Dari Budak Logistik Menjadi Driver: Pengalaman Pertama Mengendarai BMW 318i

[MOJOK.CO] “Sebuah kebahagiaan yang meluap setelah sukses mencicipi mobil Eropa BMW 318i.”

Saya mengerti bahwasanya masa kuliah seharusnya dihabiskan dengan belajar, belajar, dan belajar. Namun, tentu tidak ada salahnya mengambil kesempatan menambah uang saku dengan bekerja biar bisa jajan kopi dan rokok.

Kalau saya sendiri memilih terlibat dalam proyek dosen jurusan, salah satunya pengujian zat aditif dalam kandungan bahan bakar bensin. Selain dapat duit, lewat proyek ini, saya memperoleh pengalaman pertama mengendarai mobil Eropa BMW 318i.

Perlu saya jelaskan sedikit perihal proyek pengujian zat aditif untuk bahan bakar ini.

Zat aditif adalah zat tambahan yang dicampurkan ke dalam bahan bakar untuk meningkatkan mutu bahan bakar dan performa mesin. Ada dua jenis zat aditif yang diuji dalam proyek ini, tentu saja saya tak tahu apa saja dua zat itu.

Prosedur pengujian mengacu pada standar ASTM (American Society for Testing and Materials), dilakukan menggunakan dua mobil BMW 318i yang harus menempuh jarak sekian ribu kilometer.

BMW Seri 3 (E30) ini sendiri dipasarkan pada kurun waktu 1986 hingga 1988. Mobil yang diproduksi di Munich, Jerman, ini dibekali mesin tipe M10 dengan konfigurasi 4 silinder segaris kapasitas 1.800 cc.

Untuk keperluan proyek, kami membeli BMW 318i bekas seharga 25 juta. Saya kurang paham kenapa mobil tersebut yang dipilih. Satu hal yang saya mengerti adalah bahwa pada saat itu, saya belum lancar menyetir mobil sehingga belum punya SIM A. Oleh karena itu, saya masuk ke dalam bagian yang tak bisa disepelekan dalam proyek karena berhubungan dengan kesejahteraan kondisi perut, yaitu “kru logistik”.

Seorang bocah yang bertugas mengambil bola di pinggir lapangan (ball boy), suatu hari pasti akan sehebat Lionel Messi yang ia bantu ambilkan bola. Seorang kru F1 yang bertugas mengganti ban, suatu hari pasti akan sehebat Louis Hamilton yang ia gantikan ban. Itu kepercayaan saya, yang celakanya sukses membuat saya merasa bahwa tugas sebagai kru logistik adalah tugas mulia.

Menghitung jumlah sisa bensin yang terpakai selama perjalanan, menyiapkan minuman berikut camilan untuk para driver yang akan berangkat, memeriksa kelengkapan peralatan dalam mobil, sekaligus memeriksa kondisi mobil adalah sekelumit kegiatan yang harus ditunaikan oleh kru logistik.

Ini belum termasuk beli makan malam untuk kru logistik lainnya yang siap siaga menanti mobil yang bisa saja datang tengah malam atau bahkan dini hari. Sungguh, bakal besar upah saya di surga.

Namanya manusia, pasti ada rasa bosan. Saya pun begitu.

Sejujurnya, saya masih teguh dengan kepercayaan soal ball boy dan kru F1 tadi. Namun, jujur saja, rasa sangsi ya jelas ada. Entah kapan saya bisa naik pangkat dari “budak logistik” menjadi driver.

Setelah perenungan dan meditasi yang panjang, saya menyimpulkan lompatan quantum harus dilakukan. Maka, suatu hari, saya menawarkan diri untuk menjadi orang ketiga dalam perjalanan pengujian mobil BMW 318i.

Untuk satu kali perjalanan, jumlah awak yang sudah ditetapkan adalah tiga orang, yakni dua orang sopir utama dan satu cadangan. Berkat kegigihan selama bekerja sebagai kru logistik, alhamdulillah, saya diizinkan oleh koordinator proyek untuk ikut salah satu perjalanan.

Lalu, tibalah hari perjalanan yang saya idam-idamkan itu. Rute kami adalah berangkat dari Bandung menuju ke Jakarta dengan melintasi tol Cipularang dan Cikampek, melintasi tol dalam kota, mengarungi tol Jakarta – Merak sebelum akhirnya berakhir di Merak. Setelah itu, kami pulang kembali ke arah Bandung. Perjalanan ini kami awali ketika malam hari.

Mengingat belum lancar nyetir dan tidak punya SIM, awalnya saya betul-betul hanya menjadi “orang ketiga”. Yang saya lakukan adalah mengamati cara kerja dua supir utama sembari ngampet ingin duduk di balik kemudi.

