Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Ilustrasi Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CORasanya sungguh unik dan mendebarkan. Mengendarai, lalu mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih.

Kejadian-kejadian unik terkadang lahir dari ketidakmampuan untuk berkata “tidak”. Apalagi ketika kejadian tersebut melibatkan Kepala Desa, Babinsa, Koperasi Merah Putih dan mobil pick up Mahindra Scorpio.

Sebagai seorang kader yang imut dan berbudi, saya selalu diserahi tugas pembacaan doa dalam pertemuan PKK. Itu tugas yang menyenangkan, tentu saja, karena saya merasa benar-benar payah dalam mengerjakan tugas yang lain.

Namun, Bu Kades punya pemikiran berbeda. Pada suatu siang yang berangin menjelang bubaran pertemuan PKK, Bu Kades menghampiri saya dengan langkah gegas. Beliau dibuntuti oleh seorang tentara yang tak pernah muncul pada pertemuan edisi mana pun.

“Saya tak menyangka, sampeyan ternyata seorang pengulas otomotif,” seloroh Bu Kades, dengan mimik heran. “Pak Babinsa bilang begitu. Beliau punya tugas buat sampeyan. Pastinya mau, kan?”

Pikiran saya macet seperti kambing yang diajari kalkulus. Apa lagi yang bisa saya lakukan, coba? Menjelaskan bahwa, secara definitif, saya bukanlah pengulas otomotif? Menuturkan kalau saya tak pernah punya kanal Youtube seperti Om Mobi dan Fitra Eri?

Keterdiaman saya dianggap sebagai persetujuan. Dengan senyum tulus dan lambaian tangan, Pak Babinsa mempersilakan saya dan Bu Kades untuk mengikutinya. Saat itu saya belum tahu akan diminta mengulas Mahindra Scorpio, mobil operasional Koperasi Merah Putih.

Sulit untuk berkata tidak

Ternyata Pak Babinsa mengajak kami ke Koperasi Merah Putih yang berjarak tiga puluhan meter dari balai desa. Koperasi Merah Putih itu belum beroperasi, sesuatu yang tak mengherankan bila kita mengingat bahwa calon manajernya masih belajar berbaris dan menembak di suatu tempat.

Namun, apa yang dibawa Pak Babinsa dari dalam gudang mengejutkan saya: sebuah mobil pick up. Dan bukan sembarang mobil. Ini adalah mobil pick up operasional Koperasi Merah Putih, dengan stiker nama koperasi dan pelbagai emblem di body-nya. Sebuah pick-up Mahindra Scorpio Single Cabin.

“Saya minta tolong Anda mengulas mobil ini. Untuk konten koperasi ini nanti. Mau kan, Mbak?” tanya Pak Babinsa.

Sulit untuk menolak suatu permintaan tolong yang tulus, terutama dari orang yang menyebut saya “Mbak” dan bukannya “Ibu”. Lagi pula, ini adalah kesempatan saya untuk menuntaskan pertanyaan yang terus membuat saya penasaran: 

Mengapa Mahindra Scorpio Single Cabin yang menjadi mobil operasional Koperasi Merah Putih? Mengapa bukan, misalnya, Isuzu Traga atau Suzuki New Carry?

Ukuran jumbo Mahindra Scorpio sebagai penegas citra

Satu hal yang langsung menyita perhatian adalah dimensi mobil ini yang lebih besar daripada mobil pick-up lain. Dari brosur yang saya unduh, saya mendapati ukurannya yang setara truk engkel: panjangnya 5,1 meter, lebarnya 1,8 meter, dan tingginya 1,9 meter.

Jika angka-angka itu sulit Anda konkretkan, maka bayangkanlah sebiji Innova Zenix. Generasi terbaru Kijang itu punya dimensi yang benar-benar besar, yang membuat Kijang Kapsul tampak seperti mobil berukuran normal dan Avanza RWD seperti mobil mainan. Mahindra Scorpio Single Cabin punya ukuran yang lebih besar lagi.

Aspek ukuran ini penting untuk ditekankan karena, bagaimanapun, ia adalah mobil operasional Koperasi Merah Putih. Proyek kolosal ini membutuhkan simbol yang menegaskan citranya, dan sungguh sulit membangun citra apabila mobil operasionalnya berupa, katakanlah, Daihatsu Gran Max.

