Ini adalah sebuah pembelaan yang tenang untuk kota yang selalu kalah populer dari Bandung. Padahal, nyatanya, Cirebon tidak pernah memaksa ikut bertanding.
Soal kata “alternatif”
Setiap kali orang Jawa Barat bicara soal kota yang enak untuk hidup sampai tua, nama Bandung selalu keluar lebih dulu. Tentu saja itu wajar.
Bandung punya kampus, gaya, kafe, dan reputasi yang orang bangun sejak puluhan tahun lalu. Artikel ini tidak hendak menjatuhkan Bandung. Artikel ini justru hendak melakukan sesuatu yang lebih berguna, saya rasa, yaitu mengangkat kata alternatif ke tempat yang layak.
Sebab alternatif bukan berarti pilihan kedua yang kamu ambil karena gagal mendapat yang pertama. Alternatif berarti pilihan yang kamu ambil karena kamu sudah selesai menghitung.
Cirebon tidak menawarkan kota yang lebih ramai. Cirebon menawarkan kota yang lebih selesai. Ia sudah punya hampir semua yang kamu butuhkan untuk hidup 30 tahun ke depan, dan ia tidak membersamai kamu dengan kemacetan, harga tanah gila-gilaan, serta ambisi menjadi metropolitan.
Berikut 10 alasannya.
#1 Ukurannya manusiawi dan itu bukan kekurangan
BPS mencatat luas Kota Cirebon hanya 37,36 kilometer persegi. Angka itu membuat Cirebon menjadi kota terkecil di Jawa Barat, jauh di bawah luas Provinsi Jawa Barat yang mencapai 35.377 kilometer persegi. Pemerintah Kota membagi wilayah sekecil itu menjadi 5 kecamatan dan 22 kelurahan saja.
Bagi sebagian orang, angka itu mirip ejekan. Bagi orang yang sudah lelah menghabiskan 2 jam sehari untuk berpindah 12 kilometer, angka itu berbunyi seperti hadiah.
Kamu bisa berangkat dari Harjamukti, mampir makan di Pekalipan, menyelesaikan urusan di Kejaksan, lalu pulang ke Kesambi, dan masih sempat tidur siang.
Kota sebesar ini memangkas satu variabel besar dalam hidup, yaitu waktu yang habis di jalan. Saat kamu pensiun nanti, variabel itu menjadi variabel termahal yang kamu miliki. Pada titik tertentu, Bandung nggak bisa menawarkan itu berkat kemacetannya yang bikin pusing.
#2 Biaya hidup Rp1,5 juta sampai Rp2 juta sebulan masih masuk akal
Satu orang cukup menyiapkan Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan untuk hidup di Cirebon. Ini sudah mencakup sewa kamar, makan, dan transportasi. Detik bahkan menempatkan Cirebon dalam daftar 5 kota dengan biaya hidup termurah di Indonesia, sementara Kompas menobatkannya sebagai salah satu kota murah favorit calon mahasiswa.
Sekarang bayangkan kamu membawa uang pensiun yang sama ke Bandung. Kamu akan mendapat kamar lebih kecil, makan lebih sedikit, dan perjalanan lebih jauh.
Poin pentingnya bukan sekadar angka murah. Poin pentingnya adalah selisih. Selisih itulah yang nanti kamu pakai untuk hal-hal yang benar-benar menentukan kualitas hari tua: kontrol kesehatan rutin, kunjungan ke cucu, dan satu kebiasaan kecil yang tidak kamu tawar, entah itu kopi enak atau langganan koran.
#3 Harga properti belum menembak langit, jadi kamu masih bisa punya rumah, bukan cuma kos
Data portal properti pada 2025 sampai 2026 menunjukkan penjual masih menawarkan rumah tipe 60 di kawasan Cirebon Barat mulai sekitar Rp210 juta, rumah di Talun mulai Rp200 juta, dan kavling di Harjamukti sekitar Rp270 juta. Median harga tanah di Kota Cirebon berkisar Rp3,6 juta sampai Rp4 juta per meter persegi, dan angka itu masih berubah-ubah, bukan naik terus tanpa ampun.
