ADVERTISEMENT

Balada Honda Mobilio: Mobil bagus yang bernasib buruk

Balada Honda Mobilio: Mobil bagus yang bernasib buruk MOJOK.CO

MOJOK.CO – Honda Mobilio adalah mobil bagus dengan begitu banyak kekurangan. Lucunya, sekarang saya rindu kekurangan itu. Aneh.

Salah satu dampak perlambatan ekonomi masyarakat akhirnya menyambangi usaha kami. Orang-orang menjual mobilnya melebihi kemampuan kami dalam membelinya.

ADVERTISEMENT

Di dealer mungil kami, sudah terparkir dua buah Avanza, satu buah XL-7, dan sebiji Calya yang telah berpekan-pekan menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Agar situasi semakin pelik, malam itu Mas Bojo mengabari saya bahwa ada satu pendatang baru: Honda Mobilio.

“Kasihan pemiliknya, Adinda, buat beli beras,” ujar Mas Bojo, sebelum saya menunjukkan buku arus kas yang akan membuat akuntan berakal sehat mana saja bergidik ngeri. Sisa malam itu saya gunakan untuk menyadarkannya bahwa kami terancam tak bisa beras juga bila dia terus-terusan kulakan mobil berdasarkan rasa kasihan.

Berhubung ruangan dealer kami tak sanggup lagi menampung barang dagangan, Honda Mobilio itu terpaksa kami taruh di garasi rumah. Saya mendelik sebal tiap kali berpapasan dengannya, terutama ketika mengingat alasan pembeliannya yang di luar kaidah kapitalisme.

Tapi pada akhir pekan itu Mas Bojo memakai setelan yang biasa dia kenakan untuk menghadiri kondangan. Dia meminta saya berdandan juga sembari dia memanaskan mesin Honda Mobilio tersebut. Ketika saya sudah sedemikian menawan dan memasuki kabin yang beraroma jeruk Stella, saya bertanya mengenai pernikahan siapa yang hendak kami sambangi.

“Kita akan jalan-jalan ke kota sebelah, Adinda,” ujar Mas Bojo sambil menggosok cuping hidungnya yang tak gatal. “Mobil ini butuh perbaikan minor di bengkel resmi.”

Honda Mobilio panen cibiran

Kota sebelah yang dia maksud adalah Kudus, dan dua jam perjalanan ke sana saya gunakan untuk melakukan dua hal. Pertama, mendudukkan Mas Bojo di kursi penumpang dan membiarkan adrenalinnya membanjir. Dia pernah berkata bahwa saya punya bakat menonjol untuk menjadi sopir bus malam.

Kedua, duduk di kursi pengemudi memberi saya kesempatan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait mobil ini. Misalnya, apa yang membuat Honda Mobilio sedemikian laris di masa lalu?

Jawabannya tentu bukan karena kualitas rancang bangunnya yang jempolan. Sejak peluncuran perdananya pada tahun 2013 silam, LMPV (Low-Multi Purpose Vehicle) pertama Honda di Indonesia ini sudah panen cibiran akibat build quality yang menyedihkan. 

ADVERTISEMENT

Ini mungkin ada hubungannya dengan Honda Brio yang menjadi basis pembuatan Mobilio. Sebagai LCGC, Brio memang harus melakukan penghematan di pelbagai sektor demi menekan harga jual. 

Namun, kebangetan namanya kalau penghematan ala Brio, yang harganya saat itu di bawah 150 juta, Honda bawa ke Mobilio yang harganya hampir 100 juta lebih mahal.

Mobilio RS lansiran 2014 yang saya kemudikan ini bisa menjadi representasi yang bagus. Sebagai Honda Mobilio tipe tertinggi, ia memberikan petunjuk mengenai mobil terbaik macam apa yang bisa dikeluarkan oleh pabrikan yang terlalu banyak mendengar saran divisi keuangan.

Salam satu dashboard!

Dashboard Honda Mobilio ini sering menjadi sasaran ejekan karena kualitas plastik dan pemasangannya yang memang mengharukan. Saya menekan dashboard di bagian pengemudi dan mendapati suara-suara yang mengingatkan saya pada batok lampu Supra Bapak.

Meskipun desainnya tak ada masalah, bentuk dashboard Mobilio sama persis dengan Honda Brio dan BR-V seangkatannya. Dari situlah akun-akun pemengaruh dunia otomotif memperoleh inspirasi untuk menciptakan frasa “salam satu dashboard”. 

Kualitas peredaman suaranya juga mengerikan bahkan untuk standar mobil LMPV. Pada suatu waktu di masa lalu, saya menumpang Honda Mobilio teman yang sedang menembus hujan. Rinai air yang menghantam atap kabin menghasilkan kebisingan seolah-olah kami sedang menerjang badai.

Untung saja sekarang lagi musim El Nino. Tapi, ketiadaan hujan bukan berarti ketiadaan masalah. Pada kecepatan sedang, ban yang menggerus aspal menghasilkan deru yang masuk ke kabin. Dan saat diam di lampu merah, suara lingkungan sekitar cukup mudah untuk membangkitkan rasa senewen.