Pak Babinsa menyerahkan kuncinya yang selebar kotak sabun, dan beliau mempersilakan Bu Kades duduk di kursi penumpang yang tak berkonfigurasi seperti lumrahnya mobil pick-up. Kursi Mahindra Scorpio cuma muat satu orang, sudah punya headrest yang layak, dan sandaran lengan.

Dengan penuh kesadaran, Pak Babinsa mendudukkan dirinya di bak belakang. Dan atas arahan bijak Bu Kades, melajulah kami berdua ke Gubuk Payung, tempat wisata di kecamatan tetangga yang berada di tengah hutan jati.

Fitur melimpah untuk kulakan Koperasi Merah Putih yang bergaya

Ruang kabin Mahindra Scorpio Single Cabin semakin membuktikan bahwa ia tak bisa disandingkan dengan mobil pick-up sejenis. Kualitas rancang-bangunnya solid, materialnya tak terkesan murahan, dan kelengkapan fiturnya mencengangkan sebagai mobil harian Koperasi Merah Putih.

Begini. Mobil pick-up biasanya mengutamakan durabilitas dan efisiensi, sesuatu yang, oleh pabrikan, diartikan sebagai “Mobil Miskin Fitur yang Kuat Diajak Bekerja Hingga Sehari Sebelum Kiamat”. 

Beberapa mobil pick-up tak punya AC atau sekadar airbag. L300 bahkan tak punya model baru sejak 4 dasawarsa.

Tapi, mobil pick up Mahindra Scorpio ada di semesta lain. Ia punya airbag, AC, dan speaker. Ia juga punya rem ABS, Electronic Brake-force Distribution (EBD), dan safety belt reminder. Ia bahkan punya, masyaallah, fitur cruise control!

Saya menoleh pada Bu Kades yang tak memahami ketakjuban saya. “Mobilnya kenapa, Mbak?” tanya beliau.

Ingin sekali saya memindahkan impresi yang saya alami pada Bu Kades tanpa melalui bahasa. Fitur cruise control memanglah fitur yang sudah jamak di mobil modern. Namun, keberadaan fitur ini di mobil pick-up kabin tunggal sama impresifnya dengan keberadaan Bill Gates di jalanan Magelang.

“Mobilnya terlalu bagus,” sahut saya, sembari membayangkan manajer Koperasi Merah Putih berseragam loreng dan berkaca mata hitam duduk bersila di belakang kemudi, membelah jalan tol demi kulakan barang di gudang Indomaret terdekat.

Mesin Mahindra Scorpio sangat bertenaga untuk berkendara santun

Dari beberapa aspek, karakter mesinnya terasa seperti Innova diesel. Ini mungkin karena kemiripan kapasitas mesin dan besaran output-nya. Mahindra Scorpio Single Cabin punya mesin sebesar 2200cc yang memuntahkan tenaga sebesar 140 hp dan torsi 320 Nm. 

Meski begitu, tetap ada perbedaan yang terasa pada rentang tenaganya. Mahindra Scorpio sangat cekatan di putaran bawah, sementara Innova diesel cocok ikut balap drag liar. Transmisi manual 6 percepatan miliknya memastikan ketercukupan tenaga di segala kebutuhan. Khususnya kulakan Koperasi Merah Putih with style.

Tenaga dan torsi mobil ini memang tak punya sesuatu yang spesial. Namun, bukan berarti mesinnya payah. Ia tetap andal mengangkut muatan sarat, bisa minum solar busuk layaknya mobil niaga sejati, dan konon relatif murah perawatannya.

Mesin Mahindra Scorpio Single Cabin hanya tak bisa kamu ajak pecicilan di jalan, dan ini bukanlah kekurangan. Lagi pula, setelah berbulan-bulan ditempa dalam metode yang sedemikian seriusnya, saya pikir tak ada manajer Koperasi Merah Putih yang cukup waras untuk melajukan mobil ini di jalan tol dan mengajak tanding cumi darat. 

Fitur kunci untuk berbagai kemungkinan lokasi

Tapi, bukan mesin yang menjadi nilai jual utama Mahindra Scorpio Single Cabin, melainkan tipe penggeraknya. Versi yang untuk operasional Koperasi Merah Putih ini berpenggerak 4×4, alias keempat rodanya bisa disuruh muter bareng.

