11 Komentar Politisi Paling Wagu Sepanjang Tahun 2018

MOJOK.CO Sepanjang 2018 kita dihiasi dengan segala macam komentar para politisi yang super duper wagu. Dari soal hoax Ratna Sarumpaet sampai perkara remeh tai burung. Ajaib!

Sebentar lagi tahun 2018 bakalan berakhir. Hore (biasa wae, Mas).

Tahun 2018 juga bisa disebut sebagai tahun penuh keriuhan karena munculnya berbagai kejadian unik, terutama dalam dunia politik Indonesia yang suci. Berbagai selentingan politisi mewarnai khasanah di segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Menembus sekat-sekat usia, golongan, agama, sampai dinding rumah arisan ibu-ibu PKK.

Semua rakyat keplok-keplok melihat selentingan kontroversial nan wagu dari para politisi. Hal yang di satu sisi bikin hati miris, namun di sisi lain juga bikin bersorak-sorak karena seru sekali mendengar selentingan-selentingan wagu tersebut muncul dari mulut para politisi terdidik nan terpelajar.

Meski begitu, saya sih nggak pernah bersorak ngelihat situasi demikian. Apaan sih, sampah kok dikeplokin?

Oke deh, beberapa sih saya ada yang ikut keplok-keplok. Dikit tapi.

Melalui penelusuran panjang—dibantu dengan search engine Google yang disponsori Iluminati dan Yahudi tentu saja—saya bersama Mojok Institute akhirnya menemukan beragam komentar-komentar terwagu para politisi.

Ada 11 poin yang berhasil kami kumpulkan. Kalau ada yang nanya; lho, kenapa cuma 11? Kenapa nggak sekalian 12, bulan dalam satu tahun aja ada 12? Ya ini karena semata-mata karena yang ganjil-ganjil itu lebih sunah. Dah gitu aja.

Yok, mari kita gasss….

Indonesia Bubar 2030 (Maret 2018)

Calon Presiden dari kubu oposisi, Prabowo Subianto mengawali tahun 2018 dengan menyebut bahwa negara lain sudah meramalkan Indonesia bakalan tidak ada lagi—alias bubar pada 2030. Pidato yang disampaikan di hadapan ratusan kader Partai Gerindra ini segera menyulut berbagai komentar.

Masalah tidak berhenti di sana. Sebab, diketahui kemudian, wacana yang disampaikan Prabowo ini jebul dinukil dari sebuah buku fiksi ilmiah berjudul Ghost Fleet karya Peter W. Singer. Tapi nggak apa-apa Pak Prabowo, Pak Jokowi aja juga kutip-kutip kisah di pilem Avengers sama Game of Thrones yang juga fiksi kok. Jadi santai kayak di pantai aja.

Lha wong kitab suci saja bisa dimaknai fiksi kok kalau kata Rocky Gerung. Ya nggak?

Partai Setan dan Partai Allah (April 2018)

Politisi senior Amien Rais tidak ketinggalan meramaikan lantai dansa komentar-komentar wagu tahun 2018. Sebulan setelah ramai-ramai soal kasus Indonesia bubar 2030, Amien Rais mengeluarkan pernyataan yang canggih nan ajaib.

“Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah (Partai Allah). Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan (Partai Setan),” ujar Amien Rais.

Tanpa kekuatan elektoral dan kemampuan finansial yang mumpuni (ketimbang lawan politiknya), Amien Rais barangkali sedang berjuang menaikkan citra PAN dengan mempraktikkan cara “modal dengkul” ala Gus Dur guna bisa berkecimpung lagi dalam arena politik praktis lagi pada usia senja.

“Saya jadi Presiden itu cuma modal dengkul,” kata Gus Dur suatu kali. Orang tertawa mendengarnya, ketika tawa belum reda mendadak Gus Dur melanjutkan, “itu pun dengkulnya Amien Rais.”

Stuntman Jokowi Asian Games 2018 (Agustus 2018)

Dalam acara seremoni Pembukaan Asian Games 2018 yang diadakan di Indonesia, Jokowi dicitrakan menaiki moge ketika masuk ke Stadion Gelora Bung Karno. Penampilan yang atraktif dengan aksi-aksi berbahaya itu membuat banyak politisi oposisi bersuara.

