Vixion R, Tamat Riwayatmu Kini: Ketika Motor Terbaik Yamaha Mati karena Perubahan Zaman

Vixion R, Motor Terbaik Yamaha yang Mati karena Zaman MOJOK.CO

Ilustrasi Vixion R, Motor Terbaik Yamaha yang Mati karena Zaman. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COTamatnya riwayat Vixion R bukan kisah kegagalan Yamaha. Ia adalah motor terbaik yang hanya kalah oleh zaman.

“Vixion R, riwayatmu kini telah habis. Bukan karena kamu motor buruk. Zaman memang sudah tidak lagi berpihak padamu.” 

Kalimat itu rasanya cukup adil untuk membuka kabar yang, mau tidak mau, akhirnya resmi juga datang. Sejak akhir Desember 2025 lalu, Yamaha memutuskan menghentikan penjualan Vixion R. 

Ini bukan isu liar, bukan juga gosip bengkel. Yamaha sudah membuat keputusan. Apakah berat? Bisa jadi. Kalau mengejutkan? Sejujurnya tidak juga. Saya sudah lama melihat tanda-tanda ini.

Vixion R sejak awal memang seperti motor yang hidup di persimpangan. Ia datang dengan spesifikasi yang bikin orang manggut-manggut. Namun, menurut saya, Yamaha memasarkan Vixion R di era yang pelan-pelan sudah tidak lagi bersahabat dengan motor sejenisnya. Di sinilah cerita itu mulai terasa getir. Motor ini punya kualitas. Tapi, dunia di sekelilingnya sudah berubah arah.

Vixion R adalah motor yang terlalu niat di dunia yang semakin santai

Kalau bicara spesifikasi, Vixion R jelas bukan motor main-main. Yamaha memasang mesin 155cc VVA milik R15 tanpa kompromi. 

Tenaga mesin ini termasuk yang paling besar di kelas sport naked 150. Sementara itu, Assist & slipper clutch juga sudah ada. Lalu, rangka deltabox tetap menjadi tulang punggung. Terakhir, Yamaha mempertahankan banana arm sebagai identitas visual yang sejak dulu bikin motor kelihatan “mahal”. Makanya, secara teknis, ini motor niat. Bahkan bisa dibilang, terlalu niat.

Masalahnya, pasar sepeda motor hari ini tidak lagi mengagungkan niat semacam itu. Mayoritas konsumen justru mencari motor yang tidak menuntut banyak hal. 

Mereka ingin kendaraan yang memudahkan hidup, bukan meminta perhatian ekstra. Dan Vixion R, dengan segala karakter sport-nya, jelas bukan motor yang santai diajak kompromi.

Ia ingin dikendarai dengan serius. Dipelajari. Dipahami. Sementara kebanyakan orang sekarang cuma ingin berangkat, sampai, dan pulang tanpa drama.

Ganteng, tapi tidak lagi jadi keunggulan

Dari sisi tampilan, Vixion R sebenarnya bukan motor jelek. Bahkan cenderung ganteng. Maskulin, rapi, dan terlihat dewasa. Ini motor yang kelihatan “motor beneran”, bukan aksesoris gaya hidup. Tapi justru di situlah problemnya.

Untuk zaman sekarang, ganteng ala motor sport konvensional tidak lagi otomatis menjadi nilai jual. Orang tidak hanya menilai dari kenyamanan saja, tapi seberapa relevan dengan keseharian dan gaya hidup pengguna. Misalnya, harus seksi di mata, cocok menjadi objek visual, dan mendukung aktivitas di media sosial.

Ya, Vixion R memang akan memberikan kenyamanan kalau kita mengajaknya untuk riding jauh. Ia stabil, nurut, dan menyenangkan. 

Namun, kalau sekadar untuk nongkrong atau properti konten, ia kalah mencolok. Vixion R tidak punya warna pastel, aura lucu, atau bisa menjadi visual gimmick yang mudah dijual lewat layar ponsel.

