Bagaimana Saya Kena Jengkolan, Merasakan Betapa Sakitnya, dan Bagaimana Saya Sembuh

jengkolan

Usia saya 27 tahun. Sejak kecil, saya sudah menggemari sayur jengkol. Rasanya, baunya, kekentalan kuahnya, ah… rasanya tak ada sayur lain yang lebih Indah daripada sayur beraroma naga ini.

Setiap musim jengkol tiba dan stoknya mudah didapatkan di pasar, saya hampir selalu meminta ibu saya untuk memasak sayur jengkol.

Nafsu saya pada jengkol senantiasa terjaga. Ia tak pernah tergeser dari daftar pemuncak klasemen sayur kesukaan saya, posisinya dibuntuti ketat oleh sayur kulit melinjo, dan sayu kangkung.

Namun, sebuah peristiwa yang begitu amat menyakitkan yang terjadi pada saya beberapa waktu yang lalu terpaksa menggeser jengkol dari daftar klasemen.

Ia harus terlempar ke urutan dua, eh, tidak, urutan tiga, eh, urutan empat, eh, atau urutan kelima, atau… Ah, persetan.

* * *

Hari itu boleh jadi merupakan hari yang sangat menyenangkan. Saya pulang dari Semarang setelah mengisi semacam seminar kemahasiswaan  yang diselenggarakan oleh Undip.

Dalam perjalanan balik ke Jogja, saya mampir sebentar ke Magelang, melepas kangen sama keluarga, dan mengambil pesanan saya: sayur jengkol.

Dari Magelang, saya membawa tiga plastik penuh sayur khuldi Jawa itu. Saya tak menyangka, jika sayur tersebut bakal menjadi awal rasa sakit yang teramat sangat.

Sampai Jogja, sayur itu langsung saya lahap dengan sangat dramatis. Nasinya setengah, dan jengkolnya full. Sangat kolosal. Lebih layak disebut jengkol lauk nasi, ketimbang sebaliknya.

Dan itu saya lakukan berkali-kali. Saya bahkan menyantapnya tanpa nasi, saya gado, saya titil-titil, sampai saya tak sadar sudah berapa jengkol yang saya santap.

Rasa sakit itu kemudian muncul sekitar pukul setengah tujuh malam saat saya akan menemui kawan lama saya di salah satu cafe. Saya mampir ke Alfamart sebentar untuk membeli permen relaxa. Maklum, bagi pemangsa jengkol, permen relaxa adalah salah satu obat utama untuk mengurangi “bau naga” yang timbul dari mulut.

Saat berdiri untuk antri di kasir, perut saya melilit luar biasa. Sakitnya setengah mati.

Saya mencoba untuk menahan rasa sakit tersebut, setidaknya selama saya harus ngobrol dengan kawan lama saya. Saya tak ingin menyambutnya dengan kondisi saya yang tampak sakit.

Saya dan kawan saya ngobrol sampai sekitar pukul setengah sepuluh.

Setelah kawan saya pulang, rasa sakit di perut semakin menjadi-jadi. Perut saya seperti diremas-remas. Saya berusaha untuk tidur agar sakitnya tak terasa, tapi saya gagal saking sakitnya.

Tengah malam, rasa sakit tersebut semakin menjadi-jadi. Ia seperti sedang mengejek saya. Saya pasrah. Saya menyerah. Saya kemudian menghubungi pacar saya untuk mengantarkan saya ke rumah sakit.

Tengah malam, menggunakan Go-car, kami bertolak ke RS Sardjito.

“Sakit apa, Mas?” Tanya Driver Go-car

“Saya nggak tahu, Mas. Saya takutnya ini kena usus buntu…” jawab saya sambil terus menahan sakit.

Mobil kemudian melaju dengan kecepatan yang sangat Pantura. Si Driver mungkin sadar diri, bahwa ia sedang mengangkut makhluk lemah yang butuh mendapatkan penanganan dengan segera.

Selama di dalam mobil, saya hanya bisa berbaring sambil memegangi perut dan menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Rasa sakit mulai mengacaukan pikiran saya dan membuat saya melantur tak keruan.