Beberapa di antaranya yang menyampaikan komentar terwagu tahun 2018 adalah Ferdinand Hutahean dan Roy Suryo—yang kebetulan sama-sama politisi dari Partai Demokrat. Keduanya kompak meminta Jokowi jujur bahwa aksi yang dilakukan tersebut menggunakan stuntman.

“Pak Jokowi kami minta jujur ke publik untuk menjelaskan (pemakaian stuntman) karena di media sosial ini terpecah,” ujar Ferdinand.

“Sebaiknya ditulis ‘TAYANGAN INI DILAKUKAN OLEH PROFESIONAL’, sehingga publik dicerdaskan dan diberikan penjelasan yang jujur,” kata Roy Suryo.

Mungkin komentar ini juga ada baiknya didengar juga oleh Tom Cruise, Van Diesel, sampai Dwayne “The Rock” Johnson ketika sedang melakukan atraksi di film-film aksi mereka.

Tuh, Mas Tom, Mas Van, dan Mas Rock dengerin tuh. Kalau pakai stuntman itu bilang-bilang. Penting ini. Sama penonton film kok pakai aksi tipu-tipu segala. Dasar tukang akting dan pencintraan ih kelen semuwa. Suwampah.

Surga dan Neraka ala Farhat Abbas (September 2018)

Jangan pikir cuma politisi oposisi saja yang mengeluarkan komentar wagu sepanjang tahun 2018, dari kubu Jokowi sendiri juga ada. Salah satunya adalah postingan dari pengacara multitalenta Farhat Abbas di akun instagramnya.

Postingan ini tentu memancing komentar keras dari berbagai kubu. Farhat Abbas diserang karena mempolitisasi agama dalam kampanyenya mendukung Jokowi.

Memangnya sekarang tugas Malaikat Roqib dan Atit udah digantikan sama Bang Farhat? Kalau iya, politisi PKB ini memang betulan multitalenta dah. Nggak cuma di dunia politik dan dunia pengacara, tapi juga di dunia artis sampai dunia gaib. Salut, Gan. Serba bisa.

Tempe Setipis Kartu ATM (September 2018)

“Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM. Ibu Yuli di Duren Sawit kemarin bilang, jualan tahunya sekarang dikecilin ukurannya,” kata Sandiaga Uno.

Hal yang sebenarnya ingin ditunjukkan Sandi adalah harga keledai, eh, kedelai sudah naik tinggi sehingga para pengusaha tempe harus bikin tempe tipis-tipis. Sayangnya, tempe ini segera digoreng habis-habisan sampai gosong.

Sandi dihajar habis-habisan dari kanan kiri. Bahkan sampai ada seseorang yang printing custom kartu Flazz BCA, eMoney Mandiri, TapCash BNI, BRIzzi pakai gambar tempe.

kartu tempe

Siap Pak Edy (September 2018)

Usai dari dunia politik betulan, bulan September 2018 mata kepala para netijen yang haus akan aroma-aroma perselisihan muncul dalam dunia politik sepak bola. Siapa lagi kalau bukan Lord Edy Rahmayadi yang jadi aktornya.

Dalam wawancara dengan Aiman Wicaksono, Edy Rahmayadi sempat menegur presenter Kompas TV tersebut ketika bertanya soal rangkap jabatan Ketua PSSI. Dengan enteng, pensiunan Pangkostrad ini menghardik Aiman saat sedang live di televisi, “Apa urusan Anda menanyakan itu?”

Tagar #siapPakEdy langsung viral beberapa saat setelahnya.

Apalagi setelahnya komentar-komentar wagu Pak Edy bermunculan bak domino. Dari wartawan harus baik, baru timnas bisa baik, lalu soal jumlah pemain sepak bola yang terlalu sedikit jadi sebab kekerasan suporter, sampai kurangnya guru ngaji dalam dunia sepak bola Indonesia.

Memang luar biasa Gubernur Sumut, eh, Ketum PSSI kita yang satu ini. Mantap abis. Osiyap, Pak Edy!

