MOJOK.COAgar tak terkena bias stereotip tukang parkir Alfamart atau Indomaret itu jago kamuflase, saya pun menemui mereka. Bicara dari hati ke hati.

Mau di minimarket atau tempat mana pun, tukang parkir selalu jadi pembicaraan hangat, kalau nggak mau menyebut panas (baca: penuh rasa emosional). Di Jogja misal, karena banyak lokasi jadi destinasi wisata, ya tukang parkir wisata lah yang kerap jadi topik utamanya.

Sayangnya, ketimbang kontribusinya, obrolan soal tukang parkir ini kebanyakan mengarah ke citra negatif terus. Kayak nggak ada baik-baiknya.

Padahal secara fitrah udah jelas bahwa Tuhan selalu menciptakan yang baik di antara yang buruk. Ada “Yin” ada “Yang”. Ada hitam maka ada putih. Ada aku maka ada kamu, tapi kamunya malah sama yang lain. Eh.

Nah, citra buruk ini semakin tegas kalau udah ngomongin spesifik tukang parkir di Alfamart dan Indomaret. Citra yang muncul dari pandangan buruk para pembeli.

Banyak yang menganggap mereka cuma datang dan pergi begitu saja, semua ku terima asal ada uangnya. Alias cuma nongol kalau pas mintain uang parkir saja. Sebelum itu menghilang bak bunglon yang mimikri dengan konblok.

Kemampuan mereka menghilang dan tiba-tiba nongol bahkan ada yang bilang sebanding dengan kemampuan Snake, protagonis seri video game Metal Gear yang emang terkenal pinter ndelik alias sembunyi.

Agar tak terkena bias memandang dari sisi pembeli alias pengguna jasa parkir, saya pun menemui tukang parkir di dua minimarket tersebut. Tentu niatnya adalah karena diminta Redaktur Mojok demi memberi gambaran cover both side. Hehe.

Lantas meluncurlah saya ke daerah Jogja bagian selatan, tak jauh dari Jogokaryan. Adalah Ade, petugas parkir berusia 48 tahun yang sudah lama berkecimpung di jagad perparkiran Jogja.

Pada tahun 2017, beliau pernah menjadi petugas parkir di sebuah kafe di daerah Prawirotaman. Namun semenjak Covid-19, kafe tersebut sepi dan memaksa beliau pindah ke Alfamart semenjak bulan puasa lalu.

“Ya setelah kafe sepi, saya minta pekerjaan sama orang sekitar sini, Mas. Orang ormas lah yang emang biasa ngatur parkir sekitar sini. Nah, saya minta kerjaan sama dia, dikasih di sini. Ya tiap hari setor ke ormas itu sih, tergantung pendapatan tiap hari juga. Dikit-dikit 70 ribu sehari dapat lah.”

Ade menuturkan bahwa memang ormas tersebut juga memberikan semacam jaminan keamanan di daerah sekitar Alfamart tersebut.

Menanggapi tentang banyaknya pendapat miring soal tukang parkir Alfamart, Ade menjawab dengan sangat adem, se-adem lantai keramik Masjid UGM.

“Emang banyak orang, Mas, yang mikir gitu. Tapi kalau saya yang penting kerjaan halal dan pekerjaan saya kerjakan dengan maksimal. Kalau ada yang datang parkir ya saya nggak diem aja. Motor langsung saya tata biar nggak ngalangin pembeli lain. Kalau ada mobil datang juga saya arahkan. Ketika mau nyebrang juga saya bantu nyebrangin. Soal tarif, saya nggak mikir banget, Mas. Kalau ada yang mau ngasih ya Alhamdulillah, nggak ya nggak papa. Ikhlasin aja lah. Los ke wae.”

Selama empat bulan jaga parkir di Alfamart, Selatan Jogokaryan, Ade mengaku belum ada kejadian tentang komplain pelanggan. Malahan banyak pelanggan, beberapa bule misalnya, yang sering memberi uang lebih. Soal barang hilang, Ade punya cerita lumayan unik.