“Dik, apa jangan-jangan aku mens, ya? Apa aku minum Kiranti saja?” Kata saya pada pacar saya.

“Rasah aneh-aneh,” jawab dia.

Sekitar lima belas menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Sarjito. Catatan cleansheet saya yang sejak kelas 2 SMP untuk tidak pernah masuk rumah sakit sebagai pasien akhirnya ternodai.

Di Sardjito, saya langsung diperiksa oleh dokter jaga, dugaan sementara, asam lambung saya naik. Ini lumayan aneh, sebab selama ini, saya memang tidak pernah punya riwayat buruk dengan lambung.

Saya kemudian diberi resep oleh dokter.

Seorang kawan SMA, sebut saja Kutul yang kebetulan jadi perawat jaga di Sarjito kemudian menghampiri saya.

“Kowe ki asline mung kurang mangan, Gus…”  ujarnya sambil tertawa dan mengambil foto saya yang sedang tergolek lemah untuk kemudian ia posting di grup wasap SMA.

“Lambemu…” jawab saya sambil meringis.

Belakangan, baru diketahui bahwa ternyata sakit yang saya rasakan bukan karena usus buntu, asam lambung, atau kurang makan. Melainkan karena sebuah penyakit unik yang disebabkan oleh terlalu banyak makan jengkol: jengkolit, alias jengkolen.

Hal ini ketahuan setelah semua gejala yang saya rasakan cocok dengan gejala jengkolit: nyeri perut, muntah, pengeluaran urin sedikit dan terdapat titik-titik putih seperti tepung di ujung penis.

Bagaimana rasa sakitnya? Luar biasa. Jadi, bayangkan, perut Anda dikeruk oleh semacam traktor biologis yang menyebabkan setiap otot-otot yang ada di perut Anda tertarik. Dan itu berlangsung setiap satu detik, sehingga untuk sekadar berusaha tidur (demi melupakan rasa sakit) pun mustahil.

Yang lebih menyedihkan tentu adalah adik kecil alias penis. Rasanya perih. Setiap kali urin keluar, setiap kali itu pula rasa Perih datang. Padahal, dalam kondisi yang demikian, kemih seakan ingin selalu mengeluarkan urin. Jangankan untuk sekadar mengeluarkan urin, lha wong saat kau tekan ujung penismu pun rasanya sakit luar biasa.

Hampir sepanjang hidup saya memangsa jengkol, dan baru kali ini saya kena jengkolan dan sampai harus terbaring di rumah sakit.

* * *

Setelah dua hari merasakan sakit yang begitu menyebalkan, kondisi tubuh saya akhirnya perlahan membaik.

Apa rahasianya? Sprite. Ya, Sprite.

Adalah kawan saya yang berprofesi sebagai suster yang memberi tahu saya bahwa obat paling ampuh dari jengkolan adalah minuman bersoda. Dan ternyata, ia benar.

Usut punya usut, untuk menurunkan kadar racum asam jengkolat dalam tubuh ternyata memang dengan menetralisirnya dengan minuman bersoda, sebab minuman bersoda punya kandungan bikarbonat yang bersifat basa.

Saya sembuh setelah saya diglonggong dengan sprite dalam jumlah yang sangat banyak. Entah berapa liter Sprite yang masuk dalam tubuh saya, yang jelas, saya tak ingat berapa gelas yang harus saya teguk.

Setelah minum sprite yang begitu banyak, dengan diselingi minum air putih yang tak kalah banyaknya, saya langsung berkali-kali kencing. Nah, melalui air kencing itulah racun dalam tubuh kemudian dibuang.

Ah, sungguh, tak selamanya jengkol itu nikmat. Pada titik tertentu, ia bisa menjelma menjadi keparat.

Pelajaran berharga yang saya dapat dari rasa sakit ini tentu saja satu: Boleh makan jengkol, asal jangan terlalu banyak. Segala sesuatu yang berlebihan tak pernah baik.

Too much love will kill you, begitu kata gitaris Queen, Brian May.

Exit mobile version