Bapak saya bukan orang hebat. Tapi kadang saya sering malu dengan dia, terutama setelah usia saya makin menua. Menjadi tua, itu bisa berarti makin berpikiran sederhana, makin menginjak bumi kenyataan. Sehingga kalau membuat perbandingan atau contoh, juga makin yang dekat diri kita. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

Dulu, saya kira, saya bisa hidup lebih berguna dibanding Bapak. Bagaimana tidak? Dari sisi pendidikan, setidaknya saya sarjana. Bapak saya memang pada akhirnya sarjana juga, tapi dilalui dengan cara yang sangat panjang. Dia lulus SPG, bekerja menjadi guru, setelah punya uang nyambi kuliah D-3, lalu terhenti lama untuk ngumpulin duit lagi, setelah dirasa cukup, baru kemudian lanjut kuliah sampai lulus sarjana. Sebagai gambaran, setahunan setelah saya lulus S-1, Bapak saya baru lulus sarjana.

Jabatannya juga tidak tinggi amat. Jabatan tertingginya adalah kepala guru sekecamatan. Kalah tinggi dibanding camat. Dibanding dengan “jabatan” saya, tentu jauh. Usia awal 20-an tahun, saya sudah memimpin sebuah organisasi mahasiswa se-Indonesia. Itu pun bukan organisasi “warisan” karena saya dan teman-teman membuatnya sendiri, dan sampai sekarang, organisasi itu masih eksis. Saya kira itu salah satu pencapaian saya yang paling keren, selain tentu saja saya sebelum usia 40 tahun telah menulis lebih dari 40 buku. Tapi lambat laun, pencapaian seperti itu tidak terlalu membanggakan juga, apalagi ketika usia saya mulai melewati 40 tahun. 

Bapak saya mendirikan organisasi keagamaan cukup di tingkat kecamatan. Dari sana, bersama segelintir temannya mereka mendirikan sebuah bank kecil yang sampai sekarang masih ada. Bank itu sudah tak terhitung membantu keuangan para pengusaha kelas gurem atau manusia biasa di kampung. Sekalipun tidak bisa diperbandingkan karena berbeda variabel, rasanya 40 lebih buku yang sudah saya tulis, tak ada apa-apanya dibanding bank kecil yang Bapak dirikan bersama teman-temannya. Setidaknya itu dibutuhkan di kampung. Saya juga makin terasa kecil di depan bapak saya yang orang kampung itu jika dijajar dengan bagaimana dia berkontribusi membuat tempat ibadah, sekolah, dan kerja-kerja sosial lain.

Saya tahu kalau saya tidak terlalu bisa mencontoh bapak saya. Karena saya percaya setiap orang punya zaman dan lingkungan sosialnya sendiri. Bapak saya juga bukan orang yang ingin dijadikan contoh. Sebab baginya, saya bisa hidup, punya keluarga, sepertinya dianggap sudah prestasi yang hebat. 

Tapi sejak dulu, diam-diam saya memang mengagumi Bapak, terutama dalam memandang dan menjalani hidup. Menjadi guru, misalnya, bagi bapak saya bukan sekadar profesi. Itu adalah bagian dari pengabdiannya pada hidup, masyarakat, dan negara. Mungkin itu hal yang aneh bagi saya, atau mungkin anak zaman sekarang. Profesi guru melekat padanya sepanjang hidup. Bukan semata dari jam kerjanya. Sore hari seusai kerja, dia harus mengadakan les di sekolahnya, dan tentu saja itu tidak dibayar. Semata sebagai ikhtiar agar anak didiknya lulus ujian akhir semua. Tentu saja itu dilakukan bukan hanya oleh Bapak. Sepanjang yang bisa saya ingat, itu dilakukan juga oleh guru saya dan guru-guru yang lain, termasuk almarhumah ibu saya yang juga berprofesi sebagai guru. Ketika malam hari, selain mengajar saya, Bapak dan Ibu juga mengajar siapa saja yang ingin menambah jam belajar. Kadang tetangga, kadang murid-murid mereka. Di aman itu, guru bisa didatangi kapan saja untuk diminta mengajari.