Bandingkan dengan kota lain kayak Bandung di Jawa Barat yang orang sebut “enak buat tinggal”. Di sana, satu kavling kecil sudah cukup untuk membeli rumah plus satu sepeda motor di Cirebon.
Ini alasan yang sangat praktis untuk sebuah kota alternatif. Kamu tidak perlu mewariskan utang kepada anakmu. Kamu hanya perlu mewariskan sertifikat.
#4 Enam jalur pergi dan semuanya tidak lebih dari 4 jam
Kota alternatif yang baik tidak mengurung kamu. Kota alternatif yang baik membiarkan kamu pergi kapan pun kamu mau, lalu menerima kamu pulang tanpa drama.
Cirebon memenuhi syarat itu dengan sangat baik dengan nama “kereta”. Argo Cheribon dan Cirebon Ekspres melayani relasi Gambir–Cirebon sekitar 3 jam, dengan tarif mulai Rp130 ribu sampai Rp180 ribu untuk kelas ekonomi. Kamu bisa berangkat pagi, menyelesaikan urusan di Jakarta, dan tidur di rumah sendiri.
Lalu ada tol. Presiden Joko Widodo meresmikan Tol Cisumdawu pada 11 Juli 2023. Ridwan Kamil, yang saat itu menjabat Gubernur Jawa Barat, menyebut waktu tempuh Bandung–Cirebon turun dari 6 jam menjadi 70 sampai 75 menit.
Jalur nasional. Cirebon berdiri di jaringan jalan nasional yang menghubungkan Pelabuhan Merak di Cilegon sampai Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi.
Bandara. Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati berada sekitar 40 sampai 60 menit dari Bandung lewat Cisumdawu, dan satu jam-an dari Cirebon lewat Cipali.
Laut. Pelabuhan melayani aktivitas niaga dan penyeberangan, meski skalanya kecil ketimbang Tanjung Priok.
Bus. Terminal Harjamukti menyediakan pilihan trayek antarkota yang membuat tiket pesawat bukan satu-satunya cara keluar dari Jawa Barat.
Seorang pensiunan butuh 3 hal soal transportasi, yaitu akses mudah ke rumah sakit rujukan, akses mudah ke anak-cucu yang bekerja di kota besar, dan akses mudah ke tempat hiburan sesekali. Cirebon memberi ketiganya tanpa menuntut kamu membeli mobil baru.
#5 Kuliner Cirebon beneran murah
Kompas mencatat 3 kawasan street food di Kota Cirebon, yaitu Jalan Mohamad Toha, Pekalipan, dan Ciremai Raya. Di sana, kamu akan menemukan camilan mulai Rp1.000 per biji, es teh manis Rp3.000 segelas, dan seporsi hidangan besar di kisaran puluhan ribu.
Pemerintah Kota Cirebon bersama Bank Indonesia membangun gapura bertuliskan “Culinary Center and Art Action” di Pekalipan. Kawasan itu makin ramai sejak Festival Pekalipan pada September 2024.
Di luar itu, Cirebon punya lapisan kuliner yang lebih tua bernama nasi jamblang, empal gentong, docang, tahu gejrot, dan aneka olahan udang yang membuat orang menjulukinya Kota Udang.
Kuliner bukan urusan sepele kalau kamu bicara soal hidup sampai pensiun. Selera makan orang tua menurun, dan harga makan yang murah membuat si lansia tidak perlu berpikir dua kali untuk makan enak setiap hari. Cirebon memberimu kemewahan yang aneh tapi nyata, yaitu kamu bisa makan seenak itu tanpa merasa sedang membakar tabungan.
#6 Layanan kesehatannya tumbuh, bukan berhenti di Puskesmas
Alasan paling sering orang tolak sebuah kota alternatif adalah kesehatan. “Nanti kalau sakit parah, bagaimana?” Cirebon menjawab pertanyaan itu dengan cukup meyakinkan.
RSD Gunung Jati berdiri sejak 1920, berusia 105 tahun pada 2026, menyandang status rumah sakit tipe B pendidikan, memegang akreditasi Paripurna, dan menjadi rujukan utama wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan). Pada Agustus 2026 rumah sakit itu membuka layanan ginekologi onkologi dan kanker payudara melalui Poliklinik Rara Jelita, layanan yang sebelumnya memaksa warga Cirebon menempuh dua sampai tiga jam ke RS Hasan Sadikin Bandung.
