Pukul 07:30 pagi, saya sampai di Stasiun Tugu untuk mengantar istri. Dia ada pekerjaan di Solo dan akan naik KRL pukul 07:55. Sebelum masuk gerbong KRL, istri saya mampir sejenak ke Indomaret untuk membeli sesuatu. Sementara saya, langsung tancap gas menuju kantor setelah istri saya turun dari motor.
Sekitar 10 menit kemudian, ketika istri saya sudah di dalam gerbong, dia mengirim pesan WhatsApp. Lantaran masih berkendara, tentu saya tidak mau membuka WhatsApp dari istri saya tersebut. Saya baru membuka pesan dari istri saya sekitar 40 menit kemudian, ketika sampai kantor.
Dan, pesan pendek dari istri saya tersebut menjadi pelengkap sebuah daftar yang sedang saya pikirkan. Daftar yang saya maksud adalah semacam “dosa” Indomaret, yang bikin pembeli kecewa, tapi nggak berdaya karena ya nggak bisa apa-apa selain menerima. Inilah mereka.
Baca juga: 4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan
#1 Harga minuman/makanan yang lebih mahal
Pesan dari istri saya, bunyinya begini: “Kaget juga. Aqua 600 ml yang biasanya Rp3 ribu, jadi Rp7 di Indomaret dekat stasiun.
Saya tidak membalas pesan dari istri saya tersebut. Lagian, mau balas apa. Kita sama-sama tahu kalau harga makanan atau minuman di dekat “landmark” atau “titik wisata”, pasti lebih mahal. Jadi, kalau harga Aqua di Indomaret dekat stasiun lebih mahal, saya rasa itu wajar.
Menjadi agak tidak wajar pasti karena angkanya. Dari Rp3 ribu menjadi Rp7 ribu itu naik 100% lebih. Shock seperti itu lumrah. Dan lumrah juga ketika pembeli jadi kecewa.
Tapi, ya mau bagaimana. Sebagai pembeli yang akan segera naik kereta, tidak ada pilihan lain selain “tetap membeli atas nama terpaksa”. Mau jalan dulu ke Indomaret lain? Waktu adalah uang dan kenyataan itu membelenggu kita semua.
#2 Kamar mandi Indomaret yang kurang kasih sayang
Selain di SPBU, kamar mandi Indomaret adalah penyelamat. Semua dokter pasti akan menganjurkan kepada siapa saja untuk tidak menahan pipis atau berak terlalu lama. Oleh sebab itu, ketika sedang dalam perjalanan, khususnya perjalanan darat, minimarket yang hampir ada di seluruh Indonesia ini jadi penyelamat.
Namun, nyatanya, tidak semua kamar mandi Indomaret itu bersih dan wangi. Saya sendiri malah lebih sering menjumpai yang “kurang kasih sayang”. Kata “kurang” berarti sebetulnya sudah ada aktivitas membersihkan di sana. Namun, mungkin kurang rajin saja. Bisa jadi, karena minimarket tersebut kurang orang sebagai tenaga kebersihan. Saya tidak tahu.
Nah, sebagai orang yang “hanya mampir” untuk pipis, kita nggak bisa berbuat banyak. Apa ya mau membersihkan kamar mandi Indomaret dulu sebelum berak? Sebetulnya itu ide menarik, tapi buang waktu nggak, sih.
Oleh sebab itu, atas nama terpaksa, orang yang mampir yang tetap buang hajat. Mungkin, sebagai usaha untuk melampiaskan kekecewaan karena kamar mandi yang kotor, mereka nggak jadi beli sesuatu.
You know, sebagai “bayaran” atas numpang ke kamar mandi Indomaret, kita biasanya beli sesuatu. Yang murah dan cepat. Biasanya air mineral biar “nggak gratis banget” udah numpang pipis.
#3 Indomaret yang tak berdaya
Lebih spesifiknya, kru atau manajemen Indomaret yang tak berdaya oleh kemunculan siluman (baca: tukang parkir liar). Mereka sudah menempel poster di pintu kaca. Intinya, khusus pembeli, gratis parkir. Tapi, siluman ini terlalu overpower sehingga kru yang bertugas, serta manajemen, tak berdaya dan diam saja.
Saya tidak menyalahkan kru dan manajemen. Saya aja takut sama tukang parkir liar. You know, lah. Saya tak perlu memberi penjelasan lebih lanjut.
Sebagai pembeli, ya pasti kecewa. Datang dengan hati riang, belanja bulanan lancar, dapat kamar mandi Indomaret yang bersih, ketemu kasir yang ramah, dan pembayaran pakai cash masih boleh. Eh, ketika mau pulang dan memundurkan sepeda motor, tiba-tiba ada tangan siluman memegang handle belakang motor.
Mereka seakan-akan sedang bekerja, membantu kamu memundurkan sepeda motor. Masalahnya, kamu parkir di sebuah tempat yang sejak tadi orang parkir sembarangan dan tiada yang merapikan. Eh, begitu pulang, siluman datang, dengan wajah menantang, dan tangan menengadah minta dua ribuan.
Begitulah, 3 dosa Indomaret yang bikin pembeli kecewa. Tapi, kami tidak bisa berbuat banyak, atas nama keterpaksaan. Kru dan manajemen Indomaret juga nggak bisa berbuat banyak. Pada akhirnya, kita sama-sama kecewa. Mau pelukan?
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