Baca juga:  Fanatisme Anak pada Kinder Joy Bisa Jadi Salah Orangtua, Bukan Alfamart

“Kalau barang hilang belum pernah ada kasus, Mas. Cuma pas bulan puasa lalu, ada motor Mio warna hijau terparkir di sini. Stang tidak terkunci. Saya tunggu seharian, nggak ada yang ngambil. Dua tiga hari saya tunggu juga nggak ada yang ngambil. Sampai sekarang itu motor masih belum ada yang ngambil dan masih saya amankan. Saya nggak lapor polisi dulu, Mas. Takutnya nanti yang nyari malah ribet ngurusinnya.”

Yak, dimohon kepada pemilik kendaraan Mio berwarna hijau yang diparkir di Alfamart jalan Parangtritis Selatan Jogokaryan untuk segera menghubungi Mas Ade atau kasir Alfamartnya. (Yak, Mojok malah jadi biro pengumuman barang hilang).

Tak jauh dari tempat Mas Ade, saya menemui Pak Budi, tukang parkir di Alfamart daerah Sewon, Bantul. Bapak berusia 55 tahun dengan dua anak ini mengaku sudah lama malang melintang di dunia perparkiran.

“Dulu pernah jaga di warung makan padang, pernah juga di Olive. Tapi ya paling enak di sini sih, Mas. Meski resikonya lebih besar karena di jalan utama Jogja.”

Berbeda dengan Mas Ade yang jadi tukang parkir dengan bantuan ormas, Pak Budi masuk melalui jalur paguyuban.

“Jadi ada Paguyuban Bangun Rukun, Mas, yang emang khusus jadi perkumpulan tukang parkir. Tapi ya ada juga kayak polisi, tentara yang gabung di situ, kerja sampingan jadi tukang parkir. Paguyuban nantinya menunjuk kita mau di tempatkan di mana,” kata Pak Budi.

“Kita juga ada kerja sama dengan Dishub, jadi bukan paguyuban parkir yang liar. Resmi. Tiap harinya kita juga setor ke paguyuban, tergantung apakah daerah kita termasuk kawasan sepi atau ramai. Kita juga nggak bisa sembarangan kerja. Ada pengawasnya yang kadang mantau kerjaan kita. Ada yang mantaunya pakai anaknya juga, misal disuruh belanja di sini, nanti dilihat kita beneran ngatur parkir nggak. Kalau kerjanya nggak bener ya bisa diberhentikan,” tambahnya.

Mendengar jawaban Pak Budi, mustahil tampaknya tukang parkir dari paguyuban tersebut bisa kerja asal-asalan seperti yang biasanya dikeluhkan netizen.

Dari pengamatan saya di lapangan, Pak Budi juga gercep tiap kali ada pembeli yang parkir, baik itu menata motor atau membantu menyeberang. Menanggapi soal pandangan buruk soal tukang parkir, jawaban Pak Budi nggak kalah adem dengan jawaban Mas Ade. Cima kali ini se-adem lantai Masjid Gede Kauman.

“Saya mah sabar aja, Mas, kalau ada yang ngatain gitu. Yang penting saya sudah bekerja maksimal membantu mereka yang beli di sini. Kalau nyebrang juga saya bantu. Motor juga saya jagain. Udah berkali-kali saya nemu motor ya kunci ditinggal, dompet dan hape ditinggal. Bayangin kalau nggak ada tukang parkir, kalau hilang gimana?” kata Pak Budi.

“Saya juga nggak mengharap banget uangnya kok, Mas. Kalau ada yang mau bayar ya silakan, nggak juga nggak papa. Banyak kok, misal mahasiswa gitu, pas lagi nggak punya uang, ya nggak bayar nggak apa-apa. Yang penting sabar dan ikhlas. Memang ada sih tukang parkir yang nggak bertanggung jawab, tapi nggak banyak kok, Mas,” tambahnya.

Atas dedikasinya, selama dua tahun menjadi tukang parkir di Alfamart tersebut, Pak Budi belum pernah mengalami kejadian barang hilang. Hanya saja jika ada barang hilang, menurut aturan paguyuban itu termasuk kelalaian tukang parkir. Maka tukang parkir wajib mengganti, namun tetap dibantu dari pihak paguyuban juga.