Wali Kota Effendi Edo menyebut layanan itu sebagai inovasi untuk masyarakat Ciayumajakuning. Peserta JKN-BPJS bisa memakainya.
Selain RSD Gunung Jati, ada RS Siloam, RS Pertamina Cirebon, RS Medimas, RS Sumber Kasih, dan sejumlah klinik swasta. Kombinasi ini penting. Kota alternatif yang baik tidak menuntut kamu pindah ke kota besar setiap kali kamu butuh CT scan.
#7 Kampus di Cirebon terhitung lengkap kayak Bandung, jadi cucumu tidak harus merantau jauh
Kota yang menua tanpa anak muda akan berubah menjadi museum. Cirebon paham risiko itu.
ITB membuka Kampus Cirebon di Watubelah, Kecamatan Sumber, dan di Desa Kebonturi-Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, dengan lahan 30 hektare. Kampus itu membuka program studi Teknik Industri, Perencanaan Wilayah dan Kota, Kriya, Teknik Geofisika, dan Oseanografi, dengan kurikulum serta dosen yang setara kampus Ganesha.
Di sampingnya ada Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Muhammadiyah Cirebon, UIN Syekh Nurjati Cirebon, Untag, dan puluhan sekolah tinggi lain.
Bagi pasangan yang menimbang pensiun, ini soal aritmetika keluarga. Cucu yang kuliah di kota yang sama berarti rumah yang tidak kosong, makan malam yang tidak sunyi, dan biaya pendidikan yang tidak harus menguras warisan.
#8 Budayanya hidup setiap hari, bukan cuma saat festival
Kompas mencatat Cirebon kini punya 20 warisan budaya takbenda. Kota ini masih menyimpan empat keraton yang aktif (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan) dan Pemerintah Kota Cirebon memetakan kawasan keraton sebagai prioritas wisata dengan konsep Living Heritage, bukan sekadar bangunan berpagar.
Batik Trusmi masih berdenyut, para seniman masih mementaskan tari topeng, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon rutin menggelar Festival Gotrasawala, Sintren, serta Festival Komunitas Seni Media. Dinas itu bahkan menyiapkan destinasi baru seperti Museum Topeng Wong, Kampung Wisata Kacirebonan, dan Kampung Arab Panjunan.
Untuk orang yang sudah selesai mengejar karier, budaya yang hidup berarti jadwal harian yang tidak kosong. Kamu bisa menghabiskan pagi di pasar, siang menonton latihan gamelan, dan sore mengobrol dengan perajin. Cirebon tidak menuntut kamu jadi turis di kotamu sendiri.
#9 Pintu usaha terbuka lebar, karena upah minimumnya rendah dan pemerintah sedang menata ruang publik
Kompas mencatat UMK Cirebon sekitar Rp2,5 juta per bulan pada 2024. Bagi pekerja, angka itu rendah. Bagi orang yang ingin membuka usaha setelah pensiun, angka itu berarti beban operasional yang ringan.
Kota ini juga kian membuka ruangnya. Pemerintah Kota menata ulang kawasan Pasar Pagi menjadi pusat kuliner dan oleh-oleh, menghidupkan kembali zona belanja di lantai dua, dan menyambungkannya dengan Kali Sukalila serta Kalibaru. Wali Kota Cirebon menilai kawasan itu punya sejarah panjang sebagai tempat orang mencari oleh-oleh, dan sejumlah investor sudah datang melihat aset di lantai atas.
Pemerintah Kota juga menetapkan penanda kawasan: Kejaksan fokus pada perdagangan dan revitalisasi Kali Sukalila, Lemahwungkuk pada ekonomi pesisir, Kesambi pada layanan publik, Harjamukti pada UMKM dan urban farming, Pekalipan pada sentra kuliner.
Orang yang pensiun dengan modal dan pengalaman menemukan kota ini sebagai tempat yang masuk akal. Kamu bisa membuka kafe kecil, usaha oleh-oleh, homestay, atau jasa konsultasi, dan kota ini belum menghajar kamu dengan sewa tempat yang absurd.
