MOJOK.CO – Sering kali, saya mendapat email atau pesan berisi pertanyaan tentang tarif saya (termasuk kru Mojok) untuk mengisi acara. Supaya pertanyaan ini tidak berulang, saya jawab di sini saja, ya.

Sebelum masuk ke soal tarif, saya akan memaparkan cara kebanyakan orang berkomunikasi terlebih dahulu. Beberapa orang bertanya dengan cara yang baik: mereka memaparkan acara apa yang akan dihelat, tanggal berapa, jam berapa, baru kemudian pertanyaan teknis tentang apakah saya bisa datang atau tidak, apa saja fasilitas yang harus mereka sediakan, dan akhirnya bertanya berapa tarif saya.

Namun, banyak orang tidak melakukan itu. Mereka langsung saja bertanya, misal: “Saya Maryam. Mau mengadakan acara. Berapa tarifmu?” Jenis pertanyaan seperti itu, dengan segala variannya, sering membuat saya tercenung. Dan, biasanya, tidak saya balas.

Kenapa? Karena saya tidak tahu harus menjawab apa dan saya tak tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang seperti itu.

Mudahnya begini. Saya seorang penulis. Menulis adalah profesi saya. Saya hidup dari profesi itu, mulai dari honorarium menulis, royalti buku, menjadi konsultan pembuatan buku, menjadi peneliti (yang itu artinya juga harus menulis), dll. Kalau kemudian saya menjadi pembicara, mengisi workshop atau memberi pelatihan menulis, itu hanya konsekuensi dari profesi saya.

Sudah lama saya tidak mau mengisi fora semacam di atas, kecuali dengan catatan tertentu. Misal, saya kenal dengan lembaga atau panitianya. Atau, secara pribadi, saya merasa pelatihan atau semacam itu, penting. Sudah tentu penilaian itu subjektif.

Baca juga:  Menguak Rahasia Tarif Ojek Pangkalan yang Terkenal Mahal

Kenapa saya jarang sekali mau? Pertama, saya sudah pernah amat sering mengisi pelatihan atau pembicara dengan tema penulisan. Mungkin sudah puluhan kali. Dan, dari sekian puluh itu, saya bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja: kenapa saya bisa menjadi penulis; bagaimana cara menulis agar tidak macet; bagaimana agar tidak kehabisan ide; bagaimana cara menerbitkan buku; apakah profesi menulis bisa untuk hidup; bagaimana cara membuat judul yang menarik; apakah karya fiksi saya berdasarkan kisah nyata atau tidak; dan semacamnya. Saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang benar-benar ingin menjadi penulis tidak akan menanyakan hal seperti itu. Itu pertanyaan yang aneh, dan makin aneh karena diulang terus-menerus. Membosankan sekali. Saya tidak suka dengan kebosanan. Bosan adalah musuh utama manusia kreatif, termasuk penulis.

Kedua, saya merasa sudah cukup tua. Usia saya sudah 41 tahun. Tahun depan, persis 20 tahun saya berkarya. Di bawah saya, ada banyak penulis hebat, para penulis muda yang lebih menjanjikan dibanding saya. Mereka bukan hanya berkarya lebih baik, tapi juga belajar lebih baik dibanding saya. Mereka juga lebih kreatif dan enerjik dibanding saya. Rasanya, mereka lebih pantas mengisi pelatihan, seminar, atau workshop penulisan dibanding saya.

Dengan begitu, sebaiknya kalau Anda mau bertanya soal tarif saya, lebih baik paparkan dulu acara apa yang hendak dihelat. Karena, bisa jadi, sejak awal saya tidak suka dengan acara itu sehingga mustahil saya mau datang. Atau, saya merasa acara itu penting, namun tidak tepat jika saya yang mengisi. Atau, saya menganggap acara itu penting dan saya ingin hadir.

Baca juga:  Ada Jalan yang Begitu Panjang Bernama Jalan Kaliurang

Setelah itu, beri tanggal acara. Saya orang yang sibuk, terutama sibuk mengurus anak. Bagi saya, anak adalah mahakarya Tuhan yang diamanahkan kepada saya sehingga saya harus konsentrasi menjaga amanah itu. Saya juga punya kesibukan lain, seperti bertanggung jawab pada media Mojok. Saya juga punya beberapa bisnis, yang sekalipun sudah dijalankan orang lain, saya kadang dimintai pendapat dan ikut rapat. Jangan lupa, saya, sebagaimana Anda, tetap meluangkan waktu untuk membaca dan belajar.

Barulah kemudian Anda tanya soal tarif… Soal tarif, ini jawaban saya:

Saya ini penulis. Karena saya penulis, rasanya tidak baik jika punya tarif menjadi pembicara atau pengisi materi soal penulisan. Tentu, penulis lain berhak punya tarif semacam itu sebab ada waktu yang harus mereka luangkan. Ada energi yang harus dikeluarkan. Itu sah.

Hanya saja, saya memilih tidak memasang tarif.

Tapi harap diingat, setiap acara punya batas etisnya. Misal: Anda memungut biaya pelatihan buat peserta, tentu Anda secara etis mestinya memberikan honorarium kepada pembicara atau pengisi materi. Atau, lembaga Anda mendapatkan dukungan dana dari lembaga tertentu, entah itu perusahaan atau lembaga donor. Kalau seperti itu, etikanya ya Anda harus berikan honorarium untuk pembicara atau pengisi materi.

Namun, tidak setiap hal urusannya dengan duit. Saya sangat sering datang ke acara pelatihan atau seminar, bahkan dengan biaya sendiri karena saya tahu forum tersebut penting dan tak ada dananya. Atau, panitia hanya menanggung biaya transportasi dan akomodasi.

Baca juga:  Cara Kru Mojok Merayakan Masuk Ranking Alexa 100 Besar

Kami juga punya etika di Mojok, ini kaitannya dengan berapa tarif kru Mojok jika harus mengisi acara semacam itu. Para kru Mojok digaji. Kalau Anda mengundang kru Mojok, maka secara etis kru Mojok tidak boleh punya tarif. Hanya saja, Anda boleh memberi honorarium sesuai dengan batas etis di atas yang telah saya paparkan. Yang jelas, Mojok tidak punya anggaran untuk membiayai kru-nya berpergian. Maka, setidaknya, Anda menyediakan transportasi, akomodasi, dan konsumsi mereka. Dan, karena kami punya jadwal ngantor, Anda tidak bisa menentukan siapa yang mesti mewakili Mojok. Semua kru Mojok adalah juru bicara media ini.

Sampai di sini saya kira cukup jelas, ya? Kalau Anda punya acara dan berniat mengundang saya atau kru Mojok sebagai pengisi acara atau pemateri, mulailah dengan cara yang wajar: kabarkan acara apa, tanggal berapa, kami bisa atau tidak. Cukup. Tidak perlu bertanya soal tarif.

Kalau Anda langsung bertanya berapa tarif saya, tidak akan saya jawab. Karena, saya tak tahu bagaimana harus menjawab jenis pertanyaan seperti itu.