Makan sebagai sebuah aktivitas primer manusia yang ada sejak manusia itu sendiri ada, tentu menjadi sebuah prosesi yang telah mengalami banyak sekali medan pemaknaan. Tentu saja seiring dengan konteks, dinamika zaman, dan progresi kultural manusia. Bahkan saya setuju jika ada adagium yang menyatakan bahwa “semua perang bermula dari urusan makan”, sampai adagium lain, “damai dimulai dari meja makan”. Tentu Anda masih ingat satu frasa yang kerap dipakai melukiskan bagaimana politik balas budi dengan meminjam kata makan, yakni “tidak ada makan siang yang gratis”.

Pesan, simbol, pemaknaan, dalam hal makan, saking purbanya prosesi itu, menjadikannya begitu variatif. Saya ambil contoh mudah. Kebanyakan di Jawa, jika Anda makan sambil berkecap atau berkecipak, dianggap melanggar aturan kesopanan. Tapi di luar Jawa, ekspresi makan dengan cara berkecipak, jika Anda tamu, justru menunjukkan rasa puas dan karena itu sering dianggap sebagai ekspresi rasa terimakasih. Terimakasih telah menghidangkan menu yang membuat saya kenyang dan puas, begitu kira-kira. Nah, dari situ coba bayangkan betapa mungkin terjadi “salah sangka” jika ada orang yang menganggap berkecipak ketika makan sebagai ekspresi puas—bahkan ungkapan terimakasih—ketika bertemu dengan orang yang memahami bahwa makan yang santun adalah dengan tenang tanpa suara….

Teman kecil saya, anak seorang pedagang di pasar, akan dimarahi habis-habisan oleh kedua orangtuanya jika menyisakan satu butir nasi saja di meja makan. Hal itu dianggap tindakan mubazir. Termasuk dianggap tidak menghormati susah-payah orangtua dalam mencari rezeki. Namun salah satu guru mengaji saya waktu kecil, mengajarkan untuk menyisakan sedikit nasi seusai makan. Karena menurut beliau, itu “jatah” buat ayam dan kucing. Kalau kita memakannya hingga tandas, berarti kita tidak menjadi bagian dari insan yang berbagi rezeki dengan makhluk lain. Mertua laki-laki saya lain lagi. Sebelum makan, beliau menyingkirkan sekepal makanan di pinggir piring, yang tidak akan ikut dimakan. Kepal nasi itu “dihadiahkan” kepada makhluk lain yang tidak kasatmata sebagai ekspresi berbagi rezeki juga. Terkait dengan hal itu, saya dulu cukup sering ikut acara minum arak bareng di Bali. Sebelum sloki diputar, sloki tersebut diisi penuh arak, lalu ditumpahkan. Itu untuk banten. Semacam sesaji untuk menghormati makhluk lain.

Baca juga:  Hindari Corona, Tetaplah Hidup Walau Tidak Berguna

Kalau kita mau teliti lebih detail, varian semacam itu akan semakin banyak. Seorang kawan saya diajari bapaknya, di sendok atau kepalan atau pulukan makan pertama, tidak memakai lauk. Hanya nasi putih saja. Itu semacam pesan bahwa dalam hidup ini, kita harus belajar dari yang tidak enak duluan. Mudahnya, berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ini ada kisah agak ganjil tapi benar-benar terjadi. Seorang sahabat saya menikah dengan orang berbeda suku. Di kampungnya, makan sambil minum itu hal biasa. Ketika usai menikah dan mesti tinggal beberapa bulan di rumah mertua, hal pertama yang dipelajari oleh kawan saya adalah jika kita minum padahal makanan belum habis, itu artinya kita memberi “kode” bahwa telah selesai makan. Walhasil, ketika sahabat saya minum air, sementara piringnya masih ada separuh porsi yang belum makan, mertua laki-lakinya segera ikut minum dan meninggalkan meja makan. Sementara mertua perempuannya segera membereskan piring dan lauk-pauk di atas meja. Setiap kali dia menceritakan hal itu, saya selalu tertawa ngakak. Bukan menertawakan kode sosial yang hidup di meja makan mertuanya, melainkan membayangkan akhirnya sahabat saya itu harus berjuang ekstrakeras untuk tidak minum selama prosesi makan. Dan saya tahu, itu tidak mudah baginya karena sudah menjadi kebiasaan.

