• 2
    Shares

MOJOK.CO Melihat situasi politik di dalam tubuh partai, kecil kemungkinan bagi Gatot Nurmantyo bisa berlaga di pilpres 2019 sebagai capres atau cawapres.

Nama Gatot Nurmantyo masuk ke bursa Pilpres 2019 lewat beberapa survei. Tapi, kenapa kecil kemungkinan mantan Panglima TNI itu untuk ikut ambil bagian dalam hajatan demokrasi penting tersebut?

Gatot sering diisukan punya peluang untuk diusung oleh kubu Gerindra. Namun, Fadli Zon menegaskan: belum ada diskusi soal nama Gatot dalam berbagai perbincangan di kubu Gerindra. Pernyataan itu cukup gamblang. Rasanya tidak mungkin Gerindra yang sejak awal bulat mengusung Prabowo, tiba-tiba memberi peluang kepada orang di luar partai berlambang kepala burung garuda tersebut.

Selain bukan orang yang ikut jatuh bangun membangun dan membesarkan Gerindra, tidak ada korelasi positif antara pencalonan Gatot Nurmantyo dengan perolehan suara Gerindra jika dicalonkan. Jadi apa keuntungan buat Gerindra jika mencalonkan Gatot?

Kubu PKS pun punya daftar calon sendiri. Tentu saja, juga tidak ada nama Gatot Nurmantyo di dalamnya. Hal ini juga wajar. Sudah pasti, PKS akan memprioritaskan nama kadernya sendiri untuk berlaga dalam kancah pemilihan tampuk kepemimpinan tertinggi republik ini.

Jika kemudian terjadi kompromi politik antara Gerindra dengan PKS, lalu dianggap calon dari PKS tidak cukup menyumbang elektabilitas Prabowo, maka kecil pula kemungkinan kedua partai itu mengusung Gatot Nurmantyo sebagai cawapres Prabowo. Pasangan militer dengan militer, rasanya susah untuk dijual ke khalayak pemilih. Setidaknya rentan untuk dihantam.

Baca juga:  Pak Fadli Zon, Hal Remeh Ini Saja Sulit Dilakukan, Apalagi Evakuasi Korban

Dengan logika seperti itu, alternatifnya bisa diberikan kepada sipil. Di situlah Anies Baswedan, Yusril Ihza Mahendra, atau Tuan Guru Bajang (TGB) lebih punya peluang.

Dari kubu Jokowi, resistensi terhadap Gatot Nurmantyo juga cukup besar. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari isu soal berbagai manuver Gatot ketika menjabat sebagai Panglima TNI. Kalaupun toh ada kompromi politik bahwa figur yang dipilih Jokowi bukan dari tokoh partai-partai yang mengusungnya, maka nama-nama yang dipilih besar kemungkinan bukan Gatot. Nama seperti Mahfud MD, Sri Mulyani, Moeldoko, atau yang lain, akan lebih diterima oleh semua partai.

Sementara rasanya susah buat Gatot Nurmantyo untuk mendapatkan tiket dari partai seperti Demokrat, PKB, maupun PAN. Demokrat jelas punya andalan, yakni Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara itu, PKB sejak awal sudah menggenjot kampanye mengusung Cak Imin sebagai cawapres. Sedangkan PAN, yang memang agak kekurangan figur dengan tingkat elektabilitas tinggi, sudah mulai mendorong Zulkifli Hasan.

Logika pilpres berbeda dengan pilgub. Beberapa pilgub digunakan oleh partai untuk menjaring kader potensial, dan diharapkan bisa menyuplai suara untuk pilpres dan pileg. Hal itu yang menjelaskan misalnya, kenapa kecil kemungkinan TGB diusung oleh Demokrat. Kalau jadi gubernur didukung. Kalau mau maju di pilpres, nanti dulu.

Partai di Indonesia, ditentukan lebih banyak oleh para pendiri atau penguasa partai. Megawati adalah penguasa PDIP. Prabowo punya otoritas atas Gerindra. Suara Demokrat adalah suara SBY. Mau dideret lagi? Nasdem ya Surya Paloh. PKB ya Cak Imin. Termasuk partai baru, misalnya Perindo, jelas penguasanya adalah Hary Tanoe.

Baca juga:  Rencana AHY Jadi Cawapres Prabowo, PA 212 Ngotot Pilih Salim Segaf atau Abdul Somad

Jadi secara realitas politik dan asas rasionalitas dalam berpolitik, sangat kecil kemungkinan Gatot Nurmantyo meramaikan bursa pilpres 2019. Kalau dia mau maju sebagai capres, salah satu cara terbaik tentu saja masuk ke dalam salah satu partai politik.

Gerindra terbuka jika Gatot Nurmantyo ingin bergabung. PKS juga. Bahkan Nasdem pun siap menerima. Rasanya dengan nama tenar Gatot dan pengalamannya sebagai Panglima TNI, semua partai siap menerimanya. Tentu dengan catatan tidak ujug-ujug masuk lalu mau jadi capres atau cawapres dari partai tersebut.

Setelah berkiprah, berkontribusi, dan masuk dalam jajaran tinggi partai, barulah kemudian bisa berlaga pada pilpres. Tentu saja pilpres 2024.

Kok lama? Ya memang. Sebab salah satu seni dalam berpolitik adalah mengelola jiwa kesabaran.