Baca halaman selanjutnya: Ketika zaman berubah.

Ketika Gen Z mengubah arah pasar

Hari ini, Gen Z yang menggerakkan pasar sepeda motor. Mereka generasi yang tumbuh dengan ritme hidup cepat, serba ringkas, dan serba praktis. Prioritas mereka jelas: irit, mudah dikendarai, tidak ribet, dan nyaman di semua kondisi. Motor matik tampil sebagai jawaban yang nyaris sempurna.

Motor matic menjawab semua kebutuhan itu dengan cara yang elegan. Tidak perlu kopling, bagasi luas, dan konsumsi BBM bersahabat. 

Mau memakainya untuk harian, macet-macetan, mau sekadar ke warung atau kantor, semuanya terasa masuk akal. Dan soal tampilan, motor matik sekarang bukan lagi motor “yang penting jalan”, tapi justru jadi etalase gaya hidup.

Lihat saja Fazzio dan Filano yang bermain di ranah retro-modern. Honda Scoopy dan Genio yang sejak awal memang lahir untuk anak muda urban. Lalu Vespa matik, yang bukan cuma alat transportasi tapi sudah menjelma menjadi simbol status. Para pabrikan menjual motor ini bukan cuma sebagai kendaraan, tapi sebagai identitas. 

Oleh sebab itu,, motor matik bukan lagi pilihan rasional semata, tapi pilihan emosional dan sosial. Vixion R menderita karena kondisi zaman.

Vixion R dan status sporty yang kehilangan habitat

Di hadapan realitas seperti itu, Vixion R otomatis berada di posisi sulit. Ia menawarkan sensasi berkendara saat pasar justru mencari kemudahan hidup. Vixion R meminta keterlibatan penuh, sementara mayoritas pengguna ingin serba instan. Ini bukan kesalahan Vixion R, tapi tanda bahwa habitatnya memang mulai menyempit.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Motor bertanki, terutama yang berkarakter sporty, memang sedang kehilangan tempat. Dulu, motor sport adalah simbol naik kelas. Sekarang, ia lebih sering jadi simbol idealisme. Orang membelinya karena suka, bukan karena perlu. Dan segmen idealis seperti ini, sayangnya, semakin kecil.

Bukan salah motornya, tapi salah zaman

Kita perlu menggarisbawahi bahwa berhentinya Vixion R bukan karena Yamaha gagal membuat motor bagus. Justru sebaliknya. Motor ini terlalu jujur dengan karakternya. Ia tidak berpura-pura praktis, tidak mencoba jadi motor matik, dan tidak ikut-ikutan tampil gaya demi pasar. Ia tetap menjadi motor sport sampai akhir hayatnya.

Yamaha jelas membaca arah angin. Mempertahankan Vixion R di tengah tren pasar yang terus menjauh hanya akan jadi beban. Secara bisnis, keputusan menghentikan penjualannya masuk akal. Secara emosional, tentu ada rasa kehilangan, terutama bagi mereka yang tumbuh bersama nama besar Vixion.

Tamat, tapi tidak pernah gagal

Tamatnya riwayat Vixion R bukan kisah kegagalan. Ini kisah tentang perubahan selera. Tentang bagaimana motor yang dulu jadi simbol prestise kini kalah oleh kebutuhan hidup yang lebih praktis. Dan di dunia yang semakin pragmatis, kejujuran karakter sering kali memang harus mengalah.

Vixion R sudah menjalani perannya dengan terhormat. Ia pernah jadi patokan dan idaman. Tidak semua motor harus berumur panjang. Ada yang cukup dikenang.

Kini, Vixion R mungkin hampir tidak lagi terpajang di showroom dan hanya menghabiskan sisa stok. Tapi ia akan tetap hidup di jalanan dan di ingatan para pemiliknya.

Penulis: Alan Kurniawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Yamaha Vixion: Motor yang Mudah Dicintai, tapi Mudah Juga Ditinggalkan dan catatan menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Exit mobile version