“Tidak bisakah kita pelan-pelan saja, Adinda?” tanya Mas Bojo sambil melirik cemas ke arah speedometer.

Sayangnya tidak. Sebab, saya baru saja menemukan keunggulan Honda Mobilio yang membuat konsumen rela menutup mata terhadap segala kekurangannya dan menjadikannya tulang punggung penjualan Honda di Indonesia selama bertahun-tahun.

Keunggulan Honda Mobilio yang menjadikannya tulang punggung penjualan

Konsumen kendaraan roda empat di Indonesia memiliki tuntutan baku yang mesti dipenuhi oleh suatu LMPV. Ia harus mampu menampung sekurang-kurangnya 7 orang. Ruang kabin dan bagasinya harus lega. Mesinnya harus irit dan tahan siksaan. Layanan purna-jualnya harus ciamik. Dan, harga jual kembalinya kalau bisa tetap tinggi.

Kita bisa memperdebatkan standar tinggi macam apa bagi harga jual kembali Honda Mobilio, tetapi mobil ini bisa memenuhi sisa tuntutan di atas dengan relatif sukses. Pada beberapa aspek, Mobilio malah kelewat antusias dalam memenuhi tuntutan tersebut.

Pada sektor daya tampung dan kelegaan ruang kabin, Mobilio jelas tak ada lawan. Ia bisa membawa 7 orang penumpang dewasa dengan layak, tak seperti LMPV lain yang mampu membawa jumlah orang yang sama dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Misalnya, dua orang yang duduk di baris ketiga haruslah anak-anak. Jikapun mereka orang dewasa, maka sebaiknya mereka punya tungkai kaki yang sangat pendek.

Sektor mesin juga menjadi pembeda Honda Mobilio dari LMPV lain. Honda tak puas dengan hanya membuat mesin yang irit; ia juga harus bertenaga. 118 tenaga kuda yang disalurkan ke roda depan membuat mobil ini sebagai salah satu LMPV bermesin paling bertenaga di kelasnya.

Ergonomi berkendaranya juga menjadi kelebihan mobil ini. Tak seperti Avanza RWD yang posisi mengemudinya mirip SUV, Mobilio menawarkan sensasi mengemudikan sedan. Jok yang rendah membuat kaki saya bisa selonjoran, dan saya tak bisa melihat ujung depan kap mesin. Pokoknya, mirip sedan, dan itu nikmat sekali.

Memang mobil khas Honda

Honda juga punya obsesi yang tak habis-habis dalam perkara karakteristik berkendara. Semua mobil keluaran Honda yang pernah saya jajal punya handling yang mantap, tak terkecuali Mobilio.

Setir Honda Mobilio itu responsif dan akurat. Hanya butuh sedikit putaran untuk menggerakkan rodanya, dan pergerakannya bisa kamu takar dengan baik. Pada kecepatan rendah, saya tak perlu memutar setir banyak-banyak untuk bermanuver. Dan pada kecepatan tinggi, saya merasa percaya diri untuk memacunya sekencang yang diizinkan kemampuan mesinnya.

Mobilio, pendek kata, memiliki semua hal yang dibutuhkan dari sebuah LMPV dan menggabungkannya dengan sensasi berkendara ala Honda.

Secara teoretis, itu seperti perpaduan tokcer untuk menguasai segmen pasar LMPV. Dan Honda Mobilio memang berhasil melakukannya selama beberapa tahun. Namun, apa yang membuat resep tersebut gagal menyelamatkannya dari putusan discontinued pada 2024 silam?

Tak ada penyebab tunggal yang bisa saya tuding, tentu saja. Tetapi, belokan sejarah itu bermula pada tahun 2017, tepat ketika Mitsubishi Xpander meluncur untuk kali pertama di pasar Indonesia.

Kedatangan rival yang mengubah permainan

Sebelum Xpander resmi meluncur, pasar LMPV dikangkangi duo Avanza-Xenia RWD, Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, Nissan Grand Livina, dan Wuling Cortez. Semua mobil tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi formulanya sama. Buatlah mobil 7 penumpang dengan mesin sebandel mungkin. Aspek lain boleh dipinggirkan.

Lalu, datanglah Mitsubishi. Kali terakhir pabrikan ini serius menggarap pasar LMPV terjadi bertahun-tahun silam, ketika Mitsubishi Kuda bersaing dengan nama-nama hewan lain seperti Kijang dan Panther. Dan kita tahu, Kuda tak bisa disebut sebagai pesaing yang sukses.

Maka, ketimbang kembali mengikuti kemauan pasar, direksi Mitsubishi berdiskusi serius dengan tim desain dan insinyur. Mereka bermufakat untuk menciptakan LMPV dengan memasukkan DNA SUV, segmen yang mengatrol jenama mereka ke jajaran top pabrikan dunia, sembari tetap mempertahankan semua esensi MPV.