Ketika Bapak diangkat menjadi kepala sekolah SD, saya makin sering melihat bagaimana cara Bapak memandang dunianya. Dia bisa marah sekali pada anak-buahnya yang malas. Bagi dia, kemalasan itu bentuk dari alpanya tanggung jawab. Dia paling tidak bisa mengerti bagaimana ada orang digaji, menerima hak, tapi tidak menjalankan kewajiban. Atau kerjanya tidak sepadan dengan gaji yang diterima. Kadang saya tidak sepenuhnya setuju dengan caranya berpikir, walaupun saya mengerti argumennya. Sebagai contoh, dia tidak setuju misalnya jika ada guru yang nyambi jadi petani atau jadi tukang ojek. Karena baginya, jenis pekerjaan itu menyita tenaga sehingga bisa mengganggu tugas-tugas seorang guru. “Kalau dia capek, bagaimana bisa fokus mengajar? Belum nanti dia kebanyakan mikir hal lain yang tidak ada hubungannya dengan tanggung jawabnya sebagai pengajar,” kira-kira begitu pikiran Bapak. Namun itu hanya pandangan, karena Bapak tahu hal seperti itu tidak bisa dilarang.

Sementara saya berpikir, lha kalau memang duitnya kurang, ya wajib mencari uang yang halal. Mencari tambahan penghasilan. Setiap orang punya kebutuhan berbeda. Termasuk para guru yang nyambi bekerja. Dalam hal seperti itu, kami berdua tak ketemu pandangan. 

Pernah saya marah sekali dengan Bapak. Waktu itu saya masih kelas 1 atau kelas 2 SMP dan Bapak masih menjadi kepala sekolah di salah satu kampung di kecamatan tempat kami tinggal. Suatu sore, dua muridnya datang. Mereka mendapat kiriman wesel dari orang tua mereka yang bekerja di luar kota. Mereka butuh tanda tangan Bapak untuk mengambil wesel itu. Mereka datang dengan membawa ketela dan pisang. Bapak saya tentu memberi tanda tangan, tapi meminta barang-barang itu dibawa pulang lagi. Saya merasa tindakan Bapak berlebihan. Ketika mereka pulang, untuk pertama kalinya saya memprotes tindakan Bapak. Apa salahnya seorang anak atau murid membawakan oleh-oleh untuk gurunya? Apalagi oleh-oleh itu bukan sesuatu yang diada-adakan. Jelas itu diambil dari pekarangan atau kebun mereka sendiri.

Bapak saya menjawab dengan nada keras. Menandatangani wesel itu kewajibannya. Dan karena itu kewajiban maka tidak boleh diberi sesuatu sebagai penggantinya. Termasuk dia tidak berhak mendapatkan pisang dan ketela. Bagi saya itu alasan yang berlebihan. Itu bukan suap. Dan yang paling bikin saya tidak setuju adalah penolakan Bapak itu berpotensi menyakiti hati kedua muridnya. Semenjak itu, saya tahu, banyak hal yang membedakan kami. Misalnya, Bapak adalah orang yang sangat antiutang. Sementara saya orang yang realistis pada kehidupan saya. Kalau saya tidak berutang, bagaimana bisa saya punya rumah dan kendaraan? Jadi saya tahu persis bagaimana Bapak punya sepeda ontel, lalu punya sepeda motor, dan baru ketika sudah pensiun dia sanggup membeli mobil. Itu pun mobil seken. Itu pun dibeli dari hasil tabungan Bapak dan Ibu.

Tapi saya mesti berterima kasih kepada Bapak dalam soal menanamkan jiwa berorganisasi. Sejak kecil, kalau Bapak ada rapat, entah itu rapat guru, rapat pengurus masjid, rapat koperasi, rapat apa saja, saya selalu diajaknya. Dari situ saya tahu bagaimana cara memimpin rapat, menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Termasuk berbagi tugas, dan bertanggung jawab atas tugas yang telah dibagikan.

Bapak saya mungkin sedikit dari orang yang saya kenal yang tidak mengalami post power syndrome. Sementara teman-temannya mulai stres menjelang pensiun, Bapak malah terlihat bahagia. Namanya orang kerja, kata Bapak, ya pasti ada saatnya pensiun. Namanya orang hidup ya pasti akan mati. Segala sesuatu ada durasinya. Ada awal, ada akhir. Sementara kebanyakan orang ketika menjelang pensiun mulai tidak bergairah kerja, Bapak malah makin menggenjot performa kerjanya. Alasannya juga sederhana, masa pengabdiannya mau habis, maka kerja harus makin dioptimalkan sebagai penghargaan atas kesempatan berkarya dan bekerja. 

Sampai sekarang, tentu ada makin banyak hal yang saya tahu bahwa antara saya dengan Bapak punya banyak perbedaan cara pandang. Tapi saya menghormatinya. Selain menghormati karena dia adalah bapak saya, juga saya memahami bahwa dalam perbedaan pandangan itu, saya tak tahu persis mana sebetulnya yang benar. Bisa jadi dua cara pandang yang berbeda itu, sebetulnya sama-sama benar.

BACA JUGA Pesan dari Meja Makan dan esai-esai Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku.

Baca juga:  Anak Saya Suka Membaca, dan Itu Membuat Saya Waswas