Ini menjadikan mobil asal India tersebut sebagai mobil 4×4 dengan harga termurah di pasar Indonesia. Harga tertingginya ada di angka tiga ratus juta rupiah, lebih murah seratus juta ketimbang Toyota Hilux kabin tunggal 4×4 yang menjadi pesaing beratnya.

Saya menjajal mekanisme penggerak empat roda tersebut saat memasuki kawasan Gubuk Payung. Objek wisata ini sudah ada sejak era kolonialisme, dan mungkin pada saat itu pula ia mengalami renovasi yang terakhir. Sejauh bentangannya, hanya ada debu dan batu yang melapisi jalan.

Untuk mengaktifkan fitur penggerak empat roda, terdapat tombol putar serupa kenop kompor gas pada konsol tengah. Saya tak perlu memberhentikan laju mobil untuk berpindah ke mode 4H. Cukup berjalan pelan, putar kenop ke mode tersebut, angkat kaki sejenak dari pedal gas, lalu tunggu lampu indikatornya menyala.

Hasilnya, gejala oversteer alias ngepot gara-gara selip pada ban belakang bisa lenyap. Pada medan berdebu dan berkontur perbukitan, fitur 4×4 pada Mahindra Scorpio Single Cabin adalah fitur yang vital. Ia sangat berguna untuk mengurangi risiko petaka yang mungkin mengadang manajer Koperasi Merah Putih di jalan.

Kita tahu, manajer Koperasi Merah Putih tak butuh tambahan daftar masalah lagi.

Alasan pasti mengapa Mahindra Scorpio dipilih untuk Koperasi Merah Putih

Sembari menyendoki isi es campur dari satu-satunya kedai yang buka di Gubuk Payung siang itu, saya melamunkan jawaban atas dua pertanyaan ini.

Pertama, apakah Mahindra Scorpio Single Cabin adalah mobil yang bagus?

Jawabannya sudah pasti iya. Mobil ini memberikan sesuatu yang tak konsumen dapatkan dari mobil pick-up lain di rentang harga yang sama. Dimensi yang besar, fitur yang lengkap, mesin yang dapat diandalkan, dan mode penggerak empat roda yang memberikan ketenangan.

Tak ada mobil pick-up sekelas yang bisa memberi penawaran selengkap Mahindra Scorpio Single Cabin.

Kedua, mengapa Mahindra Scorpio Single Cabin yang dipilih sebagai mobil pick up kendaraan operasional Koperasi Merah Putih?

Jawaban dari pertanyaan tersebut tak memiliki korelasi dengan kualitas intrinsik mobilnya sendiri. Penggerak empat rodanya memang sesuai untuk beberapa lokasi Koperasi Merah Putih yang tampaknya ditentukan melalui metode lempar dadu. 

Ukuran bak belakang yang lebih kecil ketimbang pick-up lain juga pas betul dengan kemampuan finansial sebagian Koperasi Merah Putih dalam kulakan barang.

Namun, bukan itu semua yang menjadi alasan terpilihnya Mahindra Scorpio sebagai mobil operasional.

Saya memiliki satu dugaan. Hanya satu dugaan. Dan dugaan ini saya dapatkan dari simpulan berita. Juga dari pola-pola yang memiliki kemiripan. 

Bagaimanapun, setiap tindakan memiliki jejak, dan tiap jejak mempunyai pola.

Satu-satunya alasan pemilihan Mahindra Scorpio Single Cabin adalah ….

Ah, Pak Babinsa sudah mengajak pulang. Beliau menyerahkan dua bungkus es campur kepada saya disertai senyuman yang sungguh tulus. Saya tak sampai hati untuk mengatakan bahwa saya bukanlah pengulas yang tepat bagi mobil operasional Koperasi Merah Putih ini.

Dan di jalan pulang, saya kepikiran untuk menyerahkan tugas menyenangkan tersebut kepada Pandji Pragiwaksono saja.

Penulis: Mita Idhatul Khumaidah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Koperasi Merah Putih Diluncurkan di Jateng: Bikin Desa Tak Ketergantungan dan Kembangkan Potensi Desa dan analisis menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Exit mobile version