Hoax Ratna Sarumpaet (September-Oktober 2018)

Geger 2018 tidak akan komplet jika tidak memasukkan Hari Kapusan Nasional dengan pemeran utamanya: Ratna Sarumpaet. Mengaku wajahnya babak belur karena dipukuli oleh gerombolan orang tak dikenal, ternyata Ratna cuma operasi plastik.

Tidak main-main, Ratna membohongi—hampir semua—politisi dari kubu oposisi. Bahkan termasuk Prabowo Subianto, Fadli Zon, sampai Amien Rais. Hal yang menunjukkan bahwa Ratna ternyata masih mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam berakting sebagai artis dan seniman teater. Ratna pun kemudian dianggap pantas menerima Piala Oscar karena akting menawan ini.

Tapi dari geger-geger Hari Kapusan Nasional, komentar wagu bukan malah muncul dari Ratna, melainkan muncul dari Ferdinand Hutahean, politisi Partai Demokrat.

“Karena yang saya pahami, orang operasi plastik untuk mempecantik diri. Tapi kok Ratna tidak jadi cantik? Tetap saja seperti semula? Inilah yang harus diusut,” ujar Ferdinand wagu todemaaaaaaaax.

Tai Burung ala Ferdinand Hutahean (Oktober 2018)

Tak ada angin tak ada ujan, Ferdinand Hutahean politisi Partai Demokrat mendadak berkicau di akun twitternya soal tanda-tanda alam.

Ferdinand yang mendukung pasangan calon presiden nomor urut 2, menyampaikan bahwa alam pun memberi firasat yang sangat harfiah tentang kemenangan jagoannya.

Angkat tangan kalau ngomentari yang atu ini. Ini mah level wagunya sudah sampai tahap makrifat.

Politik Genderuwo dan Politikus Sontoloyo (November 2018)

Jika di awal tadi ada Prabowo Subianto dengan komentar soal Indonesia bubar pada tahun 2030, Jokowi juga nggak ketinggalan ketika menyebut para politisi di parlemen dengan istilah sontoloyo, serta ngatain cara lawan politiknya dengan politik genderuwo.

Ungkapan wagu dan tak berfaedah ini pun muncul karena belakang isu PKI dan agama kembali muncul ketika Jokowi hendak maju sebagai calon presiden. Hal yang kemudian melahirkan dua puisi agung nan luwar biyasa keren dari politisi multitalenta Fadli Zon.

Rakyat Harus Maklum kalau Kinerja DPR Buruk (Desember 2018)

Minimnya Undang-undang yang berhasil disusun, serta jumlah kehadiran yang memprihatinkan dari para Anggot DPR RI, membuat rapor para Wakil Rakyat ini begitu buruk sepanjang 2018.

Meski begitu, bukannya meminta maaf karena kinerjanya begitu buruk, Wakil Ketua DPR Fadli Zon malah meminta rakyat Indonesia maklum.

“Saya kira pasti akan terjadi penurunan intensitas (kehadiran) karena ada banyaknya kegiatan di dapil kan sekaligus kampanye. Ini saya kira yang perlu dimaklumi juga. Ini terjadi di semua partai politik,” ujar Fadli.

Tapi sebenarnya, komentar wagu Bang Fadli ini seharusnya disikapi positif. Sebab, selain soal kasus Siap Pak Edy, komentar wagu ini lah yang nyatanya malah bisa menyatukan para cebong dan kampret. Meski ya itu, cuma sesaat aja. Nggak gitu terasa.

Kriminalisasi Ulama ala Fadli Zon (Desember 2018)

Yup, akhirnya tahun ini bisa ditutup dengan komentar wagu Bang Fadli Zon soal kasus penangkapan Habib Bahar bin Smith karena kasus kekerasan terhadap anak.


Komentar yang aduhai wagu. Karena secara tidak langsung, Fadli Zon dianggap membenarkan tindak kekerasan Habib Bahar kepada anak-anak. Iya, menganiaya anak orang itu bukan kejahatan asal yang dihajar bukan anak saya! Eh.

Exit mobile version