Beberapa waktu kemudian, tengah malam ketika kami masuk ruas tol dalam kota, setitik keberanian itu muncul.

Saya membujuk, merayu, dan merengek kepada teman seangkatan saya, yang kebetulan sudah menjadi supir utama malam itu, untuk bersedia memberikan kesempatan mengendarai BMW 318i itu. Saya mencoba meyakinkan bahwa saya sudah belajar nyetir dan sudah mahir mengendarai mobil pick-up Datsun tua yang ada di kampus.

Bagian yang tidak saya ceritakan adalah saat saya nyaris kecemplung ke selokan saat menjajal mobil Daihatsu Taft milik teman saya yang lain beberapa hari sebelumnya.

Teman saya nampaknya tergerak hatinya setelah menyimak mimik muka sedih dan ingus saya yang kadung dleweran waktu itu. Kesempatan itu akhirnya saya dapatkan. Bergetar dada ini.

Awalnya, saya sempat bingung saat menggunakan tuas lampu sein. Saat belok kanan, secara reflek, saya tekan tuas sebelah kanan yang ternyata malah mengaktifkan wiper. Saya baru tahu belakangan bahwa kedua tuas tersebut, tuas lampu sein dan wiper, memiliki posisi yang berkebalikan dengan konfigurasi di mobil-mobil pabrikan Jepang.

Namun, lama-kelamaan, saya terbiasa juga. Saya mulai menghayati nikmatnya berkendara di tol dalam kota Jakarta yang lengang saat tengah malam. Saya ingat betul bahwa saat itu belum ada Simpang Susun Semanggi yang katanya menyesatkan bagi orang-orang yang mudah bingung.

Beberapa saat kemudian, sebuah Lamborghini berwarna kuning menyalip mobil yang saya kendarai. Saya sempat tertegun saat mobil itu melesat kencang persis di sebelah saya. “Keren!” Batin saya dalam hati.

“Dien, bangun deh! Lihat, barusan mobil Lamborghini lewat. Keren banget! Kenceng!” Kata saya kepada teman yang sempat terlelap setelah kemudi saya ambil alih.

“Hah, masa?” Jawabnya sembari menguap malas lengkap dengan mata tertutup.

Tak berapa lama ia bangun dan melihat sekeliling.

“Oooh pantes aja Lamborghini-nya kenceng. Elu dari tadi nyetir pake gigi 3 terus,” kata teman saya itu spontan.

Rupanya, saya melakukan kesalahan fatal seorang supir amatir, yaitu lupa memindahkan gigi! Saya hanya bisa cengengesan malu. Tak hanya itu, saya juga melakukan kesalahan pemula lainnya, yakni terlalu fokus pada pandangan ke depan sehingga terkadang lupa cek spion kanan kiri dan belakang.

Padahal, prinsip berkendara itu mirip dengan filosofi kehidupan. Konsentrasi pada pandangan ke depan (masa yang akan datang) tapi juga sesekali belajar dari masa lalu dengan cara melongok ke belakang. Namun sesekali saja dan jangan keseringan, Wiro!

Saat pagi menjelang, jalanan mulai ramai oleh kendaraan. Saat itulah saya serahkan mandat mengemudi kembali pada teman saya.

Sampai proyek selesai, saya hanya ikut dua kali perjalanan pengujian saja. Yang pertama adalah yang barusan saya ceritakan, lalu yang kedua adalah saat mobil yang saya tumpangi mengalami masalah di bagian AC dalam kabin. Sebenarnya, perjalanan yang pertama pun tak luput dari masalah.

Sepulangnya dari Merak, saat mobil ini berusaha melahap beberapa tanjakan di tol Cipularang arah Bandung, knalpot malah copot dari dudukannya.

Kami sudah berusaha untuk menyambung kembali knalpot dengan saluran exhaust mesin, namun gagal. Akhirnya, kami putuskan untuk mengikat knalpot tersebut di samping mobil karena dimensinya yang tidak memungkinkan untuk diletakkan di dalam kabin.

Setelah mengevaluasi kedua perjalanan di mana saya ikut di dalamnya, koordinator proyek dengan senang hati meyakinkan saya untuk fokus saja sebagai “budak logistik”.

Saya terima keputusan ini dengan legowo meskipun saya tahu, mata tajam sang koordinator seperti tengah menuduh saya sebagai pembawa sial.

Tidak masalah. Toh uang hasil kerja sebagai kru logistik saat itu cukup untuk membeli sepatu Converse warna putih gading yang telah lama saya idam-idamkan, sepatu casual yang saya yakini akan tampil kece jika digunakan untuk kencan. Walaupun saat itu saya masih jomblo dengan masa depan yang terlihat suram.

Exit mobile version