Lahirlah Xpander. Pada 2017, mobil itu mengusung desain yang tak lumrah untuk sebuah LMPV yang semestinya konservatif. Tarikan garisnya tegas dari depan hingga belakang. Sisi yang biasanya menjadi tempat lampu utama kini dipakai oleh Daytime Running Light (DRL) bertipe LED, membuat klaster lampu utamanya bergeser ke bagian bumper. 

Ground clearance-nya membuat SUV macam Pajero Sport dan Fortuner merasa tersaingi. Dan, ia tetap mengakomodasi semua tuntutan konsumen terhadap sebuah LMPV klasik.

Hasilnya, Xpander bukan hanya berhasil mengubah peta persaingan pasar LMPV tanah air, melainkan juga mengubah selera konsumen terhadap sebuah LMPV.

Jika dulu konsumen menginginkan LMPV yang sekadar bisa memenuhi kebutuhan komuter keluarga, kini LMPV sebaiknya bisa membungkus kebutuhan tersebut dalam citarasa SUV.

Pabrikan lain segera merespons keinginan anyar konsumen dengan merombak ulang produk. Duo Rush-Terios, yang berada di segmen LSUV, mengubah desainnya agar bisa menyerempet ke segmen LMPV. 

Avanza-Xenia berubah secara radikal dengan membuang gardan dan menenggak steroid demi dimensi yang lebih besar. Suzuki melahirkan XL-7 yang berbagi banyak hal dengan All New Ertiga. Nissan memilih untuk membajak Xpander dan sekadar mengganti logonya agar bisa dinamai All New Livina.

Honda, sementara itu, tak melakukan apa pun

Pada tahun yang sama dengan kelahiran Xpander, Honda melakukan penyegaran pada Mobilio dengan cara, ya, mengganti tampilan depannya. Sudah, itu saja. Dua tahun kemudian, demi merespons penjualan yang semakin jeblok, Honda Mobilio kembali mendapat penyegaran dengan cara, ya, mengganti lagi tampilan depannya.

Menariknya, kedatangan Xpander tidak serta-merta membuat penjualan Mobilio ambruk. Pada tahun 2017, ketika Mitsubishi memperkenalkan jagoan barunya itu, Mobilio masih berhasil didistribusikan sebanyak 35.430 unit. Angka tersebut memang lebih rendah daripada tahun sebelumnya, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda kehancuran.

Barulah setahun kemudian, penjualan Honda Mobilio merosot sekitar 31% menjadi 24.373 unit. Pada 2019, angkanya kembali terpangkas menjadi 15.318 unit. Sejak saat itu, perjalanan Mobilio menuju liang kubur tampaknya tinggal menunggu waktu.

Sampai sekarang, saya tak sungguh mengerti alasan Honda tersebut. Mengapa BR-V yang diposisikan sebagai rival Xpander ketika mobil tersebut sebenarnya adalah LSUV seperti Rush? 

Mengapa Mobilio yang disuntik mati meskipun Honda berisiko tak memiliki wakil lagi di segmen pasar paling gemuk di Indonesia? Apakah ini semata perkara efisiensi produksi?

Saya tidak tahu jawaban semua pertanyaan itu. Yang saya tahu, perjalanan Mobilio telah tamat riwayat.

Biarlah Honda Mobilio menjadi kenangan

Honda Mobilio dagangan itu telah laku tiga pekan sebelum tulisan ini rampung. Sejauh ini, Mobilio adalah LMPV paling enak dikendarai menurut saya, dan ada sedikit penyesalan ketika Mas Bojo melepasnya ke tangan pembeli. Tapi, bagaimanapun kami butuh membeli beras.

Saya akan merindukan hal-hal pada Mobilio yang tak bisa disediakan LMPV kekinian. Sensasi menyetir ala sedan jelas akan susah saya temui di tengah gempuran tren LMPV bergaya SUV. Responsivitas berkendara ala Honda juga semakin sulit direplikasi oleh LMPV sejenis.

Saya juga merindukan segala kekurangan Honda Mobilio yang tadinya membuat saya senewen. Dashboard berkualitas buruk itu tiba-tiba tampak sekadar nyentrik di tengah kualitas dashboard mobil lain yang lebih layak. Peredamannya yang parah saya anggap sebagai fitur penghilang kantuk di perjalanan, bukan bug system yang mesti diperbaiki. Bodi setipis kaleng rengginangnya, yah, tetaplah bodi kaleng rengginang.

“Bagaimana kalau kita beli lagi mobil itu, Adinda?” tanya Mas Bojo ketika menyadari kegalauan saya.

Saya menggeleng mantap. Sesuatu akan tampak indah ketika telah menjadi kenangan, dan beberapa hal memang sebaiknya menjadi kenangan saja daripada memaksakan rendezvous yang tak sungguh diperlukan.

Lagipula, pada situasi ekonomi macam begini, beras lebih penting daripada sekadar mobil.

BACA JUGA Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering “Keseleo” dan artikel menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2026 oleh .

Mita Idhatul Khumaidah

Staf pengajar dan pelapak daring paruh waktu, ibu rumah tangga penuh waktu.