Baca juga:  Hierarki dalam Celana Dalam

Sudah dua tukang parkir Alfamart saya ulik kisahnya, tentu harus diimbangi dengan tukang parkir dari Indomaret. Berkelilinglah saya dari Bantul-Jogja-Sleman. Muter-muter berpuluh-puluh kilometer, mendatangi setiap gerai Indomaret yang ada. Bantul, nihil. Jogja, nihil.

Sleman yang jumlah Indomaretnya paling bejibun jadi harapan. Jalan-jalan utama yang sering jadi jujugan mahasiswa saya telusuri. Nihil juga.

Masuk ke daerah-daerah kampung agak metropolitan, nihil pula. Masih bersemangat mencari, nyatanya yang lebih mudah ditemui adalah baliho Pak Reno Lurah Condongcatur yang penuh ambisi.

Akhirnya saya memutuskan berhenti setelah lebih dari 20-an gerai didatangi. Baru kali ini saya frustasi gara-gara nggak ketemu tukang parkir Indomaret, padahal biasanya malah hepi.

Ya daripada pulang dengan tangan kosong, saya akhirnya wawancara papan tulisan “Parkir Gratis” yang ada di Indomaret daerah kota Jogja. Berikut petikan wawancaranya.

“Udah lama jadi papan tulisan ini?”

(Diem aja)

“Oke, kalau tiap hari kira-kira banyak nggak yang parkir di sini?”

(Diem lagi)

“Baiklah. Terus karena gratis, banyak nggak sih pembeli yang parkirnya ngawur dan justru malah bikin semrawut ? Atau malah pada tertib?”

(Angin berhembus kencang) KROMPYANGGG!! (papan jatuh).

Ya sudah karena papannya kayak ngambek saya hentikan wawancaranya.

Saya nggak tahu gimana kalau di daerah lain, cuma dari hasil pengamatan saya ini kalau di Jogja mayoritas Alfamart dan Indomaret memang sudah bebas tukang parkir. Dari 20-an gerai Indomaret saja nggak nemu dan dari 20-an gerai Alfamart cuma nemu dua yang kisahnya sudah dijabarkan di atas.

Entah karena memang saya yang lagi apes atau emang benar-benar nggak ada lagi tukang parkir di gerai minimarket-minimarket ini. Di satu sisi, menjadi realisasi yang nyata bahwa tulisan “parkir gratis” di setiap gerai itu benar adanya.

Namun di sisi lain, ketidakhadiran tukang parkir ini juga bikin ruwet, terutama di gerai yang berada di kawasan ramai. Akui sajalah bahwa kita seringkali tidak membekali diri dengan kemampuan mumpuni untuk parkir secara tertib, beradab dan berempati dengan pembeli lain yang parkir di situ.

Nyatanya kita sering cuma asal berhenti, mau ngalangin kendaraan lain atau enggak bodoamat, toh yang ada di pikiran kita “halah paling cuma lima menit”. Coba bayangkan semua pembeli yang datang mikirnya gitu. Lha yo ambyar, semrawut bin ribut, Lur.

Karena itu, tak elok rasanya kita memberikan penilaian mutlak buruk atas keberadaan tukang parkir. Hanya karena beberapa oknum saja yang kurang bagus kinerjanya, lantas kita menghujam pula mereka yang berdedikasi dan bertanggung jawab.

Malahan kita harusnya instrospeksi, jangan-jangan kalau kita tidak dilahirkan dari keluarga berada, yang punya akses dan kemampuan menyekolahkan kita sampai kuliah, kita juga bakal berakhir jadi tukang parkir Alfamart atau Indomaret?

Lalu diwawancarai buat ngisi rubrik Liputan Mojok kayak gini.

BACA JUGA Mendengar Aspirasi Kasir Indomaret dan Alfamart Si Tukang Refleks ‘Pulsanya Sekalian, Kaaak?’ atau tulisan rubrik LIPUTAN lainnya.