#10 Ritme hidupnya pelan dan bersahabat
Ini alasan yang paling sulit orang buktikan dengan data, tapi paling mudah kita rasakan.
Cirebon adalah kota para wali, kota pesantren, kota pelabuhan tua yang sudah berdagang dengan berbagai bangsa sebelum Jakarta lahir sebagai nama. Kota dengan sejarah sepanjang itu tidak mudah panik.
Orang Cirebon cenderung menilai orang dari caranya mengobrol, bukan dari merek tasnya. Kamu bisa masuk warung tanpa rasa canggung, bertanya arah tanpa orang mencurigaimu, dan menghabiskan sore tanpa merasa sedang menyia-nyiakan produktivitas.
Bagi orang yang sebentar lagi pensiun, ini bentuk kemewahan yang tidak kamu temukan di kota yang mengukur manusia dengan target bulanan. Cirebon menawarkan definisi hidup yang lebih longgar ketimbang Bandung, yaitu cukup, dekat, dan tidak terburu-buru.
4 hal yang harus kamu pertimbangkan kalau mau pindah ke Cirebon
Artikel yang jujur tidak menjual surga. Jadi mari kita hitung sisi lain Cirebon sebelum kamu memesan truk pindahan.
Rob dan banjir. Tempo mengutip BMKG yang mengeluarkan peringatan dini banjir rob untuk Lemahwungkuk dan Kejaksan pada 18 sampai 23 Juni 2025.
Liputan6 mencatat banjir merendam 24 desa dan kelurahan di delapan kecamatan Kabupaten Cirebon pada 23 Desember 2025. Warga Desa Ambulu, Kecamatan Losari, menggelar aksi damai pada 25 Mei 2026 karena rob menggenangi sekitar 70 persen permukiman dan menenggelamkan lebih dari 700 hektare tambak.
Detik Jabar dan Bisnis mencatat tuntutan warga, antara lain pembangunan giant sea wall. Kalau kamu memilih tinggal dekat pantai, cek elevasi tanah dan riwayat genangan lebih dulu.
Panas. Cirebon duduk di pesisir utara dengan suhu yang jarang ramah. Bandung menang di kategori ini, dan tidak ada gunanya menyangkal.
Drainase dan sampah. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq pada 2025 mendorong Pemerintah Kota Cirebon memperbaiki tata kelola sampah dari hulu ke hilir, dan BPBD menyebut buruknya drainase ikut memperparah banjir. Kota kecil pun bisa banjir kalau salurannya mampet.
Pekerjaan formal. Kalau kamu masih berusia 30-an dan butuh gaji korporat besar, Cirebon akan terasa sempit. Kota ini bersinar justru untuk orang yang sudah selesai dengan fase itu, atau yang bisa bekerja jarak jauh.
Kenapa kata “alternatif” justru kekuatan Cirebon?
Bandung menjual ambisi. Cirebon menjual kepastian.
Bandung berkata: “Datanglah, lihat kafe baru kami.” Sementara itu, Cirebon berkata: “Datanglah, ini rumahmu, harganya tidak akan berubah minggu depan.”
Kota alternatif yang hebat tidak mencoba mengalahkan kota utama. Ia menyediakan versi hidup yang lebih tenang dari kota yang sama-sama berada di Jawa Barat, dengan kereta 3 jam ke Jakarta, tol 75 menit ke Bandung, rumah seharga sepertiga, empal gentong yang tidak pernah mengecewakan, dan rumah sakit rujukan yang kini menangani kanker tanpa harus mengirim kamu ke Hasan Sadikin.
Kalau kamu mencari kota untuk menghabiskan sisa hidup dengan tenang, murah, dekat keluarga, dan tetap punya jalan ke mana-mana, Cirebon tidak menawarkan diri sebagai juara. Cirebon menawarkan diri sebagai jawaban yang lebih masuk akal.
Dan bagi sebuah kota alternatif, itu sudah lebih dari cukup.
BACA JUGA Kota Cirebon Cocok untuk Orang-orang Mager yang Ingin Berwisata dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.