Sebagai seorang peneliti yang cukup sering datang ke berbagai wilayah di Indonesia, saya mengalami cukup banyak hal terkait dengan makan. Saya sering dijamu tuan rumah atau narasumber saya dengan dihidangkan babi sebagai penghormatan. Padahal saya seorang muslim, dan sebagaimana lazimnya muslim, saya tidak makan. Tentu mereka tidak sedang mengerjai saya, tapi mungkin lupa bertanya agama saya apa. Saya juga pernah dijamu seporsi besar anjing di sebuah huma di pinggir hutan sebagai bagian dari penyambutan. Selesai makan, baru saya ditanya dari mana. Begitu saya jawab dari Jawa, dengan agak khawatir si tuan rumah bertanya agama saya. Tentu saja saya jawab: Islam. Mereka menjadi seperti bersalah, dan berucap kira-kira begini, “Waduh, maaf, Pak. Terus bagaimana dengan hidangan kami ini?” Saya cuma bisa tertawa sambil menjawab: Ya kan sudah habis, saya sudah selesai makan. Kami semua akhirnya tertawa. Suasana cair. Tak perlu diperpanjang.

Baca juga:  Berhati-hati dengan Sikap Fasistik Ngintelektual Zaman Now

Itu belum seberapa jika saya, misalnya, akan memasukkan unsur ikan dalam tulisan sederhana ini. Bagi nelayan wilayah tertentu, kepala ikan itu bagian yang paling penting, paling mahal, dan paling berharga. Sehingga kalau ada tamu, kepala ikan selalu disajikan untuk sang tamu. Sementara ada banyak masyarakat yang menganggap kepala ikan adalah bagian paling tidak berharga, untuk makanan kucing. Coba kalau orang yang berpaham semacam itu, lalu bertamu ke daerah yang menganggap kepala ikan sebagai bagian paling berharga dan karena itu disuguhkan kepada sang tamu….

Saya jadi teringat sesuatu. Di Rembang, kampung halaman saya, kepiting diharamkan oleh sebagian besar ulama di sana. Karena sejak kecil sudah diajari seperti itu, maka saya termasuk yang tidak makan kepiting. Tidak usah melompat ke pulau lain, di Pati yang berbatasan dengan Rembang, kepiting tidak dianggap haram oleh sebagian besar ulama di sana. Sehingga santri makan kepiting ya biasa saja. Sehingga Anda bisa membayangkan bagaimana jika seorang kiai dari Rembang bertandang ke Pati, apa yang terjadi? Itu pernah dikisahkan oleh Gus Baha’ di salah satu sesi kajiannya.

Sekarang saya ajak Anda untuk masuk ke meja makan sewaktu saya kecil. Bapak saya mengajari sejak kecil, kalau makan ambil porsi secukupnya, kalau kurang baru tambah. Dan tambahan makanan itu sebaiknya dilakukan sebelum makanan di piring saya habis. Kata Bapak, itu semacam “harapan” kelak rezeki saya ketika belum habis, akan ditambah oleh Gusti Allah. Bapak juga melarang keras saya menggunakan dua piring dalam sekali makan. Piring yang sama digunakan dari awal sampai akhir. Karena itu tradisi makan sup atau kuah dengan mangkuk yang berbeda, tidak ada dalam tradisi keluarga kami. Bapak menekankan itu karena jika saya memakai dua piring atau piring dan mangkuk untuk makan, maka itu akan membuat saya kelak akan lebih mudah poligami. Sementara Bapak termasuk penentang keras poligami. Karena beliau tidak menginginkan saya berpoligami, maka sejak kecil diajari dengan ketat soal itu. Tak boleh menggunakan dua piring atau piring dengan mangkuk. Selesai. Titik. Tidak ada perdebatan.

Baca juga:  Perseteruan Tiga Saudara Kandung: Yahudi – Kristen – Islam

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kali pertama saya makan di restoran dengan seluruh tata-krama yang biasa disebut table manner itu, dengan alat makan yang berbeda satu sama lain, dengan hidangan pembuka sampai penutup, yang ada di kepala saya waktu itu: saya berpoligami banyak sekali….

BACA JUGA Menu Ramadan di Meja Makan Komunis dan esai-esai Puthut EA lainnya.