membenci kalau bisa. Sayangnya, tidak semudah itu. Pasalnya, diam-diam mereka jugalah orang yang paling disayang dan diharapkan menjadi muara untuk nanti kembali pulang. Kira-kira apa aja sih, yang bikin kita sebagai anak jadi pengin bertengkar dengan orang tua?

Pertama, kita sebagai anak generasi yang menjunjung tinggi demokrasi dan kesetaraan, sering kali gatel banget pengin jawabin apa yang dikatakan oleh mereka. Apalagi, kalau yang mereka katakan tidak logis, tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya, dan tentu saja tidak sesuai dengan keinginan kita. Maka, kita pun berusaha untuk melakukan pembelaan untuk melindungi diri sebisa-bisanya.

Kedua, kita menyadari bahwa kita memang melakukan kesalahan. Tapi, tentu saja di pikiran egois kita, mohon maaf nih, nggak hanya kita yang salah. Akan tetapi, mereka juga salah. Lantas, nggak ada salahnya dong, kalau kita melakukan kesalahan. Lha wong, mereka juga melakukan kesalahan. Udah muter-muter kayak gitu terus. Akhirnya menjadi mbulet karena kita saling bersikap keras kepala dengan idealisme masing-masing. Halah, sok-sokan idealisme segala.

Ketiga, kita menjadi sangat sebal kalau mereka sudah bawa-bawa, “dasar anak durhaka!”, “dasar anak nggak bisa dikasih tahu!” Padahal, padahal kan, nggak gitu juga. Wong kita juga masih ngakuin mereka sebagai orang tua, kok. Toh, kita juga nggak sampai kayak Malin Kundang. Ini sekadar perdebatan biasa, kenapa kita harus dituduh-tuduh sedemikian rupa hanya karena nggak nurutin satu saja keinginan mereka?

Keempat, sangat tidak adil rasanya kalau mereka bisa seenaknya nyuruh-nyuruh kita—dengan berbagai alasan retorikanya. Akan tetapi, kita nggak bisa melakukan hal serupa. Ya, setidaknya ngasih tahu sebuah kebenaran menurut pemikiran kitalah. Pokoknya, dengan sungguh sewenang-wenangnya, mereka menganggap kita sebagai anak, nggak tahu apa-apa. Hadeeeh, kalau lagi kayak gini aja dianggap nggak tahu apa-apa. Coba kalau di keadaan yang lain, kalau kita nggak melakukan sesuatu dengan alasan nggak tahu atau nggak bisa. Pasti lagi-lagi dipersalahkan dan dipertanyakan, “Masak gitu aja nggak bisa, sih?” Sungguh, ini pikiran yang nggak ada logis-logisnya.

Kelima, mereka terlalu sering mengungkapkan segala hal yang diinginkan dengan dalih yang terbaik buat kita. Padahal, apa yang terbaik menurut mereka, tidak selalu betul-betul yang kita butuhkan dan inginkan? Mengapa kita begitu sulit menjalankan kehidupan sesuai dengan apa yang diri kita cita-citakan? Memangnya, ini hidup dan cita-citanya siapa, sih?

Akan tetapi, hubungan dengan orang tua memang se love-hate itu. Kita sungguh sayang dan nggak pengin bertengkar dengan orang tua, tapi di sisi lain juga sulit menerima mereka dengan apa adanya. Tidak sedikit, yang kemudian mempunyai masalah yang menumpuk dengan mereka sehingga semakin sulit untuk tahu caranya memaafkan.

Kita sebetulnya tahu, kalau kesuksesan kita bagaimanapun juga atas doa dari mereka. Namun, terkadang memang sulit diterima, mereka yang juga sulit menerima segala keputusan kita. Lantas, kita jadi menerka-nerka: jangan-jangan hidup kita bakal nggak barokah karena kurang ridho dari mereka?

Lagian bertengkar dengan orang tua itu betul-betul capek tauk. Ibaratnya kita kayak cuma lari di tempat doang. Begitu banyak energi yang terkuras, tapi nyatanya kita nggak bisa ke mana-mana. Jadi yaudah, sebel dan marahnya nggak perlulah dipelihara lama-lama.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2019 oleh

Tags: bertengkar dengan orang tuabertengkar dengan pacarmarahrumah
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Cuan

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.